Datar karena Terbentur Psikologis

INDOPOS.CO.ID – Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 putaran ketiga sudah digelar tadi malam (17/3) di Jakarta. Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Sandiaga Uno saling beradu konsep dalam debat yang bertema ‘Pendidikan, Ketenagakerjaan, Kesehatan, Sosial, dan Kebudayaan’.  Bagaimana penilaian pengamat dan stakeholder lainnya?   

Adi Prayitno, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, debat putaran ketiga yang menghadirkan Cawapres KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno terlihat datar. “Debatnya berlangsung datar saja, sepertinya ada kendala psikologis antara Sandi dan Ma’ruf,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Adi mengatakan, Ma’ruf sangat menjaga tutur katanya karena dia tidak ingin terlihat agresif. Hal serupa juga terjadi pada Sandi yang cukup hati-hati memilih bahasa. “Sandi hati-hati memilih bahasa agar tak terkesan menyerang ulama, makanya debat berlangsung datar sekali,” kata dia.

Artikulasi Ma’ruf dinilai lebih datar, sedangkan Sandi lebih santai dan banyak menyampaikan temuan di lapangan. Dia juga menilai Ma’ruf dapat mengimbangi Sandi dengan menyampaikan capaian kerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang dilengkapi dengan data. Ma’ruf  juga dinilainya konsisten dengan tampilan Islami, tak lupa dengan kutipan-kutipan  ayat-ayat Alquran dan hadist.

Adi mengatakan, secara umum substansi yang disampaikan kedua calon selama debat sama seperti narasi yang mereka dengungkan selama ini. “Sandi tetap dengan narasi oposannya menyerang sisi kekurangan Jokowi seperti isu tenaga kerja asing, BPJS, pendidikan dan lainnya,” kata dia.

Pada penutupan, Sandi mencoba menawarkan satu kartu, yaitu kartu KTP menjadi kartu segala bisa yang dapat diakses untuk segala program. Sementara Ma’ruf datang menawarkan tiga kartu baru, yaitu kartu KIP Kuliah, pra-kerja, dan sembako murah.

Hamdi Muluk, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan, masing-masing cawapres belum menghadirkan solusi konkret atas permasalahan yang ada. “Sepanjang ini dua kubu kan relatif tidak banyak beda. Visi dan misi juga rancangan program tidak banyak berbeda,” ujarnya kepada wartawan kemarin.

Beberapa persoalan yang patut dicarikan solusi oleh para cawapres, lanjut Hamdi, yakni mengatasi defisit keuangan BPJS Kesehatan yang terus membengkak, meningkatkan mutu pendidikan, dan membuka lapangan pekerjaan dengan menumbuhkan kawasan-kawasan industri.

  Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih mengatakan, masih banyak permasalahan kesehatan di Indonesia yang belum disentuh oleh Cawapres Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno dalam debat putaran ketiga. “Iya masih banyak yang belum tersentuh,” tandasnya.

Adapun masalah yang belum tersentuh antara lain tingginya angka kesakitan baik penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, kanker, dan penyakit menular seperti tuberculosis yang menempati posisi tertinggi kedua di dunia, HIV AIDS yang menempati posisi tertinggi ketiga di dunia. Kemudian, masalah penyakit gangguan mental seperti stres, narkoba, kecanduan pornografi. Selanjutnya, masalah distribusi pelayanan kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata sehingga akses ke pelayanan kesehatan tidak merata.

Selain itu, dia mengatakan, para cawapres juga belum menyentuh secara komprehensif terkait penanganan masalah mahalnya harga obat dan alat kesehatan. Pelayanan kesehatan dalam negeri harus semakin ditingkatkan, salah satunya dengan mendorong agar harga obat dan kesehatan tidak terlalu mahal untuk dapat dinikmati masyarakat luas. “Devisa melayang karena biaya untuk berobat ke luar negeri bisa mencapai Rp 100 triliun per tahun,” tuturnya , tadi malam.

Daeng menambahkan, Ma’ruf Amin dan Sandi mendorong penguatan pelayanan dan pembiayaan kesehatan serta kolaborasi masyarakat dalam rangka menuntaskan masalah kesehatan. “Karenanya, harus ada penguatan keahlian dan kompetensi tenaga dokter serta tenaga kesehatan lainnya,” ujar dia.

Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan sejumlah hal, termasuk penguatan keahlian dan kompetensi tenaga dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Kemudian, penguatan infrastruktur sarana dan prasarana, yang diikuti dengan sistem distribusi yang baik yang meliputi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan.

Dia juga mengatakan, penguatan pelayanan kesehatan harus didukung sistem penghargaan dan insentif yang baik bagi tenaga kesehatan terutama yang mengabdi di daerah.

Para cawapres juga mendorong penguatan upaya kesehatan promotif dan preventif dengan dukungan anggaran yang lebih baik ditunjang pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses dan memantau permasalahan kesehatan masyarakat.

Sementara, penguatan pembiayaan kesehatan ditunjukkan dengan komitmen peningkatan biaya promotif dan preventif, komitmen memenuhi kecukupan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk mendorong kualitas pelayanan dan mencegah terganggunya pelayanan karena ketidakcukupan dana atau defisit.

Daeng juga menyebutkan yang tidak kalah penting adalah penguatan upaya mengikutsertakan peran serta masyarakat untuk berkolaborasi dalam mengatasi kendala serta mendorong suksesnya kebijakan pembangunan kesehatan.

  Sementara Pemerhati Pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, masalah hulu menjadi masalah krusial yang harus diatasi Pemerintah Indonesia untuk mengatasi lemahnya kompetensi bangsa Indonesia. Ini salah satunya kualitas pendidikan di Indonesia yang masih buruk. Sementara, saat ini bangsa Indonesia harus menghadapi era revolusi 4.0. Apabila hal itu tidak diatasi, maka akan muncul generasi lemas, bukan generasi emas.

Dia menegaskan, dari mutu pendidikan nasional saat ini tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Kedua paslon, juga tidak mengangkat masalah tersebut, karena hasil kajian tersebut dilakukan oleh asing. ”Kita bisa buktikan, di Pusat pendidikan (Puspendik) kemampuan anak-anak SD di bidang Matematika hanya 77 persen, membaca hanya 46 persen dan sains hanya 60 persen,” ujarnya.

Sementara untuk Ujian Nasional (UN) untuk tahun ini, SMP turun, sedangkan anggaran pelaksanaan naik. ”Ini kenapa tidak menjadi konsen masing-masing paslon,” ucapnya.

Hasil sistem pendidikan, kata Indra, masih menunjukkan hasil yang minus. Dengan munculnya kasus pemukulan siswa kepada guru. Ini merupakan bukti nyata kualitas pendidikan membutuhkan perbaikan. ”Urusan politik juga kembali memuncul masalah human interest, munculnya konflik horisontal dan munculnya masalah intoleransi lainnya. Ini jelas mutu pendidikan kita dipertanyakan,” bebernya.  

Lebih jauh Indra menegaskan, rangking Human Development Indeks (IPM) Indonesia menempati rangking 116 dari 189. Ini memunculkan semakin banyak sarjana yang menganggur. Mereka tidak bisa berkompetensi dan mencari kerja, sehingga banyak tenaga asing banyak masuk di Indonesia.

Sementara Budayawan Betawi Ridwan Saidi menilai debat ketiga Pilpres 2019 ini untuk menjelaskan secara lengkap mengenai masalah budaya di Indonesia. Padahal peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar. Karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi tatanan masyarakat. “Jadi masalah sejarah hampir tidak disinggung oleh kedua pasangan. Tidak ada istilah itu disebutkan. Kata sejarah dan peradaban tidak disebut. Tapi saya tidak salahkan para calon, itu pernyataan finalis tidak membuka peluang ke arah sana,” ujarnya kepada INDOPOS melalui telepon di Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Hal itu menjadi penting untuk pembangunan bangsa menuju Indonesia yang adil, makmur, demokratis dan sejahtera. Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu kesenian, bahasa, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya. “Itu paling pokok adalah pembangunan Indonesia harus berlandaskan pada peradaban. Kebudayaan hanya bagian dari peradaban. Peradaban itu harus sesuai dengan tingkat sejarah kita. Sejarah kita kan harus juga dibenahi bagamaina kita membangun peradaban yang kondusif untuk pembangunan,” kata anggota DPR antara 1977 hingga 1987 itu.

Meski cawapres nomor urut 01 saat debat menjelaskan soal kearifan lokal. Namun ia mempertanyakan apakah definisi itu dipahaminya. Tentu itu harus dijelaskan secara menyeluruh.  “Kearifan lokas yang dimaksud Ma’ruf belum jelas. Karena kearifan lokal itu kearifan lokal jenius. Misalnya pengalaman sejarah sebuah bangsa. Soal istilah kearifan lokal dia paham nggak maksudnya itu,” jelas Ridwan.

Sedangkan cawapres nomor urut 02 sangat sedikit menjelaskan mengenai masalah budaya. “Sangat sedikit porsi kebudayaan yang diucapkan. Cuma berulang kali dia mengatakan kebhinekaan. Bahwa tampilan kebudayaan itu bhineka. Karena kita beragam suku bangsa. Masing-masing punya sejarah lokal sendiri sendiri,” ucapnya.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan, persoalan sosial justru diisolasi hanya pada ukuran ukuran material atau angka statistik seperti pengangguran, jumlah layanan kesehatan. Namun hal yang substantif terkait moralitas, tidak diulas.  “Persoalan sosial yang lebih mengena dengan hal-hal yang dirasakan publik misalnya isu kejahatan (narkoba, geng motor, prostitusi, Red), realitas sosial  (pernikahan dini, bunuh diri, Red), pergeseran budaya (anak-anak melawan orang tua, tawuran, Red) sama sekali tidak muncul,” tuturnya.

Maka debat tadi malam akan sangat sulit merebut kepercayaan millenial. Jika merujuk pada isu dari segi konten dan dari aspek target pemilih. Mengingat kemasan kontennya yang kurang konkret dan mengibur dari aspek ketajaman pertukaran ide dari masing masing kandidat. “Yang dikupas, dijawab dengan metode langitan. Perlu pembahasan yang lebih membumi, sehingga masyarakat lebih mudah menarik manfaat dan memutuskan untuk memilih kandidat yang mana. Bila diilustrasikan dengan pertandingan, maka skor pertempuran malam ini adalah 1:1,” ungkapnya.

Kubu 01 unggulan dalam aspek kebijakan, sedangkan Kubu 02 unggul dalam aspek kepribadian. Untuk Ma’ruf unggul dalam tiga hal, nampu menunjukkan rencana program yang lebih nyata, memiliki program yang sudah terlaksana dan hadir dengan tawaran yang lebih menggugah. “Sandi juga unggul dalam hal, yaitu lulus menunjukkan kesantunan, tulus dalam menunjukkan simpati pada isu-isu terkini. Serta mampu menunjukkan anak muda yang bermoral,” terangnya.

Suasana Debat

Pada segment pertama debat yang dimoderatori oleh Putri Ayuningtyas serta Alfito Deannova, baik Ma’aruf Amin dan Sandiaga Uno diminta untuk memaparkan visi dan misi terkait keempat isu tersebut.  Ma’aruf Amin bicara lebih dahulu. Pria 76 tahun itu menyampaikan visi berjudul ‘Indonesia Maju’. Dia menekankan kunci dari visi yang diusung pasangan capres dan cawapres 01 adalah manusia.  Mantan anggota legislatif tersebut akan terus melanjutkan program yang telah dilakukan oleh rezim Jokowi dan Jusuf Kalla. ”Sehingga kami akan melanjutkan untuk membangun dan melindungi segenap bangsa Indonesia. Agar menjadi lebih sejahtera. pemimpin harus membangun untuk rakyatnya,” ujarnya.

Menariknya, dalam paparannya, Ma’aruf ada menyebut tiga kartu yang akan digunakan masyarakat Indonesia, jika dirinya dan Jokowi terpilih sebagai pemimpin tanah air. Yakni, menerapkan kartu kuliah, kartu sembako murah, dan kartu pra kerja. ”Untuk apa? supaya anak miskin bisa kuliah. Ibu-ibu bisa belanja dengan murah. Mudah dapat kerja. Kenapa? karena pemerintah menyediakan latihan dan kursus secara gratis,” paparnya. ”Kami siap untuk mengemban amanah untuk mempimpin menuju Indonesia Maju,” tutup Ma’aruf Amin yang langsung disambut tepuk tangan para pendukungnya.

Sementara Sandi sebagai memaparkan visi bahwa dirinya bersama Prabowo Subianto telah memiliki solusi. ”Masyarakat ingin lapangan kerja, emak-emak ingin harga terjangkau, biaya pendidikan murah, listrik murah. Prabowo-Sandi sudah menyiapkan solusinya,” ujar Sandiaga.

Kualitas yang dimaksud adalah meningkatkan kesejahteraan guru serta membuat sekolah untuk penyedia lapangan kerja. Sedangkan untuk kesehatan, Sandi bahkan berjanji menyelesaikan persoalan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dalam 200 hari setelah dirinya dilantik. Defisit ditutup dan diselesaikan,” tukasnya.

Sandi juga akan menggalakkan hidup sehat dengan dimulai promotif preventif 20 menit berolahraga. Di bidang tenaga kerja, Sandi menyatakan, pihaknya fokus di di OK OCE di tingkat nasional. ”Kita siapkan juga one stop service untuk anak muda,” ujarnya.

Usai memaparkan visi dan misi, debat sesungguhnya dimulai. Moderator, membacakan pertanyaan untuk dijawab. Isu pertama yang ditanyakan adalah mengenai pendidikan. Pertanyaan yang disampaikan kedua calon adalah mengenai komitmen terhadap riset di Indonesia. Sandi yang diberi kesempatan jawaban pertama berupaya agar riset dan dunia usaha dapat bersinergi sehingga memunculkan sumber daya manusia Indonesia yang berinovasi sekaligus siap berkompetisi pada era Revolusi Industri 4.0. ”Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan terobosan, di dunia pertanian misalnya, pupuk organik ini bisa menjadi murah,” terangnya.

Ia menyebutkan terobosan-terobosan itu juga akan membuat lapangan kerja makin luas karena makin banyak inovasi yang terpakai, terlebih inovasi tersebut bersinergi dengan dunia usaha. Secara berangsur-angsur maka inovasi dan dunia usaha akan tumbuh secara bersama-sama.

Dunia usaha, kata dia, akan terbantu dengan terobosan-terobosan dari dunia riset. Di lain pihak, hasil riset akan terpakai oleh dunia usaha sehingga kajian-kajian akademik digunakan tidak hanya menjadi naskah saja. Sandi optimistis dengan adanya ekosistem yang baik bagi inovasi maka akan turut memicu letupan-letupan terobosan dari kalangan muda. ”Kita akan bersinergi dengan letupan inovasi yang tercipta dari anak muda. Kita tidak hanya lima besar dunia pada 2045,” jelasnya.

Ma’aruf Amin yang juga menjawab pertanyaan tersebut, berjanji akan membentuk Badan Riset Nasional dan menyatukan lembaga agar tidak terpisah. ”Untuk itu, kita juga akan menyediakan dana abadi riset,” tegasnya.

Dia menegaskan bahwa tidak akan menambah lembaga baru tetapi mengefisienkan lembaga yang ada supaya penanganan riset lebih efektif. ” Kita rencananya ikut sertakan semua pihak, pemerintah, pengusaha, akademisi sehingga riset akan berkembang dan bisa membangun Indonesia ke depan. Kita siapkan untuk tim 10 yield challenge,” ujar dia.

Berdasarkan data Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) jumlah dana riset 2019 sebesar Rp 1,52 triliun, terdiri dari dana penelitian Rp 1,39 triliun dengan jumlah penelitian 16.253 judul dan dana pengabdian kepada masyarakat Rp 133,85 miliar dengan jumlah 2.281 judul.

Pada pertanyaan kedua, tema yang dibahas ihwal kesehatan. Keduanya diminta memberikan penjabaran strategi agar bisa menyelesaikan persoalan yang ada dengan pelayanan yang optimal. Ma’aruf Amin, yang menjawab pertama pada sesi ini,  memaparkan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Bahwa jumlah peserta asuransi BPJS saat ini mencapai 215 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 96,8 juta orang sudah menerima biaya iuran dari pemerintah.

Menurut dia, capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf bila nanti terpilih pada Pilpres mendatang, akan terus memperbesar manfaat pelayanan kesehatan dengan mendirikan sejumlah pusat kesehatan, menambah dokter dan memasok lebih banyak obat-obatan.

”Pemerintah sudah lakukan langkah-langkah besar dalam memberikan pelayanan dengan harga murah. Namun, sesuai prinsip kami, untuk memaksimalkan manfaat, kami akan meningkatkan pelayanan dengan mendirikan pusat-pusat kesehatan dengan layanan yang lebih baik, dokter dan penyediaan obat yang cukup,” terangnya.

Sementara Sandi yang menanggapi persoalan ini, kembali menekankan dalam 200 hari pertama, akan menghitung permasalahan pada isu kesehatan. Dia akan menyempurnakan BPJS Kesehatan. ”Dalam kunjungan saya dan menemui Ibu Lis di mana program pengobatan harus terhenti karena tidak di-cover BPJS tidak boleh lagi terjadi. Kuncinya adalah pembenahan jangan saling menyalahkan,” tegasnya.

Untuk pembenahan tersebut, akan dipanggil para ahli yang merupakan putra dan putri terbaik bangsa untuk diajak membenahi persoalan ini. Karena untuk kesehatan prima menurut Sandi negara tidak boleh pelit. Jangan sampai antrean panjang terjadi dalam pelayanan kesehatan begitu juga obat harus selalu tersedia.

BPJS, kata dia, harus lebih baik dan Sandi melihat ini sebagai tantangan untuk menyempurnakan. Selain itu sistem rujukan juga harus diperbaiki agar masyarakat tidak menunggu berjam-jam untuk mendapat pelayanan dan tidak berbelit. Diminta untuk memberi tanggapan Sandi, Ma’aruf Amin menanggapinya dengan santai sembari tetap mengkampanyekan program yang akan dikerjakannya. Bahkan dirinya berani menjamin penurunan angka stunting yang hingga 10 persen.

Pihaknya juga berjanji akan meningkatkan akses kesehatan dan memperbaiki pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, pihaknya juga akan terus menggencarkan Gerakan Masyarakat Sehat (Gemas) dan Program Indonesia Sehat sebagai upaya untuk menyehatkan masyarakat dari tingkat keluarga, sehingga jumlah orang sakit bisa semakin berkurang. ”Perbaikan pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan, tenaga medis, kami terus dorong upaya preventif dengan Gerakan Masyarakat Sehat dan Program Indonesia Sehat,” terangnya.

Tak mau kalah, Sandi yang diberi waktu 1 menit, 30 detik untuk memberi tanggapan menerangkan,  ”Program yang sinergi lembaga pendidikan yang mana TK, SD menyediakan susu atau kacang hijau, sehingga masalah stunting bisa diturunkan dengan cepat,” ujar Sandi.

Menurut dia, jika memperhatikan gizi anak sekolah maka generasi ke depan akan semakin baik. Dalam kesempatan itu, Sandi juga mengatakan akan membenahi sistem rujukan rumah sakit dalam penyelenggaraan BPJS Kesehatan jika terpilih sebagai wakil presiden. ”Kami juga akan membenahi sistem rujukan yang selama ini berbelit,” janji dia. Dia juga akan menggencarkan strategi promotif preventif, dengan mengajak masyarakat berolahraga.

Jawaban Sandi tersebut juga menutup sesi kedua pada debat.

Di segmen ketiga, kedua paslon diminta membahas persoalan ketenagakerjaan dan sosial budaya. Amin akan meningkatkan perlindungan terhadap tenaga kerja di luar negeri. ”Kami akan melakukan upaya perlindungan terhadap tenaga kerja di luar negeri karena undang-undang kita sudah bergeser dari upaya penempatan ke upaya perlindungan,” paparnya.

Pihaknya pun akan menggencarkan pelatihan-pelatihan melalui Balai Latihan Kerja serta sejumlah kursus bagi para tenaga kerja sebagai upaya meningkatkan kemampuan mereka. ”Kami akan mengembangkan latihan-latihan, kursus-kursus, diaplikasikan dengan digital sehingga tenaga kerja akan bisa bersaing di luar negeri,” tuturnya.

Sandi yang mengenakan jas hitam, serta kopiah dengan warna senada, akan menggunakan link and match kepada lulusan SMK. Hal ini yang diucapkannya pada visi dan misi tersebut.

Sandi  mengatakan, para pengangguran di Indonesia hanya membutuhkan kesempatan sehingga mendapatkan pekerjaan salah satunya dengan membuka banyak pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Bahkan dirinya yakin mampu mengikis anggka pengangguran hingga 2 juta orang dalam setahun. Ia mengatakan bahwa dunia pendidikan dan dunia usaha akan menekan pengangguran. Maka dari itu, jika Prabowo-Sandi terpilih, akan memprogramkan insentif bagi perusahaan yang memberi kesempatan magang bagi siswa, terutama murid SMK.

Ia menambahkan, paslonnya memiliki program Rumah Siap Kerja yang menjadi tempat penggodokan keterampilan generasi tanpa pekerjaan sehingga siap kerja.

Rumah Siap Kerja menjadi tempat ’one stop service’ atau raung pelatihan yang akan menjembatani kalangan tidak berkemampuan menjadi siap bersaing di dunia kerja dan usaha. ”Mereka ada yang ingin desain grafis, bahasa Inggris. Ini akan mengikis dua juta angka pengangguran dalam 5 tahun kami memerintah,” ucapnya.

Menurut dia, pembekalan kemampuan yang padu dan padan dengan dunia kerja akan menciptakan kesempatan yang besar sehingga angka pengangguran bisa ditekan. ”Rumah Siap Kerja adalah pelayanan terpadu satu pintu. Mereka bisa diarahkan ke wirausaha, mereka bisa ke OKE OCE. Ini akan diperluas di Indonesia bersama Prabowo-Sandi,” terangnya.

Tidak kalah penting bagi Sandi, anak muda saat ini harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik sehingga bisa bersaing. ”Bagaimana Indonesia bisa nomor tujuh dunia pada tahun 2030 sampai dengan 2045 jika anak muda saat ini tidak ada kerja yang layak,” imbuh dia. Jawaban itu juga menjadi penghabisan waktu Sandi.

Selanjutnya moderator menanyakan mengenai sosial budaya. Pertanyaan tersebut menyasar soal kebijakan mengenai kebijakan atas minimnya anggaran terhadap pembangunan sosial budaya di Indonesia.

Sandi yang diminta menjadi penjawab pertama dari pertanyaan itu, mengisahkan sejarah mengenai pertemuan Bung Karno dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat.  Nah, dia menjelaskan, perlu ada kemitraan atas pembangunan terhadap sosial budaya.

Dia menerangkan, pembangunan budaya harus dilihat secara holistik. Prabowo-Sandi ucapnya, yakin pembangunan budaya di Indonesia akan lebih baik hingga membuka lapangan pekerjaan bagi anak muda tanah air.

Sementara itu, Ma’aruf Amin akan melanjutkan konservasi budaya hingga globalisasi ke dunia luar agar lebih terkenal dan berkembang. ”Kami juga akan menyiapkan dana abadi kebudayaan. Agar kebudayaan ini semakin berkembang,” jawab dia. Di sesi akhir, kedua pasangan calon diminta untuk saling bertanya dan memberikan jawaban. Cawapres dari pasangan 01 menanyakan kepada lawan debatnya ihwal upaya untuk menurunkan angka stunting.

Sandi yang sedikit terkejut dengan pertanyaan itu mengatakan, bahwa masalah stunting sudah dalam tahap gawat darurat. Di mana sepertiga dari anak di Indonesia kurang asupan gizi. Dia menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan program ”Indonesia Emas” untuk memperbaiki nutrisi anak. Caranya adalah dengan memberikan susu putih dengan cara sukarela kepada anak yang membutuhkan. ”Caranya dengan sedekah susu. Ini bukan soal Pilpres, lebih dari itu,” tegasnya.

Mendengar jawaban tersebut, Ma’aruf Amin membalas bahwa stunting sudah menjadi permasalahan sejak ibu hamil hingga menyusui. Dia beranggapan bahwa persoalan untuk stunting juga harus diselesaikan dengan sanitasi air. Sementara untuk kebutuhan nutrisi, Ma’aruf Amin menjelaskan bisa digantikan dengan air susu ibu (ASI). Debat ditutup dengan pernyataan masing-masing cawapres untuk penegasan akhir terkait empat tema yang dibahas. Keduanya juga tidak banyak mengulas ihwal hal-hal dasar dan konkret terkait realita saat ini. (ant/wok/nas/dan/zbs) 

 

 

Komentar telah ditutup.