Nusantara

Petani Kesulitan untuk Jemur Gabah

Redaktur:
Petani Kesulitan untuk Jemur Gabah - Nusantara

PANGGUL-Sejumlah buruh mengangkut gabah saat panen di area persawahan Desa Blang Bugeng, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur, Aceh, Jumat (1/3/2019). Foto: SYIFA YULINNAS/FOC/ANTARA

INDOPOS.CO.ID - Petani di Kabupaten Parigi Moutong hingga kini masih mengalami kesulitan menjemur hasil panen. Itu menyusul para petani tidak memiliki lantai penjemuran yang memadai. Efeknya, gabah dan kakao hasil panen petani tidak maksimal.

”Kebanyakan petani di daerah itu menjemur gabah atau kakao di pinggir jalan karena tidak ada lantai jemur yang dibangun sendriri oleh petani,” tutur Wayan, seorang ketua kelompok tani di Desa Tindaki, Kecamatan Parigi Selatan, Parimo, Sulawesi Tengah (Sulteng), Minggu (17/3/2019).

Ia mengatakan setiap kali musim panen berlangsung, petani terpaksa menjemur gabah atau biji kakao di pinggir jalan. Masalahnya, tidak ada lahan atau halaman kosong. ”Kebanyakan sudah digunakan pemiliknya untuk menanam buah naga,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan I Made Warnada, seorang petani di Desa Tolay. Desa Tolay merupakan sentra produksi beras dan kakao di Kabupaten Parimo. Saat ini, sedang berlangsung panen, di sisi kiri dan kanan jalan dijadikan tempat menjemur padi, karena tidak ada lantai jemur.

Di tempat penggilingan gabah ada lantai jemur, tetapi sangat terbatas. Dan untuk membangun kembali lantai jemur sudah tidak memungkinkan karena tidak ada lahan yang kosong. Selain sudah dijadikan areal sawah, juga ditanami buah naga. ”Pokoknya tidak ada lagi lahan kosong untuk dijadikan lantai penjemuran gabah dan kakao,” ucapnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulteng, Trie Irinay Lamakampali membenarkan petani di Kabupaten Parimo sekarang ini kesulitan menjemur hasil panen pada panen raya kali ini karena tidak ada lantai jemur. ”Mereka menjemur gabah/padi di pinggir jalan raya karena memang tidak ada tempat mengeringkan gabah,” katanya.

Menurut dia, jika kesulitan lantai jemur tidak segera dapat diatasi, maka bisa berpengaruh terhadap kualitas beras yang dihasilkan. Karena jika gabah lama dibiarkan, apalagi saat panen hujan, maka akan berpengaruh besar terhadap kualitas beras. Sementara beras kualitas rendah tentu tidak akan bisa bersaing dengan beras kualitas terbaik ketika dijual di pasaran.

Pemprov Sulteng berharap pada musim panen (MP) 2019 ini, produksi gabah/beras petani di daerah ini bisa meningkat dari panen tahun-tahun sebelumnya. Sulteng menargetkan surplus beras pada MP 2019 bisa meningkat hingga 500 ribu ton dari sebelumnya 300 ribu ton. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Daerah / Petani Uji Coba Mina Padi

Daerah / Setelah Sepekan Tulungagung Direndam Banjir

Headline / Prabowo Tak Rela Petani Hidup Miskin 

Nasional / Petani di Ujung Senja, Roadmap Pangan Capres Tak Jelas

Nasional / Dua petani di Ngawi Tewas Akibat Keracunan Gas di dalam Sumur


Baca Juga !.