Megapolitan

Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Redaktur: Darul Fatah
Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai - Megapolitan

INDOPOS.CO.ID - Berawal dari kegiatannya membantu cinematik Indonesia mendorong Budi Sumarno (54) untuk mengaungkan film-film Indonesia. Di tengah kian lesunya film Indonesia oleh serbuan film-film dari luar negeri.

Sosok Budi Sumarno sangat sederhana. Saat menghadiri seniman Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film) ia hanya menggenakan kemeja lengan pendek. Penampilannya agak urakan, mirip seorang produser film, kancing baju dilepas di bagian atas.

Ditemui INDOPOS, ia bercerita bagaimana perjuangannya untuk mendirikan Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI). Bukan itu saja, dalam dunia film sudah tidak diragukan lagi. Setelah berhasil mendirikan KCFI di seluruh wilayah Indonesia kini dia mendirikan Inklusi Film Disabilitas.

“Tepat 2013 lalu, saya membantu cinematik Indonesia untuk menonton film-film jadul Indonesia. Kemudian ini menjadi cikal bakal berdirinya KCFI,” ujar Budi Sumarno kepada INDOPOS, Minggu (17/3) lalu.

Ayah dari tiga orang anak ini mengatakan, anggota KCFI berasal dari lintas profesi, dari kalangan pelajar, mahasiswa, dokter, pengacara dan lintas profesi lainnya. KCFI terus berkembang menjadi wadah pecinta film Indonesia.

Tidak lagi film-film jadul, anggota KCFI kini menyasar film-film yang syarat nilai budaya dan pendidikan. “Sebenarnya yang mendorong keinginan saya untuk mendirikan KCFI, ya saat beberapa kali nonton di bioskop Taman Ismail Marzuki (TIM) sering melakukan survei. Lebih banyak penonton yang suka menonton film luar negeri dari pada film Indonesia,” terang dia.

Didapuk menjadi ketua KCFI, Budi terus mengkampanyekan film Indonesia. Pertama dibuka KCFI memiliki 250 orang anggota. Selanjutnya secara berturut-turut ia membentuk KCFI di Malang, Bandung, Cirebon, Bali, Medan, Semarang, Palembang dan Sukabumi. “Mulailah saya mengaungkan  untuk menonton film Indonesia,” beber dia.

Budi mengaku, banyak tantangan bagi pelaku film Indonesia. Karena, banyak masyarakat menilai kualitas film produksi dalam negeri tidak bermutu. “Ya tanggapan masyarakat, mereka hanya mencemooh kalau saya coba mengajak mereka untuk menonton film Indonesia. Film Indonesia enggak asyik, enggak bermutu,” ujar dia.

Untuk merangsang anggota KCFI, ia mengajak anggota komunitas untuk menonton di bioskop Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta Selatan. Lambat laun anggota komunitas kian mencintai film Indonesia. “Respon mereka pertama, ‘wah ternyata film Indonesia bagus’. Saya ajak mereka menonton kembali film-film Indonesia yang lainnya,” kata dia.

Budi menuturkan, agar tidak monoton dengan jumlah anggota komunitas yang terus bertambah ia mengembangkan kegiatan diskusi dan seminar film. Untuk menjaring anggota yang serius, Budi menerapkan seleksi secara ketat. Karena, permintaan untuk menjadi anggota KCFI terus meningkat.

“Sejak KCFI dibentuk di tiap kota di Indonesia, seleksi untuk anggota kami perketat. Intinya anggota harus memiliki misi dan visi untuk mendukung film Indonesia yang memiliki kearifan lokal dan budaya Indonesia,” kata dia.

Berkembangnya dunia perfilman dan bioskop Indonesia, masih ujar Budi ia membentuk Komunitas Tuna Netra Cinta Film Indonesia (KTNCFI). Saat itu, kebutuhan para penyandang tuna netra untuk menonton film terpenuhi.

Diawali oleh perusahaan swasta yang menyediakan bioskop berbisik. “Program bisokop berbisik ini pengembangan dari KCFI. Jadi kita bentuk KTNCFI yang seluruh anggotanya dari penyandang tuna netra,” ungkap dia.

Budi mengungkapkan, bioskop berbisik adalah bioskop yang dilengkapi para relawan pembisik. Relawan ini bertugas menarasikan film dengan kata-kata. Para relawan ini tidak bergaji, mereka secara sukarela mendampingi penonton dari penyandang tuna netra. “ Berkembangnya bioskop berbisik, mengundang kecemburuan bagi para penyandang disabilitas yang lain,” tambah dia.

Anak pertama dari empat bersaudara pasangan almarhum A Sanusi dam almarhumah Sri Sumaryati itu menyebutkan, KTNCFI sudah terbentuk hampir di seluruh kota di Indonesia, seperti Bandung, Bali, Jakarta dan kota lainnya.

Tidak ada kesulitan dalam komunikasi group WA KTNCFI. Untuk menyampaikan pesan, cukup dengan merekam suara saja. “Banyak film yang sudah diputar di bioskop berbisik, seperti film ‘12 Menit untuk Selamanya’, ‘Aisyah Biarkan Kami Bersaudara’ dan beberapa film lainnya,” ucap dia.

Kegiatan sosial Budi saat melibatkan KTNCFI dengan bioskop berbisik mendapat tanggapan negatif dari para pelaku film. Mereka beranggapan kegiatan tersebut telah merugikan dari sisi pembuatan film yang dibuat secara profesional.

“Saya mendapat komentar keras dari para pelaku film, dianggapnya tidak menghargai pembuatan film. Padahal para tuan netra ini sangat menikmati film, walaupun tidak bisa menikamti secara visual,” terang dia.

Kegiatan untuk cinta film tidak berhenti pada  penyandang tuna netra. Setelah kemudian ada protes dari para penyandang disabilitas, kemudian Budi membentuk Inklusi Film Indonesia. dari wadah tersebut, menurut Budi para penyandang disabilitas di Indonesia bisa berkontribusi pada pembuatan film Indonesia. “Ini saya dirikan 2018 lalu. Dan saya gunakan film pribadi dan dari beberapa donatur untuk membuat film dari anggota Inklusi Film Indonesia,” imbuh dia.

Para pemain dalam film seluruhnya dari para penyandang disabilitas. Beberapa film yang sudah rampung dia garap di antaranya “Aku Juga Bisa”. Film pendek ini bisa ditonton melalui youtube. “Sebelumnya para penyandang disabilitas kita berikan training atau pelatihan,” ungkap dia.

Kesulitan yang kerap ditemui bukan saat melakukan akting peran dalam film, tetapi bagaimana komunikasi bisa hidup antara para penyandang disabilitas. Agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dihina atau disakiti. “Kesulitannya itu bagaimana dialog antara tuna netra dengan tuna rungu bisa hidup,” kata dia.

Tidak jarang saat pengambilan adegan di lokasi syuting ada dialog yang harus dilakukan dengan kencang. Tujuannya agar tuna rungu bisa mendengar percakapan lawan mainnya. “Ya kadang mereka suka becanda kalau di tempat syuting. Dengan tuna wicara, penyandang tuna rungu teriak-teriak “Eh ngomong dong-ngomong dong” ucap Budi sembari tertawa.

Pria yang mengaku lulusan Sekolah Tingkat Menengah (STM) ini mengatakan, untuk menyelesaikan film pendek durasi lima menit dibutuhkan waktu selama dua hari.  Tentu pembuatan film dengan melibatkan para penyandang disabilitas tidak untuk menjadikan mereka sineas.  “Jadi hanya apresiasi aja. Untuk mengatasi kesulitan dalam dialog saya sedang rumuskan bahasa komunikasi dengan cara meraba,” tutur dia.

Budi berharap, kegiatan sosial bagi para penyandang disabilitas bisa mendapat perhatian dari pemerintah. Karena banyak para penyandang disabilitas mencintai dan menyukai film-film Indonesia.

“Kita sudah produksi 4 film pendek. Ini belum bisa dikomersialkan. Karena banyak kekurangan, sebab keterbatasan perlengkapan alat pengambilan gambar. Selama ini kami dibantu oleh Pusbang Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” tukas dia. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran

Megapolitan / Teguh Sri Suseno Biasa Dipanggil Mbah Rejo, Si Pawang Hujan

Feature / Janji Belanda di Kaki Ciremai

Megapolitan / Hari Pertama Kerja Usai Lebaran di Lingkungan Pemprov DKI

Megapolitan / Pedagang Musiman Ambil Untung Berjualan Kue Lebaran, Ini Caranya


Baca Juga !.