Lifestyle

Peluang Besar bagi Kaum Muda

Redaktur:
Peluang Besar bagi Kaum Muda - Lifestyle

INDOPOS.CO.ID - Memiliki rumah bagi kaum muda ternyata bisa dilakukan. Terlebih, tidak sedikit generasi muda zaman sekarang atau yang dikenal dengan istilah milenial yang sudah bekerja, berencana memiliki hunian. Namun, bagaimana caranya supaya kaum milenial itu bisa mempunyai hunian yang diidamkan?

Pengamat Gaya Hidup Generasi Muda sekaligus Dosen London School of Public Relations Taufan Teguh Akbari, menawarkan beberapa tips untuk membantu perencanaan mereka supaya bisa mempunyai rumah. Pertama, menurut Taufan, tentukan lokasi kantor untuk kerja dan pengembangan karier.

Artinya, dari sini bisa diketahui seberapa banyak porsi waktu yang akan dihabiskan dalam kehidupan sehari-hari. “Tentukan dulu kebutuhan karier ada di kota atau pinggiran, aktivitasnya ada di mana,” ucap Taufan saat ditemui seusai diskusi bertema “Perumahan untuk Generasi Milenial” pada wartawan di kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), beberapa waktu lalu.

Kedua, pertimbangkan jenis hunian yang diminati. Ada dua pilihan, yaitu rumah tapak dan hunian vertikal yang berupa rumah susun dan apartemen. Pikirkan secara matang sesuai selera, kesukaan, kebutuhan, dan karakter pribadi milenial yang akan menempati hunian tersebut.

Ketiga, faktor kondisi fisik bangunan, baik eksterior maupun interior, juga perlu menjadi pertimbangan untuk menentukan tipe hunian yang akan dipilih. “Interior yang dibuat seperti apa. Jangan sampai lebih betah di luar dibanding rumah sendiri.  Rumah harus jadi istana yang paling nyaman buat keluarga, jangan jadi kayak gudang,” imbuh Taufan.

Keempat, yaitu mengenai metode pembayaran. Sebelum menentukan cara membayar, baik tunai maupun kredit, cari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika membayar secara tunai, tentunya harus mempunyai uang dalam jumlah besar sesuai harga hunian yang dibeli. Tidak banyak orang yang mempunyai kemampuan seperti itu.

Taufan menyarankan milenial, membayar secara kredit melalui bank. Namun, buatlah penelitian sendiri secara mendalam tentang poin-poin penting yang harus diperhatikan. Jangan sampai karena tergiur dengan promosi pemasaran sehingga menyesal dan kecewa kemudian hari. “Pilih skema bank yang tidak merugikan. Betul-betul riset mendalam KPR yang ditawarkan. Jadi harus punya kemampuan membaca klausul yang ditawarkan,” cetus Taufan.

Kelima, sisihkan 30 sampai 40 persen dari total penghasilan setiap bulan untuk menabung dan membeli rumah. Rinciannya bisa diatur sendiri, misalnya 15 persen untuk tabungan dan 25 persen untuk rumah. Dengan begitu, tabungan bulanan tetap ada, cicilan untuk membeli rumah pun bisa terus berjalan, dan kebutuhan sehari-hari bisa tetap dipenuhi.

“Tinggal atur skemanya. Misalnya gaji Rp 10 juta, Rp 2,5 juta untuk rumah dan Rp 1,5 juta untuk menabung. Tetap bisa menabung dan ada celah untuk rumah walaupun sedikit-sedikit,” pungkas dia.

Tak hanya gawai atau ketersediaan infrastruktur transportasi, cicilan pun  menjadi salah satu gimmick yang ditawarkan pengembang properti untuk menggaet pembeli. Seperti salah satu perumahan di Lebak, Banten, yang dikembangkan, dijual seharga Rp 130 juta untuk tipe 30/60.

Dengan uang muka Rp 7 juta, Anda bisa mencicil hunian tersebut sekitar Rp 725.952 per bulan selama 20 tahun. "Itu sama saja cicilannya Rp 25.000 per hari," ucap salah seorang tenaga pemasaran, saat pameran Indonesia Property Expo 2019 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara, bila ingin mencicil selama 25 tahun, maka setoran bulanan yang harus dibayarkan yaitu Rp 650.050 atau setara Rp 21.000 per hari. Proyek lain yang tak kalah menarik adalah hunian jangkung yang dikembangkan di Cakung.

Berlokasi di Jalan Penggilingan Nomor 56, Cakung, Jakarta Timur, ada dua macam cicilan yang ditawarkan yaitu subsidi dan non subsisid. Untuk KPA subsidi, harga yang ditawarkan mulai dari Rp 170 juta hingga Rp 285 juta.

Besaran uang muka juga bervariasi mulai dari Rp 15 juta hingga Rp 20 juta selama pameran berlangsung. Demikian pula soal angsuran juga bervariasi mulai dari Rp 1 jutaan hingga Rp 2,5 jutaan, tergantung tenornya. "Untuk tenor 15 tahun tipe 1 bed room sekitar Rp 1,85 jutaan. Sama artinya dengan Rp 60 ribuan per hari," kata salah seorang marketing, Prasetyo.

Sementara untuk KPA non subsidi yang ditawarkan mulai dari Rp 365 juta hingga Rp 905 juta. Adapun untuk uang muka yang harus dibayarkan yaitu Rp 31 juta hingga Rp 181 juta. Sedangkan cicilannya berkisar antara Rp 3,3 juta hingga Rp 9,5 jutaan untuk tenor antara 15 hingga 10 tahun. (wok)

Berita Terkait

Nusantara / Usung Konsep Kota mandiri


Baca Juga !.