Megapolitan

Warga Burangkeng Siap Melawan

Redaktur: Syaripudin
Warga Burangkeng Siap Melawan - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi tak akan memenuhi tuntutan pemberian uang kompensasi dampak bau kepada warga yang tinggal di sekitar TPA Burangkeng, Kecamatan Setu. Penolakan pemberian kompensasi bau itu membuat pertemuan yang digelar warga dan Pemkab Bekasi pada Selasa (12/3/2019) buntu alias tidak menghasilkan kesepakatan.

Bahkan, ada upaya Pemkab Bekasi menggandeng aparat keamanan membuka paksa blokade akses pintu masuk ke TPA Burangkeng, lokasi pembuangan sampah milik Pemkab Bekasi yang ditutup paksa warga sejak sepuluh hari lalu. Tujuannya, agar truk-truk sampah dari seluruh Kabupaten Bekasi bisa membuang sampah ke TPA tersebut.

”Kita tidak akan memberikan kompensasi berbentuk uang kepada warga yang tinggal di sekitar TPA Burangkeng. Karena memang aturannya tidak diperbolehkan,” terang Suhup, Asisten Daerah (Asda) III Pemkab Bekasi, Kamis (14/3/2019).

Menurutnya juga, kompensasi sesuai aturan PP No 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga tidak diberikan secara tunai, melainkan berupa peningkatan fasilitas wilayah. Seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan sarana dan prasarana publik, dan peningkatan pelayanan kesehatan. ”TPA Burangkeng itu milik kita bersama,” cetusnya.

Suhup menjelaskan, pada perundingan kedua yang digelar Selasa (12/3/2019), warga Desa Burangkeng yang diwakili tim 17 yang menampung aspirasi warga dan kepala desa (kades) memilih walk out. Pasalnya, tuntutan kompensasi berbentuk uang ditolak. ”Kita tidak mau menabrak aturan terkait uang kompensasi bau,” cetusnya.

Suhup mencontohkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi yang tidak pernah memberikan uang kompensasi kepada warga yang tinggal di sekitar TPST Bantargebang. Alasannya, aset lahan TPA itu ada di wilayah Kota Bekasi. Beda, dengan Pemprov DKI Jakarta yang memberikan kompensasi uang lantaran terikat perjanjian goverment to goverment (G to G).

Suhup juga menegaskan, Pemkab Bekasi memberikan batas sampai Kamis (14/3/2019) agar warga membuka blokade akses masuk ke TPA Burangkeng. Bilamana lokasi TPA Burangkeng masih ditutup, dia mengancam akan mengerahkan aparat keamanan untuk membuka paksa akses masuk TPA Burangkeng pada Jumat (15/3/2019).

”Burangkeng ini, TPA resmi milik Pemkab Bekasi. Saya tidak ingin masalah ini berlarut-larut,” cetusnya lagi. Meski begitu, Suhup mengaku akan tetap mencari jalan persuasif guna menemukan kesepakatan tentang masalah TPA Burangkeng dengan warganya tersebut.

”Kami masih percaya kepada Camat Setu dan jajarannya bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Kami juga belum mengajukan surat permohonan bantuan pembukaan blokade TPA Burangkeng kepada aparat keamanan,” tandasnya juga.

Pantauan koran ini, hingga Kamis (14/3/2019), akses masuk ke lokasi TPA Burangkeng masih ditutup warga. Warga tetap melarang truk sampah masuk ke lokasi guna membuang muatan sebelum tuntutan dipenuhi. Untuk diketahui, dalam sehari volume sampah warga Kabupaten Bekasi mencapai 800 ton. Hingga kemarin, sudah 10 hari penutupan TPA Burangkeng berarti ada 8.000 ton sampah yang tercecer.

Ancaman Pemkab Bekasi yang akan membuka paksa blokade TPA Burangkeng tampaknya dianggap angin lalu warga. Seperti terlihat Kamis (14/3/2019) sore, warga masih memblokade akses masuk TPA tersebut. Warga menegaskan tidak akan membuka blokade bila pemerintah daerah (pemda) setempat belum memenuhi tuntutan. Salah satunya, pemberian uang kompensasi bau kepada warga sekitar.

Ketua Tim 17 Desa Burangkeng Ali Gunawan mengatakan, warga akan terus menutup TPA Burangkeng sebelum tuntutan dipenuhi. Sebagian warga juga terus mengawasi truk sampah yang berupaya menerobos blokade untuk membuang sampah di depan TPA tersebut. ”Sampai sekarang belum ada kesepakatan,” katanya.

Menurut dia juga, keinginan Pemkab Bekasi memberikan kompensasi berupa peningkatan infrastruktur di sekitar TPA Burangkeng sudah jadi kewajiban. Namun, tuntutan kompensasi berupa uang bau harus disetujui. ”Tuntutan warga soal uang bau. Kami menderita setiap hari mencium bau tak sedap sampah,” cetusnya. (dny)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / TPA Direvitalisasi, Numpang Buang Sampah ke Lahan DKI

Megapolitan / TPA Direvitalisasi, Numpang Buang Sampah ke Lahan DKI

Megapolitan / TPA Burangkeng Dibuka, 11.200 Ton Sampah Dibuang

Megapolitan / TPA Burangkeng Dibuka, 11.200 Ton Sampah Dibuang


Baca Juga !.