Headline

Empati Atasi Problem Manusiawi

Redaktur: Juni Armanto
Empati Atasi Problem Manusiawi - Headline

PRIHATIN - Sejumlah pelajar SDN Mulyorejo 05 belajar di ruang kelas yang rusak di Desa Mulyorejo, Silo, Jember, Jawa Timur, Rabu (27/2) lalu. (Foto bawah) Anakanak Papua sedang mengikuti pelajaran di tempat penampungan sementara di Wamena, Selasa (12/2/2019) lalu. Foto : Seno/ANTARA & STR/AFP

INDOPOS.CO.ID - Argumentasi dua kandidat yang bertarung pada Pemilihan Presiden 2019 akan kembali diuji di hadapan publik. Besok, akan dijadwalkan debat ketiga yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta. Bedanya, pada silat lidah kali ini, yang dipertemukan para calon wakil presiden. Ma’aruf Amin dengan Sandiaga Uno akan saling berhadapan untuk adu gagasan.

Tema debat cawapres ini ihwal pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. Isu yang begitu dekat dengan masyarakat akan semakin menarik dibahas mengingat kedua cawapres berasal dari latar belakang berbeda.

Ma’aruf Amin yang berasal dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku santai. Pria 76 tahun itu menjelaskan, dirinya tidak melakukan persiapan khusus pada debat besok. Tidak ada jurus spesial yang dipersiapkannya. ”Wah, nggak usah pakai jurus lah. Kayak silat saja. Seperti biasanya, saya terus jalan saja. Ngobrol sedikit. Baca sedikit,” ucap Ma’ruf di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Dirinya juga tidak mempermasalahkan waktu singkat yang diberikan KPU dalam memberikan jawaban. Profesor yang telah menerbitkan dua buah buku itu mengaku, saat ini hanya fokus untuk belajar soal tema yang didebatkan. ”Ya melatih diri saja. Supaya, saya kan biasa bicara panjang. Nah, sekarang debat kan pakai menit-menit. Saya harus belajar bermenit-menit itu,” ucap dia.

Sebagai pendamping Joko Widodo, tidak ada pesan khusus yang disampaikan kepadanya sebelum menghadapi Sandiaga Uno. ”Ya Pak Jokowi sih nggak pesan apa-apa. Pokoknya ya supaya, apa, dipelajari, diperhatikan, apa yang jadi kebijakan-kebijakan pemerintah, itu saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Cawapres dari kubu 02, Sandiaga Uno mengaku lebih siap menghadapi debat kali ini. Bahkan, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang hanya seumur jagung itu berjanji tidak akan tampil menyerang dalam setiap jawaban yang dilontarkannya. Dia hanya fokus dalam memaparkan ide dan gagasan yang disorongnya bersama Prabowo Subianto sebagai capres yang didampinginya.

Pria kelahiran Kota Tanggerang, Banten 28 Juni 1969 itu menjelaskan, alasan dirinya tak akan tampil menyerang pada debat karena sungkan terhadap sosok Ma’ruf Amin yang sudah dianggap menjadi seniornya. ”Saya dididik agar sepanjang hidup sungkan sama yang senior dan berlaku hormat saya akan tampil apa adanya,” tuturnya.

Lulusan Universitas George Washington untuk gelar Master Bisnis Administrasi (M.B.A) itu mengutarakan tak mempunyai persiapan khusus apabila mendapatkan serangan. Ia lebih menyerahkan terhadap masyarakat yang memberikan nilai saat debat ketiga. ”Silakan saja, biar masyarakat yang menilai,” beber Sandi.

Sama-Sama Percaya

Kedua tim pemenangan kedua kubu, mengaku cawapresnya memiliki kelebihan dan kekurangan yang mampu dimaksimalkan dalam debat. Tim Kampanye Nasional (TKN) yang mengusung pasangan calon nomor urut 01, meyakini Ma'ruf Amin lebih unggul dari rivalnya dengan menggunakan dalil.   

Wakil Sekretaris TKN pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani menyatakan, Ma’ruf Amin akan menyelipkan ayat-ayat Alquran (dalil) untuk melengkapi pernyataannya.

Cawapres nomor urut 01 itu akan menggunakan ayat Alquran secara kondisional berdasarkan pertanyaan yang diajukan moderator. ”Ya tentu, tidak tertutup kemungkinan ya itu ada (menyelipkan ayat Alquran, Red) kan. Nanti lihat situasi debatnya dan pertanyaannya juga kan, tidak bisa kemudian itu direncanakan dari awal,” kata Arsul saat dihubungi, kemarin.

Salah satu persiapan Ma'ruf, sambung Arsul, adalah rutin berdiskusi dengan para ahli untuk mendapat berbagai masukan materi seputar tema debat. Namun, dirinya enggan membeberkan siapa saja sosok tim ahli debat Ma'ruf.

Tak hanya itu, Arsul menyatakan, Ma'ruf sudah melakukan simulasi terkait manajemen waktu bicara dalam debat. Ma'ruf sendiri masih kesulitan untuk mengatur waktu bicara yang dibatasi saat debat nanti.

”Jadi bukan soal mengajari Pak Ma'ruf berdebat. Karena kalau soal debat beliau dari mudanya kan ada di lingkungan NU, itu kan terbiasa berdebat. Tetapi karena debat ini diatur oleh aturan-aturan tertentu ya," imbuhnya.

Selain itu, Arsul menyatakan Ma'ruf telah menyiapkan berbagai amunisi jawaban bila diserang oleh Sandiaga mengenai persoalan defisit BPJS Kesehatan. Selain itu, salah satu materi yang akan dibahas Ma'ruf dalam debat adalah, isu pendidikan yang berbasis keagamaan.

Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Aria Bima menyebut, Ma'ruf akan mempertahankan karakternya sebagai kyai saat debat cawapres. "Sekarang ya tausiyah ya, tetap karakter seorang kyai memberikan tausiyah. Tapi substansinya adalah konten-konten yang menjadi isi dari tausiyahnya,” ujarnya.

Rasa optimistis juga disampaikan oleh  Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Juru Bicara BPN, Rahayu Saraswati mengatakan, bahwa cawapres kandidatnya akan memaparkan secara lengkap semua tema yang dibahas. Sama seperti Ma’aruf Amin, pria yang beprofesi sebagai pengusaha itu telah bertemu dengan sejumlah pakar untuk mendapat saran dan masukan. ”Saya rasa semua isu akan dipaparkan oleh Bang Sandi. Tergantung dari pertanyaan yang akan dilontarkan," ujar politikus perempuan dari Partai Gerindra itu.

Menurutnya semua tema yang terkait ketenagakerjaan, pendidikan, sosial dan budaya tentu menjadi prioritas cawapres yang didukungnya. Terlebih saat kampanye hal tersebut konsisten disampaikan Sandi kepada masyatakat. ”Sebenarnya semua program kita sudah ada kok di visi misi dan buku indonesia menang. Untuk ketenagakerjaan kan kita mau membawa program OK-OCE ke seluruh indonesia,” jelas anggota DPR Komisi VIII itu.

Untuk tema pendidikan, timnya berusaha untuk meningkatkan kualitas guru, memperbaiki sistem pendidikan. Meningkatkan kesejahteraan guru, dan memperbaiki sistem manajemen. Selain itu memperhatikan nasib guru honorer. ”Untuk pendidikan kita jauh dari baik,” ungkapnya.

Anggota Tim Ekonomi, Penelitian BPN, Harryadin Mahardika menuturkan, persiapan juga terus dilakukan oleh Sandi. Sama seperti yang disampaikan Rahayu, isu ketenagakerjaan akan menjadi fokus khusus yang disampaikan dalam debat.  ”Nanti akan ada program inovatif untuk menyiapkan generasi Indonesia siap bekerja. Kita menyiapkan supaya yang belum bekerja dipercepat untuk masuk ke lapangan pekerjaan,” tambahnya.

Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada kesulitan atau kendala apapun. Meski dalam sebelumnya BPN mengkritik mekanisme debatnya kurang menarik. Tentu debat ketiga nanti Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa memperbaikinya.  "Mungkin kalau Bang Sandi lebih suka bicara teknis. Tidak ada kesulitan," katanya.

Sandi, kata Harryadin Mahardika dalam debat nanti akan melihat terlebih dahulu gaya Ma'ruf Amin dan akan menghormatinya. Gaya adab berdebatnya akan lebih santun.

Ada Banyak Masalah

Seluruh isu yang dibahas dalam debat ini akan menjadi tolok ukur masyarakat dalam program yang diusung kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Terlebih, tema besar yang dibahas menyangkut hidup orang banyak.

Pakar Pendidikan, Weilin Han meminta kedua cawapres harus fokus pada topik kurikulum di Indonesia yang minim kajian dan evaluasi. ”Kurikulum pendidikan kita harus disiapkan secara matang dan tidak buru-buru diterapkan karena keputusan politik,” kata Weilen saat dikonfirmasi, Jumat (15/3/2019)

Weilen mengatakan Indonesia sering menerapkan kurikulum baru dengan buru-buru. Padahal, di negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat, perubahan kurikulum umumnya melalui riset bertahun-tahun.

Pelaksanaan kurikulum baru pun seharusnya tak dijalankan sekadar untuk memenuhi unsur anggaran. Lebih lanjut, Weilen meminta pemerintah mendatang lebih berfokus mengevaluasi kurikulum lama sebelum membahas kurikulum baru. ”Kurikulum ini harus dipersiapkan secara matang. Ketika menyiapkan kurikulum, artinya tanyakan ke kabinet, memangnya sudah ada evaluasi benar mengenai kurikulum yang sebelumnya?” tanyanya.

Selain kurikulum, Weilen menyarankan kedua cawapres merembuk adanya pendampingan untuk guru. Ia memandang guru perlu memperoleh pendampingan yang sifatnya psikologis. Misalnya, pemerintah harus menyediakan ruang konseling sebagai wadah para guru untuk berkonsultasi terhadap tekanan yang sedang dihadapi. Hal ini bertujuan untuk memanusiakan para pekerja di bidang pendidikan.

”Jadi orang-orang yang di birokrasi harus berempati. Siapa pun pengambil kebijakan yang menang, eksekutif dan legislatif harus memanusiakan guru,” ujar Weilen.

Selain itu, Kepala Humas Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, M Iqbal Anas Ma'ruf berharap pada debat tersebut bisa mendapatkan solusi masalah program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

”Harapannya dengan tema kesehatan yang menjadi bahan debat besok bisa mendapatkan solusi yang paling bermanfaat. Agar program JKN-KIS ini tidak terus-menerus. Harus ada perbaikan,” katanya.

Terlebih, dia melanjutkan, jaminan kesehatan nasional merupakan amanah konstitusi. Jadi, pihaknya meminta siapapun yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden nantinya tentu wajib untuk memberikan perhatian lebih untuk program ini. ”Apalagi program ini mengurusi kebutuhan mendasar dari seluruh warga negara,” ujarnya.

Pihaknya sebagai bagian dari warga negara berharap banyak hal yang harus dilakukan terhadap program ini karena masalah JKN-KIS tidak bisa diselesaikan satu pihak saja.

Kemudian, dari sisi pengamat ekonomi Eko Listiyanto memperkirakan isu-isu ketenagakerjaan akan meramaikan debat. ”Kemungkinan besar, soal tenaga kerja dari sisi cawapres nomor urut 01 akan lebih banyak menyampaikan capaian-capaian, seperti target 10 juta lapangan kerja. Serta prestasi yang bisa dibanggakan,” ujarnya.

Sebaliknya, cawapres nomor urut 02 akan masuk mengenai kesempatan kerja dan lowongan kerja yang minim akan menjadi kritik yang harus diantisipasi. Data jumlah tambahan pekerja akan menjadi isu pembahasan lainnya terkait ketenagakerjaan, yang meramaikan debat ketiga tersebut.

”Sebetulnya, kalau saya melihat konsep kedua cawapres ini secara umum saling melengkapi. Karena yang satu menawarkan wacana mengenai kartu pra-kerja dan lain-lain yang sebetulnya merupakan kebijakan-kebijakan sisi suplai. Sedangkan sisi permintaanya yang dibutuhkan itu kurang dieksplorasi. Saya rasa dari cawapres 02 akan masuk dari upaya-upaya untuk bisa menciptakan lapangan kerja,” tutur dia.

Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengingatkan, para calon wakil presiden untuk mengangkat isu perempuan dalam debat ketiga. Sebab, tingkat partisipasi perempuan dalam pemilu cukup tinggi.

”Partisipasi mereka tinggi dan menurut saya perempuan juga lah yang nanti akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Artinya menurut saya, kandidat harus mengangkat isu perempuan,” ujar Arya.

Arya mengatakan tingkat partisipasi perempuan pada pemilu-pemilu sebelumnya sebanyak 75 persen. sedangkan laki-laki 71 persen. Arya menyayangkan kandidat presiden dan wakil presiden belum memaksimalkan isu ini dalam dua debat terakhir.

Dalam debat ketiga ini, cawapres memiliki kesempatan untuk mengangkat isu terkait perempuan. Dalam tema kesehatan, isu yang bisa diangkat oleh cawapres misalnya soal kesehatan reproduksi perempuan atau keselamatan kelahiran ibu dan anak.

”Kalau nanti ada kandidat yang bicara dalam debat tentang isu perempuan, dia akan mendapatkan atensi. Dan perempuan juga harus tagih kepada kandidat ini. Apa yang mereka perjuangkan untuk para ibu ini,” pungkasnya. (aen/zbs/dan/jaa)

Berita Terkait

Headline / Tembakan Dilontarkan Polisi Terus Menerus

Headline / Massa Lempari Polisi dengan Batu

Politik / IPPNU Imbau Pelajar dan Santri Jaga Persatuan

Politik / AMMI Minta Pihak yang Belum Menang Pilpres untuk Legowo

Headline / Jokowi-Ma'ruf Bisa Mulus Pimpin RI, Jika Ini yang Terjadi...


Baca Juga !.