Internasional

Di Amerika, Menjadi Dokter Dapat Berakibat Fatal

Redaktur: Nurhayat
Di Amerika, Menjadi Dokter Dapat Berakibat Fatal - Internasional

INDOPOS.CO.ID - Di Amerika, menjadi seorang dokter dapat berakibat fatal. Bunuh diri diperkirakan menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker diantara para mahasiswa kedokteran. 


Sebaliknya, penyebab umum kematian pada populasi berusia antara 25-40 adalah trauma. Data bunuh diri bagi dokter-dokter muda sangat sulit ditelusuri karena banyak kematian yang tidak dilaporkan. Tetapi yang kami ketahui bahwa sekitar 300 hingga 400 dokter-dokter Amerika melakukan bunuh diri setiap tahun, dua kali lebih banyak dari rata-rata populasi global.


Bulan Mei tahun lalu, ribuan residen medis diseluruh negeri berkumpul untuk merefleksikan duka cita atas meninggalnya residen psikiatris tak bernama akibat bunuh diri di NYU Langone Medical Center. Sedangkan NYU Langone berpendapat bahwa tidak ada detail yang dapat dibagikan tentang usia residen, tempat ia bekerja, atau di mana ia ditemukan. Kematiannya tampak tak bisa dijelaskan. Kehidupannya dihapus tanpa rasionalitas yang jelas.


Dalam beberapa bulan, dua lagi perempuan di komunitas medis New York City yang bunuh diri. Mungkin karena jam kerja yang panjang, pikir orang-orang di komunitas medis. Atau dia mengalami putus yang berat. Mungkin perempuan itu mengalami depresi dan tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Atau mungkin hal itu karena sesuatu yang telah begitu familiar bagi kita.


Beberapa minggu setelah kematian residen NYU, dokter ahli bunuh diri, Pamela Wible, ditanyakan sebuah pertanyaan yang telah kami diskusikan secara pribadi. Mungkinkah ini karena bullying? Wible mengungkapkan beberapa surat yang dia terima dari residen di rumah sakit yang sama mengatakan korban telah diperlakukan dengan sangat buruk secara emosional oleh atasannya. Jika itu benar, maka ini bukan pertama kalinya seorang residen di bully hingga meninggal.


Tidak ada pertanyaan bahwa bullying adalah penyakit di dunia pendidikan medis. Sebuah penelitian mengungkapkan sekitar setengah residen dan kolega di AS dilaporkan telah di bully, seringkali oleh dokter hadir mereka. Peneliti kanada menemukan bahwa 78 persen residen yang dilaporkan mengalami kekerasan dan pelecehan selama masa pelatihan mereka, seringkali oleh direktur program atau dokter hadir.


Dan residen bukanlah satu-satunya korban yang terancam, pasien rawat pun akan menderita. Penelitian menunjukkan bahwa jika seorang residen terdistraksi oleh beban kognitif seperti kekerasan dan intimidasi, residen tersebut akan lebih sering mengalami error. Pasien rawat umum juga dapat terkena dampak negatif. Mahasiswa pelatihan yang di bully tidak dapat merasakan mepati karena mereka berada dalam perang yang konsisten atau berada pada mode terbang dan dapat gagal berkomunikasi secara efektif dengan pasien mereka.


Carilah kekerasan di residensi dan anda akan mendapatkan ribuan kisah, dari postingan blog memilukan hingga artikel opini pendek dimana para residen secara anonim membagikan pengalaman dan nasihat mereka. Ada kisah yang tentang komentar diskriminatif. Ada review kinerja yang dibuat secara detail oleh dokter hadir yang tidak dapat disangkal residen.


Ada ancaman verbal, intimidasi, dan pemantauan berlebihan pada perawatan pasien. “Saya perna di bully dengan parah oleh profesor saya di program residensi saya. Saya mentolerirnya untuk alasan sederhana, saya pikir saya salah. Saya dibuat merasa bersalah meskipun saya benar,” tulis seorang residen di Quora.


“Pada hari pertama rotasi, dokter hadir saya mengatakan, saya adalah seorang bajingan, tapi saya akan menjadikan anda seorang dokter yang lebih baik. Dia mengolok-olok saya di depan murid lain. Dia menghina saya di depan pasien. Dia mengancam akan mengeluarkan saya setiap hari. Setelah setelah melewati neraka itu, saya tidak peduli lagi,” ungkap sebuah postingan Instagram tahun 2018.


Terdapat sangat sedikit penelitian tentang bullying dalam kedokteran, karena ironisnya, beberapa program kedokteran bersedia berpartisipasi pada penelitian ini. Mereka mungkin, dan sudah seharusnya, khawatir tentang penemuannya.


Tetapi kita ketahui bahwa taktik bullying di kedokteran sama seperti di industri lainnya. Mereka menggunakan banyak bentuk. Intimidasi, ancaman kehancuran karir, meremehkan, merusak, kritisisme tak adil, menyebarkan gosip tentang residen, gangguan pekerjaan atau sabotase, menghentikan promosi atau kesempatan di tempat lain, mengadu domba sesama peserta pelatihan yang termasuk melakukan tindakan bullying. Dan hal-hal lainnya.


Tetapi taruhannya seringkali lebih tinggi pada bidang kedokteran dibandingkan sektor lainnya. Pada tingkat tertentu, pendidikan kedokteran menghargai kepatuhan, dan hal itulah yang menjadi penyebab bullying. Ahli etika medis, Ajay Major, menuliskan bahwa dokter hadir mungkin merayakan bunglon etika dan profesional, yaitu para residen yang jarang melawan atasan mereka.


Pada iklim kesetiaan dan rasa hormat yang menjemukan, banyak residen melihat pelatihan medis mereka yang selanjutnya menjadi bagian dari pengenalan pada kurikulum tersembunyi medis. Kesuksesan mereka bergantung pada pemahaman dan permainan peraturan tersebut.


Dan di dalam sistem, dokter hadir memiliki segala kuasa, sedangkan residen sangat jarang diberi kesempatan untuk melindungi diri ketika mereka di salahkan. Bahkan sistem evaluasi 360 derajat yang diharapkan dapat memberikan feedback yang lebih objektif dapat dimanipulasi rumah sakit-rumah sakit untuk menargetkan seseorang. “Saya diancam secara terus menerus, saya akan diberikan masa percobaan jika saya tidak setuju dengan penilaian dan ecaluasi dokter hadir saya,” tulis seorang komentator di survey populer Doximity.


Biasanya, pembully menggunakan konsep seperti profesionalisme untuk mempermalukan residen yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Bahkan saksi bullying takut akan pembalasan karena ada beberapa, jika memang ada, mekanisme untuk melapor. “Ketika hal seperti ini terjadi, budaya rasa takut yang sesungguhnya muncul. Orang-orang merasa mereka tidak dapat mengatakan kebenaran,” kata Howard Liu, psikiater akademis dari Universitas Nebraska.


Bullying mungkin juga sudah mendarah daging dalam tradisi kedokteran. “sangat mungkin bahwa mereka yang melakukan bullying juga merupakan korban kekerasan dan penghinaan, dan mereka pada akhirnya menyalurkan masalah mereka yang belum terselesaikan kepada orang lain, terutama mereka yang berada pada level hierarki lebih rendah,” kata William Bynum, seorang dokter keluarga yang berbasis di Duke University. Karena itu seseorang denegan kinerja tinggi dapat dianggap sebagai ancaman oleh dokter hadir yang merasa posisi dan kemampuannya terancam. 


Pada 2017, World Medical Association mengeluarkan pernyataan tentang perlunya pembahasan bullying dan pelecehan dalam kedokteran. American Medical Association, British Medical Association, Royal Australasian College of Surgeons, dan Canadian Medical Association juga mengikutinya.


Badan pengatur di AS dan Kanada mulai menyaring bagaimana bullying dapat berdampak pada akreditasi dan mengizinkan dokter individu memberikan komplain jika mereka mengalami pelecehan, penghinaan, atau bullying karena perilaku tersebut melanggar kode etik dan profesional yang ditetapkan.


Beberapa institusi Amerika telah merespon dengan mengubah sistem pertandingan. Di Texas contohnya, melalui inisiatif FITXBEST program bedah yang sebelumnya menggunakan sistem pertandingan untuk membantu menghindari faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi target. Staf pewawancara dilatih untuk mengenali bias tak sadar mereka sambil berfokus pada pertanyaan yang menjelaskan gaya belajar, tujuan, kepribadian kandidat untuk menentukan kecocokan dan tingkat dukungan yang mereka antisipasi dalam budaya pelatihan.


Residen juga melangkah untuk saling melindungi. Situs web yang dipimpin oleh peserta pelatihan, Scutwork.com bertindak seperti pintu kaca dari program residensi. Harapannya adalah bahwa dengan umpan balik yang cukup harus melukiskan gambaran yang adil tentang program di seluruh Amerika Utara dan mendorong yang paling bermasalah untuk berubah.


Dan akhirnya, ada gerakan anti intimidasi baru, TimesUp Healthcare. Dalam editorial Lancet bulan lalu, para pemimpin kelompok ini menguraikan peta jalan untuk rumah sakit dan program pelatihan untuk mengatasi penganiayaan. Mereka merekomendasikan untuk memasukkan pengamat dan pelatihan kesopanan, memberikan sanksi kepada pelaku, meningkatkan mekanisme pelaporan, dan bersikap transparan tentang jumlah pengaduan dan tuntutan hukum. Untuk peserta pelatihan, transparansi akan membantu mereka menghindari apa yang disebut program berbahaya, sementara juga memotivasi program ini untuk berubah sehingga mereka tidak menghalangi pelamar. (fay/Boston Globe)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.