Banten Raya

Tak Ada Listrik, Rekapitulasi Suara di Baduy Gunakan Petromaks

Redaktur: Syaripudin
Tak Ada Listrik, Rekapitulasi Suara di Baduy Gunakan Petromaks - Banten Raya

PERSIAPAN PENCOBLOSAN-Bupat Lebak Iti Octavia Jayabaya berbincang dengan komisioner Komnas HAM Amirudin terkait kesiapan Pemilu 2019. Foto: Yasril Chaniago/INDOPOS 

INDOPOS.CO.ID - Dilema pasca pencoblosan terjadi di Perkampungan Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Pasalnya, rekapitulasi suara suara Pemilu 2019 dipastikan sampai malam karena banyaknya kertas suara. Masalahnya, belum ada listrik di perkampungan desa adat tersebut.

 Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan guna memecahkan masalah itu, pihaknya berencana menyediakan penerangan lampu petromaks. Penggunaan pertromaks lantaran perkampungan tradisional itu belum ada penerangan listrik, dan tidak diperbolehkan menggunakan genset sesuai aturan adat setempat.

Itu diungkapkan Iti saat menerima Amiruddin, anggota Subkomisi Penegakan HAM/Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan pada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Kamis (21/3/2019). Iti mengaku sudah  menginstruksikan jajarannya untuk menyediakan puluhan petromaks tersebut.

”Karena belum ada listrik PLN, dan genset tidak diperbolehkan adat,” terangnya. Bupati perempuan yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Banten ini menegaskan, Pemilu 2019 di daerah yang dia pimpin akan berjalan aman dan damai. Selama ini tidak pernah terjadi gesekan di masyarakat meski pilihan politik berbeda.

”Pemilu tahun ini di Lebak pasti berjalan aman dan damai,” cetusnya.  Guna memastikan semua warga Lebak menggunakan hak pilihnya pada perhelatan pesta demokrasi lima tahunan itu, maka Subkomisi Penegakan HAM/Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM mengunjungi Kabupaten Lebak.

Menurut Amiruddin, ada tiga titik lokasi krusial terkait Pemilu 2019 sekaligus pemilihan presiden yang akan digelar 17 April 2019. Yakni, lembaga pemasyarakatan (lapas), rumah sakit dan masyarakat adat suku Baduy. ”Karena itu kami datang melakukan pemantauan ke Pemkab Lebak,” terangnya.

 Sementara untuk penyandang disabilitas, Amirudin mengaku selama pemantauan di sejumlah daerah termasuk di Kabupaten Lebak tidak ada kendala berarti. ”Meski begitu, kami tetap berpesan agar diberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Lebak menggunakan hak pilihnya,” ucapnya juga.

Amiruddin juga mengaku, setelah melakukan pemantauan dirinya mengapreseasi apa yang dilakukan pemerintah daerah dan penyelenggara Pemilu 2019 di Kabupaten Lebak. ”Saya optimistis, Pemilu 2019 yang juga sekaligus memilih presiden akan berjalan dengan aman dan damai,” terangnya.

  Untuk diketahui, jumlah warga suku Baduy yang berhak memilih pada Pemilu 2019 ini berjumlah 6.873 orang. Terdiri dari 6.432 pemilih warga Baduy luar dan 441 pemilih dari Baduy dalam. Ribuan pemilih warga Baduy itu akan melakukan pencoblosan pada 27 TPS yang tersebar di wilayah desa adat tersebut.

  Sementara itu, Komisioner KPU Banten Masudi mengatakan Kabupaten Lebak jadi perhatian khusus. Menurutnya, ada 8 juta lebih pemilih di Provinsi Banten, namun Kabupaten Lebak terindikasi adanya persoalan pemilih. Apalagi, pada Pemilu 2014 lalu terjadi Pemungutan Suara Ulang (PSU) di beberapa TPS.

”Kabupaten Lebak itu tenang di atas, namun gejolak di bawah” ujarnya. Namun secara umum, kata Masudi juga, semua masalah sudah terakomodir dan diatasi. Karena itu, dia meminta pemerintah daerah memberikan dukungan kepada KPU, teruama terkait penyimpanan logistik Pemilu 2019 yang sudah didistribusikan.  (yas) 

 

Berita Terkait

Headline / Pengamanan di Kantor KPU Ditingkatkan

Megapolitan / Personel Kodam Jaya Standby di Monas

Megapolitan / Aksi Sujud Syukur Belum Kantongi Izin

Daerah / Surat Suara Nyasar

Politik / Pemilu (Legislatif) yang Terlupakan


Baca Juga !.