Banten Raya

Tindak Tegas Toko Penjual Obat Daftar G Ilegal

Redaktur: Syaripudin
Tindak Tegas Toko Penjual Obat Daftar G Ilegal - Banten Raya

Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Maraknya peredaran obat daftar G yang dikonsumsi pelajar di Kota Tangerang, membuat sejumlah pihak angkat bicara. LSM Tangerang Public Transparency Watch (Truth) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang merazia toko obat atau apotek yang menjual obat keras tersebut.

Bahkan, bila perlu mencabut izin toko obat atau apotek penjual obat daftar G itu. Tindakan itu guna melindungi terjerumusnya para pelajar menjadi pengguna obat keras yang dapat merusak jaringan saraf otak generasi muda tersebut.

Koordinator Divisi Advokasi dan Investigasi LSM Truth Jupry Nugroho mengatakan perlu tindakan tegas mengingat peredaran obat daftar G ini cukup meluas di kalangan pelajar. Bahkan transaksi obat itu, sangat bebas dilakukan sejumlah toko obat dan apotek di Kota Tangerang.

”Saatnya bertindak, harus segera ditindak tegas. Sanksi ini harus dilakukan pemkot, karena penjualan obat daftar G telah melanggar aturan kesehatan. Jika dibiarkan maka ke depan penyalahgunaan obat keras di kalangan pelajar akan makin marah,” ujarnya, Kamis (14/3/2019).

Menurut Jupry juga, penutupan toko obat atau apotek yang mengedarkan obat daftar G salah satu bentuk pencegahan. Guna menangkal efek buruk yang ditimbulkan penggunaan obat tak berizin tersebut. ”Kalau ditindak tegas, penjualan pasti menurun,” paparnya.

Jupry menegaskan, Pemkot Tangerang bisa menggunakan beberapa regulasi untuk menutup toko obat dan apotek nakal tersebut. Yakni Peraturan BPOM Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Sektor Obat dan Makanan, UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, serta UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

”Dengan aturan ini maka pengusaha toko obat dan apotek itu tidak bisa lari dari jeratan hukum. Jangan ini dibiarkan berlarut-larut," jelasnya. Selain itu juga, lanjut Jupry, institusi kepolisian dan BNNK ikut membantu memberantas peredaran obat keras tersebut. ”Memang butuh koordinasi lintas intansi,” cetusnya.

Sebelumnya BNNK Kota Tangerang menyebutkan pelajar di daerah itu marak mengkonsumsi obat daftar G. Penyalahgunaan obat-obatan ini dilakukan pelajar SMP dan SMA. Dari kajian itu, hampir 85 persen pelajar yang terlibat kasus kriminal dan tawuran karena mengkonsumsi obat keras tersebut.

Ada beberapa jenis obat daftar G yang gemar dikonsumsi para pelajar itu yakni tramadol, hexymer, dan alprazolam. Penyebab tingginya konsumsi obat keras ini karena harga yang terjangkau, serta akses yang mudah untuk membeli. 

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Liza Pupadewi mengataklan telah berkoordinasi dengan BPOM Banten untuk merazia penjualan obat keras tersebut. Dia juga mengaku akan melibatkan kepolisian dan BNNK guna menangkap pemilik toko obat dan apotek penjual obat daftar G  

tanpa resep dokter tersebut.

 

”Kami tidak diam. Kami akan segera lakukan razia. Tim lapangan tengah melakukan penelusuran wilayah mana saja obat daftar G itu marak dijual. Ini kan tak mudah karena peredarannya secara sembunyi-sembunyi," tuturnya.

Ditambahkan Liza juga, jika mereka mendapati toko obat dan apotek menjual obat keras secara ilegal maka tempat usaha itu akan ditutup. Selain itu juga pengelola dan pemilim usahanya akan dipidanakan. ”Kami akan awasi ketat peredaran obat daftar G ini,” paparnya. (cok)

 

Berita Terkait

Megapolitan / BNN Sita 200 Kg Sabu

Megapolitan / Ringkus Pengguna Narkoba di Rumah Kontrakan

Megapolitan / Modus Family Gathering, Pesta Narkoba Digerebek

Megapolitan / Jaringan Narkotika Abu Ditangkap 

Megapolitan / Pengedar Jaringan Internasional Ditangkap

Megapolitan / Pemilik Narkoba Lima Karung Sudah Dibekuk


Baca Juga !.