Daerah

Gagal Relokasi Korban Tanah Gerak

Redaktur:
Gagal Relokasi Korban Tanah Gerak - Daerah

OGAH PINDAH - Warga mencari barang-barang masih bisa dipakau di dalam rumah akibat aktivitas pergerakan tanah di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Jatim, Senin (11/3). ANTARA FOTO/Irfan Anshori/wsj.

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah kabupaten (Pemkab) Tulungagung, Jawa Timur (Jatim) mengakui telah gagal merelokasi 19 keluarga korban tanah gerak (likuifaksi) di desa Tanen. Akibatnya, setidaknya 10 rumah rusak berat dan lima lainnya rusak ringan.

”Bukan tidak ada solusi. Kami sudah menawarkan relokasi melalui program transmigrasi dari dinsosnaketransr, tetapi mereka memang tidak mau,” tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Tulungagung, Suroto di Tulungagung, Kamis (14/3/2019).

Paket solusi transmigrasi itu menurut dia, merupakan hasil rembugan antara pemkab Tulungagung, dalam hal ini BPBD dan Dinsosnakertrans, dengan kades Tanen dan camat Rejotangan. Tidak hanya diberangkatkan ke lokasi transmigrasi secara gratis, warga Tanen terdampak tanah gerak dan bersedia direlokasi juga akan diberi rumah layak huni, tanah garapan seluas dua hectare (ha), dan biaya hidup selama 1-2 tahun.

Namun, tawaran itu, kata Suroto, ditolak mentah-mentah oleh warga korban tanah gerak. Sebaliknya mereka yang rumahnya mengalami kerusakan parah saat itu, memilih mengungsi ke rumah saudaranya, di kampung yang sama. ”Jadi, bukan tidak ada solusi. Mereka sendiri memilih untuk mengungsi ke rumah keluarganya,” ulas Suroto.

Ia menolak pemkab daerah dinilai lalai. Kendati pergerakan tanah kembali terjadi dan menyebabkan lima rumah rusak berat yang tidak bisa dihuni lagi, lima lainnya rusak berat namun masih dihuni, dan lima lainnya terdampak ringan namun berisiko semakin parah seiring pergerakan tanah masih akan terus terjadi. ”Kalau sampai rumah terdampak ini rusak berat dan tidak bisa ditempati. Tenda pengungsian untuk penampungan sementara sudah kami siapkan. Bahkan pekarangan dan rumah kades Tanen yang kosong boleh digunakan sementara. Tetapi mereka tidak mau. Sama anak-anak dan keluarganya tidak boleh, memilih tinggal di rumah sanak saudaranya yang aman (tidak terdampak),” katanya.

Kasus tanah gerak di desa Tanen itu sudah terjadi sejak 2011. Terus terjadi saat turun hujan deras. Hasil penelitian tim geologi Dinas ESDM Jatim menyatakan struktur lapisan tanah di bawah pemukiman yang mengalami kerusakan parah di dusun Purwodadi Kidul, desa Tanen merupakan jenis tanah kaolin. Dalam ilmu geologi, kaolin merupakan jenis bahan tambah berupa tanah liat yang biasa digunakan untuk bahan baku material bangunan genteng, bata merah dan sejenisnya. ”Tanah jenis ini cirinya kalau kena air (curah air hujan) dengan intensitas tinggi akan bergerak dan bisa memicu longsor,” imbuhnya.

Saat awal terjadi kasus tanah gerak pada 2011, kata dia, warga yang menghuni di atasnya sudah pindah. Bekas bangunan yang tinggal rangka juga masih ada jejaknya. Namun, seiring waktu, warga kembali menempati area tersebut hingga berdiri belasan bangunan. Pada 2015 pergerakan tanah kembali terjadi dan menyebabkan beberapa rumah retak. Tim geologi Dinas ESDM kemudian turun lokasi untuk melakukan penelitian. Hasilnya, area tersebut tidak direkomendasikan untuk ditinggali.

Namun, warga tetap enggan untuk pindah ataupun direlokasi. Sampai akhirnya pada 2018 kasus pergerakan tanah kembali terjadi dan memperparah dampak kerusakan di lokasi yang sama. Terakhir kondisi tanah gerak memburuk sepekan lalu seiring hujan dengan curah tinggi selama beberapa jam sehingga tanah di area yang sama bergerak lagi dan menyebabkan beberapa rumah ambruk. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.