Headline

Akibat Hujan Lebat dan Hulu Rusak

Redaktur: Juni Armanto
Akibat Hujan Lebat dan Hulu Rusak - Headline

RUSAK-Sejumlah kendaraan terendam lumpur akibat banjir bandang di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (17/3/2019). Foto: GUSTI TANATI/ANTARA

INDOPOS.CO.ID - Indonesia, bahkan dunia terkejut. Papua yang dikenal hutannya sangat luas mendadak heboh dengan kemunculan banjir bandang atau air bah di Kabupaten dan Kotamadya Jayapura. Sedikitnya sekitar 73 orang tewas dan 4.273 warga mengungsi akibat musibah tersebut. Angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan proses pencarian korban yang masih berlangsung hingga kini.

Sementara berdasarkan data Provinsi Papua, luas hutan Papua sekitar 28.621.799,707 hektare (ha) yang terdiri dari hutan lahan kering primer sebesar 16.034.266,437 ha, hutan rawa primer seluas 4.940.145,353 ha dan daerah rawa seluas 7.647.387,917 ha.

Sejumlah pihak, termasuk Polda Papua menuding bencana alam tersebut muncul diduga akibat aksi pembalakan liar yang terjadi di kawasan Pegunungan Cykloop. "Bahkan, pepohonan yang sudah ditebang oleh oknum tidak bertanggung jawab menyebabkan berbagai material, seperti bebatuan dan batang kayu serta lumpur, ikut terseret," kata Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin di Jayapura, Minggu (17/3/2019).

Banjir bandang yang terjadi Sabtu (16/3/2019) malam tersebut disebabkan pepohonan di kawasan Cykloop sudah berkurang, sehingga saat hujan deras mengguyur kawasan itu dapat menyebabkan banjir.

Sormin menambahkan, Gunung Cycloop merupakan kawasan hutan lindung yang seharusnya dijaga kelestariannya dan bukan sebaliknya ditebangi pepohonannya. Nah karena hutan lindung yang tidak dijaga kelestariannya, saat curah hujan tinggi atau lebat menjadi penyebab banjir bandang yang bahkan mengakibatkan jatuhnya korban, termasuk harga benda. ”Ke depan diharapkan tidak lagi terjadi pembalakan karena dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan korban jiwa dan harta benda,” tegasnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, banjir bandang yang menerjang kawasan Sentani dan Jayapura disebabkan karena adanya longsor di bagian hulu. Longsor disebabkan karena terdapat material yang menyumbat hingga membuat air meluap. "Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami," jelasnya dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (17/3)

Sutopo mengatakan, volume air yang terus bertambah hingga meluap dan turun ke dataran bawah di kawasan pemukiman. Banjir membawa material kayu dan batu hingga menerjang rumah warga. "Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur, dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar," ungkapnya.

Selain itu, Sutopo menduga banjir disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi. Dia menambahkan, banjir serupa pernah terjadi di Sentani pada 2007. "Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama. Pada 2007, kejadian banjir bandang juga pernah terjadi di Distrik Sentani," tuturnya.

Sementara sekitar 73 orang tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan Jayapura, Papua, Sabtu (16/3). Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kol Inf Muhammad Aidi mengataka, korban meninggal sekitar 66 orang akibat banjir bandang di Kabupaten Jayapura dan tujuh orang di Kotamadya Jayapura akibat tanah longsor.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal di Jayapura mengatakan, jumlah korban terus meningkat. Pasalnya, tim gabungan yang terdiri dari SAR, TNI, dan Polri dibantu masyarakat yang masih terus melakukan pencaharian.

Korban yang menderita luka-luka saat ini dirawat di beberapa rumah sakit seperti RSUD Yowari, RS Dian Harapan, dan RS Bhayangkara. Sementara sebanyak 4.273 orang mengungsi akibat banjir bandang. "Totalnya 4.273 warga yang mengungsi akibat banjir bandang semalam," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol A.M. Kamal di Kota Jayapura, Papua, tadi malam.

Ia merinci, pengungsi itu dari kompleks BTN Gajah Mada sekitar 1.450 orang, BTN Bintang Timur 600 orang, Doyo Baru 200 orang, Kemiri 200 orang dan di panti jompo 23 orang. "Dari kompleks HIS Jalan Agus Karetji 300 orang, di Gunung Merah 200 orang, di kompleks SIL 300 orang dan di kediaman bupati 1.000 orang," katanya.

Kamal mengatakan, pengungsi sebanyak itu tersebar di empat posko yang ada di Kabupaten Jayapura, salah satunya di kompleks perkantoran bupati Jayapura."Berbagai bantuan makanan dan minuman juga sedang mengalir dari sejumlah pemangku kepentingan," katanya.

Di lain pihak, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan proses penanganan dan evakuasi korban bencana alam banjir bandang di Sentani, Kabupaten dan Kota Jayapura untuk cepat dilakukan. "Ini agar mengurangi korban yang ada. Kemudian saya sudah sampaikan juga agar segera dilaporkan hal-hal yang penting yang bisa kita lakukan karena banjir bandang tidak hanya di Sentani saja," katanya kepada wartawan di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, kemarin.

Jokowi telah meminta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo untuk segera meninjau ke lokasi. Dia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban bencana alam di Sentani. "Saya ingin sampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban yang meninggal karena banjir bandang itu," tandasnya.

Jokowi meminta seluruh pemangku kepentingan untuk menangani masalah di hulu yang menyebabkan banjir di sejumlah daerah. "Ini saya kira penanganan hulu, kerusakan hulu, yang harus diselesaikan. Dan inilah ke depan yang akan kami kerjakan," ujarnya.

Jokowi menambahkan, sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir yakni penghijauan atau penanaman pohon kembali kawasan di hulu. Dia menilai selain moratorium pembukaan kawasan hutan, pemerintah juga perlu melakukan penghijauan. Pemerintah telah melakukan penundaan pemberian izin baru pemanfaatan hutan, penggunaan kawasan hutan, dan perubahan peruntukkan kawasan hutan dan areal penggunaan lain.

Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah banjir, perlu dilakukan langkah penanaman di kawasan yang telah rusak. "Jangan hanya moratorium saja. Tidak akan menyelesaikan masalah, karena terlanjur rusak bertahun-tahun lalu," jelasnya. (zbs/ant)

TAGS

Berita Terkait

Nasional / Drainase Buntu, 35 Rumah di Rangkasbitung Terendam Banjir

Daerah / Banjir dan Longsor Ancam Wilayah Utara Indonesia

Daerah / Curah Hujang Tinggi, Waspadai Banjir dan Longsor

Banten Raya / Banyak Turap Rusak, Banjir Jadi Ancaman Serius

Megapolitan / Banjir Menyapa saat Sahur Perdana


Baca Juga !.