Headline

Banjir Tak Kunjung Surut, Warga Diserang Penyakit

Redaktur: Juni Armanto
Banjir Tak Kunjung Surut, Warga Diserang Penyakit - Headline

PERLU PERTOLONGAN-Seorang anak bermain di sekitar Patung Yesus yang terendam banjir di Danau Sentani, Jayapura, Papua, Minggu (24/3/2019). Puluhan kampung yang berada di sekitar Danau Sentani masih terendam banjir. Foto: ZABUR KARURU/ANTARA

INDOPOS.CO.ID - Alih-alih pindah ke pengungsian, masih banyak warga yang bermukim di sekitar Danau Sentani memilih untuk bertahan. Akibatnya, serangan penyakit flu, batuk, malaria, diare dan gatal-gatal mulai dikeluhkan oleh warga yang mendiami pesisir Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pascabanjir bandang pada Sabtu (16/3/2019).

Bahkan serangan penyakit tersebut juga dialami para pengungsi. ”Flu, batuk, diare, gatal-gatal dan malaria rata-rata yang kami alami,” kata Zefnath Kaigere seorang warga yang sedang berada di kamp pengungsian, Minggu (24/3/2019).

Ia mengaku belum mendapatkan pelayanan kesehatan dari pihak terkait untuk mengobati berbagai penyakit yang dikeluhkan oleh warga. ”Pelayan kesehatan belum ke sini, mungkin besok atau kapan. Tapi kami juga membutuhkan selimut, bantal, dan kasur untuk tidur karena saya bersama empat kepala keluarga lainnya mengungsi di pinggir jalan,” ucapnya yang mengaku cacat kaki kanan.

Ketua RW 02 di Telaga Maya, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura Baco Kaigere mengaku sudah dilayani oleh petugas Puskesmas dari Kampung Harapan dan juga mendapatkan layanan air bersih. ”Kami di sini sekitar 200 rumah yang terendam banjir atau 150 KK, kami sangat butuhkan MCK, bantal dan kasur,” akunya.

Mengenai tenda untuk mengungsi, Baco mengaku diberikan oleh seorang petugas Polda Papua yang kebetulan tinggal tak jauh dari lokasi mengungsi.

Salah satu kampung yang belum mendapat bantuan adalah Kampung Baru Ayapo. Hal ini terkuak ketika kunjungan dari Pemuda Katolik KOMDA Papua mengunjungi sejumlah kampung yang terdampak luapan air Danau Sentani beberapa waktu lalu.

Ketua Pemuda Katolik KOMDA Papua, Alfonsa Jumkon Wayap menyatakan, sejak terjadi luapan air hingga menyebabkan puluhan kampung terendam banjir, Kampung Baru Ayapo menjadi salah satu wilayah yang belum merasakan bantuan kemanusiaan. ”Kami juga korban bencana luapan air Danau Sentani yang sudah satu Minggu tinggal di tenda- tenda, butuh air bersih, selimut, kelambu dan juga bahan makakan,” tuturnya.

Kondisi air danau yang meluap membuat mobilitas warga semakin sulit. Pun demi mencari nafkah dan bekerja seperti sebelum banjir bandang terjadi.  ”Diperkirakan satu sampai dua bulan baru air danau bisa menurun,” ucapnya.

Jhon Eha, warga lainnya menjelaskan bantuan yang diberikan di posko induk gunung merah Sentani tidak didistribusikan dengan baik, sehingga mereka tidak mendapat bantuan, padahal banyak bantuan disalurkan ke posko tersebut. ”Kalau bisa ingat kami juga warga di pinggiran Danau Sentani, mulai dari tepian kampung Yoka hingga ke kampung ini,” tambah dia.

Sekretaris Daerah Provinsi Papua Titus Emanuel Adopehan Heri Dosinaen mengakui beberapa titik di Danau Sentani mengalami pendangkalan. Hal tersebut membuat air meluber hingga permukiman warga. Terutama saat hujan deras beberapa hari terakhir, sehingga volume air melebihi daya tampung danau. ”Untuk Danau Sentani, ini bisa dikeruk di sejumlah titik atau muara sungai agar airnya bisa menurun," katanya di Jayapura, Sabtu (24/3/2019).

Ia menjelaskan pengerukan itu membutuhkan perhatian khusus dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk soal lingkungan sekitar. ”Jadi ini harus dipertimbangkan dengan baik,” imbuh Dosinaen.

Bupati Jayapura Mathius Awaitaouw mengatakan saran terkait dengan pengerukan danau itu masih perlu dilakukan studi lebih lanjut, termasuk menyangkut analisa mengenai dampak lingkungannya.

Ia juga mengemukakan pentingnya memberikan perhatian kepada masyarakat di sekitar danau itu. ”Yang terpenting adalah bagaimana memperhatikan masyarakat di pesisir Danau Sentani bisa diperhatikan mulai dari penampungan dan lainnya,” terangnya.

Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura merupakan danau terbesar di daerah itu. Pada waktu banjir bandang akhir pekan lalu,  air dari sungai-sungai di Sentani yang bersumber dari Cagar Alam Gunung Cycloop bermuara di Danau Sentani.

Hal itu juga yang diduga salah satu penyebab naiknya ketinggian air Danau Sentani hingga mencapai dua meter, selain intensitas hujan yang tinggi. Puluhan kampung di pesisir Danau Sentani pun terkena dampak banjir hingga menyebabkan ratusan orang mengungsi serta 113 nyawa meninggal dunia. (ant)

TAGS

Berita Terkait

Nasional / Drainase Buntu, 35 Rumah di Rangkasbitung Terendam Banjir

Daerah / Banjir dan Longsor Ancam Wilayah Utara Indonesia

Daerah / Curah Hujang Tinggi, Waspadai Banjir dan Longsor

Banten Raya / Banyak Turap Rusak, Banjir Jadi Ancaman Serius

Megapolitan / Banjir Menyapa saat Sahur Perdana


Baca Juga !.