Headline

Negeri Jiran Cantik di Luar, tapi Rusak di Dalam

Redaktur: Juni Armanto
Negeri Jiran Cantik di Luar, tapi Rusak di Dalam - Headline

TERUS BERJUANG - Zunar menunjukkan karyanya berjudul ’Lawak & Lawan’. (insert) Salah satu contoh karyanya yang mengkritik Pemerintah Malaysia. Foto: ISTIMEWA

INDOPOS.CO.ID - Puluhan kali upaya membungkam Zunar dilakukan. Tapi dia tidak tunduk, dan terus bangkit melawan. Baginya, negara tidak punya hak untuk melarang dirinya berkarya. Baginya, kebebasan berekspresi adalah hakikat yang dimiliki setiap individu.

MELAWAN bukan berarti benci. Perlawanan Zunar lebih karena kesal. Dia kesal melihat pemerintahan yang korup. Terlebih, korupsi itu merugikan masyarakat.

Apalagi, uang yang dikorupsi tidak sedikit. Karyanya yang berjudul ’Sapuman: Man of Steel’ terinspirasi dari kasus korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Skandal pencucian uang itu diduga dinilai hingga USD 4,5 miliar atau sekitar Rp 63,8 triliun. Mantan Perdana Menteri Najib Razak diduga ikut terlibat dalam.

Saat itu, Zunar marah dengan pemerintahan di negaranya. Dia mengibaratkan, Malaysia adalah manusia yang tampak cantik atau gagah dari luar. Tapi hancur dan rusak di dalam. Kehancuran itu, dilakukan oleh elite-elite yang haus kekuasaan. ”Ketika ditengok elok lah. Tapi di dalamnya rusak. Banyak ’cancer’. Terlalu complicated untuk diperbaiki,” tuturnya.

Tapi dia bukan orang yang pesimistis. Zunar hanya tak bisa diam ketika ada yang batil di sekitarnya. Saat itulah, melalui penanya, dia mencurahkan semua isi kepalanya untuk mengkritik, melalui kartun. ”Dengan cara berkelakar. Dari marah menjadi ketawa,” ucapnya sembari tertawa.

Pengekangan terhadap ekspresi tidak berhenti lewat aturan atau dibawa ke meja hijau. Zunar memaparkan, pemerintah Malaysia juga menggunakan cara-cara lain, agar warga negara di sana tidak mengkritik. Bisa dengan suap, bahkan kekerasan.

Dua cara itu pernah juga dialaminya. Sewaktu menggelar ekshibisi di Penang, Malaysia, beberapa tahun lalu sejumlah orang menyerang dan menghancurkan karya-karyanya.

Ratusan massa yang mengamuk, mengobrak-abrik ekshibisi tersebut. Polisi yang berada di lokasi pun hanya diam. Selama 45 menit, kekacauan itu dialami Zunar. Dia pun hanya diam tak bergeming.

”Ketika semakin ramai, dan ada jagoan-jagoan silat yang datang, baru polisi beraksi, mengendalikan situasi. Tapi, selepas itu, justru saya yang dibawa ke police office,” cerita Zunar mengenang kejadian itu.

Cara lain agar membuat dirinya bungkam, adalah pemerintah Malaysia, sempat menawarkan kepadanya sebuah penghargaan. Dengan tegas Zunar pun menolak. ”Tak lah. Saya tak nak diberi penghargaan. Selama ini saya mengkritik pemerintah, kemudian saya diberi penghargaan oleh mereka,” akunya.

Dia enggan, setelah diberi penghargaan, dirinya jadi tidak bebas, karena memiliki utang balas budi. Zunar kekeuh, ingin terus merdeka menelurkan karya-karya kartunnya tanpa kendali pihak manapun. ”Kita ini sebagai manusia harus independen. Tak boleh bergantung dengan orang lain,” ucapnya dengan tegas.

Sebab, situasi serupa pernah dialami oleh koleganya sesama kartunis di Malaysia. Yang awalnya sebagai pengkritik pemerintah, jadi tunduk setelah diberikan bantuan dan proyek. ”Ini yang tak baik,” sambungnya.

Kebebasan berekspresi baginya tidak sekadar kemerdekaan untuk membuat karya. Lebih dari itu, kebebasan berekspresi adalah hak setiap manusia. Jadi, ketika ada karya satire yang mengkritik, pemerintah atau lembaga, bahkan agama manapun tidak boleh membalasnya dengan pembungkaman, pembunuhan atau politik balas budi. Karena hal itu yang selama puluhan tahun dialami oleh dirinya. ”Saya tidak bisa diam ketika melihat sesuatu yang salah,” tuturnya memberikan alasan tentang hakikat kebebasan berekspresi.

Dia pun sedih melihat kondisi dunia belakangan ini yang cenderung konservatif. Di mana, manusia lebih sering menggunakan kekerasan atas nama agama, sebagai selimut atau alasan untuk membenci orang lain. Cara ini kata Zunar, juga dimanfaatkan penguasa menghukum pihak-pihak yang mengkritik.

Pria yang akan menerbitkan buku terbaru mengenai biografinya berjudul ”To Fight Through Cartoon” itu mengaku tidak bisa membenarkan apabila kebebasan berekspresi terancam di belahan bumi manapun.

Dia mencontohkan ketika kasus penembakan Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015 lalu. Zunar yang diminta berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait insiden tersebut, menjelaskan bahwa tak boleh menghukum orang lain karena karya yang dibuatnya.

Di hadapan majelis PBB, dia berkata marah atas karya yang dibuat oleh Charlie Hebdo. Tapi, membunuh juga tidak dibenarkan. Harusnya, cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat karya tandingan. Bukan menghilangkan nyawa. ”Jangan karena kita membenci orang tersebut karena karyanya, ditafsirkan menjadi undang-undang untuk menangkap, atau membunuhnya. Ini cara yang tidak beradab,” ujar Zunar.

Udara kebebasan kini dirasakannya. Tapi dia tetap teguh bertahan di jalur kartun untuk melawan kebatilan. Zunar merasa memiliki tanggung jawab besar. Baginya, menggambar adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan banyak orang.

”Saya lahir jadi kartunis. Sehingga ini sudah menjadi tanggung jawab. Saya bahkan tidak menggunakan copyright untuk karya-karya saya. Silakan saja kepada siapapun yang ingin menggunakan,” terangnya.

Dia berharap semakin banyak yang menyebarkan, maka pesan yang ingin disampaikan pun kian menyentuh banyak orang. Dengan begitu, dia menjadi senang, karena karya-karyanya tetap hidup. Meski perjuangan dan perlawanannya terhadap kebebasan berekspresi menemui jalan terjal nan sukar. (*)

Berita Terkait


Baca Juga !.