Megapolitan

Dari Pameran Angkutan Umum Tempo Dulu

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Dari Pameran Angkutan Umum Tempo Dulu - Megapolitan

DAYA TARIK-Indonesia Classic and Unique Bus 2019 di JI-Expo, Jakarta. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Moda transportasi umum terus berkembang. Seperti di Jakarta. Dulu ada oplet dan bemo. Kini, ada bus Transjakarta elektrik. Kendaraan tersebut menjadi saksi perjalanan transportasi umum di Ibu Kota.

NASUHA, Jakarta

Berbagai moda transportasi angkutan umum bisa disaksikan di pameran yang digelar beberapa hari lalu di di JI Expo, Jakarta. Ya, seperti era 60an, 1970-an hingga 2019. Berlebel Indonesia Classic and Unique Bus 2019 . Beberapa mobil klasik menjadi tempat masyarakat untuk berswafoto.

“Ini keren banget, masih terlihat original. Sangat klasik,” ujar salah seorang pengunjung Indonesia classic and Unique Bus 2019 sembari berswafoto bersama pengunjung lainnya.

Di antara koleksi yang disuguhkan colt 120 coach milik Bambang Legowo. Mobil keluaran 1974 ini masih terlihat original dan bagus. Mobil ini dibuat dalam berbagai varian, untuk delica T100 keluaran 1969 sudah mengalami perubahan pada tenaga mesin menjadi 62 PS(46 KW).

Untuk tipe delice 75/ T 120 ini bisa mengangkut 9 orang penumpang. Selain colt, mobil satu ini juga cukup dikenal oleh masyarakat Jakarta tempo dulu. Ya oplet. Oplet milik Salim ini memiliki tipe traveller merek Morris Minor 100. Oplet ini diproduksi 1957 dan merupakan turunan dari generasi pertama 1930. Menjadi moda angkutan umum 1950, oplet kemudian digantikan mikrolet pada 1981 setelah trayek dihapus pada 1979 dan digantikan Koperasi Wahana Kalpika (KWK).

Ada juga bemo. Angkutan umum ini cukup melegendaris dan familier di masyarakat DKI. Secara masal angkutan ini diproduksi pada 1957. Pada pameran tersebut, bemo milik Kinang ini memiliki tipe midget merek Daihatsu keluaran 1957. Midget (kerdil) disematkan pada kendaraan niaga ini karena memiliki ciri khas roda tiga.

Selain ketiga itu, pada 1973 terdapat angkutan umum yang cukup elite di kelasnya. Ya “President Taxi”. Angkutan umum yang cukup populer di eranya ini menggunakan jenis kendaraan sedan tipe corolla KE20 dari Toyota. Mobil keluaran 1973 milik Deva Kumis ini diklaim satu-satunya taksi yang tersisa dalam kondisi baik.

Angkutan legendaris lainnya adalah bus kota era 70-80 an. Bus merek Mercedes-Benz tipe OF 1113 ini memiliki body superior coach 5100 yang saat ini masih dipertahankan menjadi ikon dari PPD.

Selain angkutan dalam kota, pada pameran yang sudah diselenggarakan kali ketiga ini, terdapat bus antar kota antarprovinsi (AKAP) yang berpendingin kali pertama. Bus merek Neoplan tipe transliner keluaran 1996 ini merupakan produksi Jerman. Bus produksi Jerman lainnya adalah Mercedes-Benz OH 306 S. Tipe OH 1113 ini diproduksi 1991 memiliki body PT German Motor Manufacturing.

Bukan saja mobil klasik yang menjadi magnet. Beberapa moda transportasi umum modern menjadi suguhan tersendiri untuk dinikmati. Di antaranya bus Transjakarta produksi Mobil Anak Bangsa (MAB).

Memiliki desain interior yang mewah dengan warna lampu bervariatif. Bus ini rencananya akan digunakan pada program Jak Lingko Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Menggunakan sistem elektronik, bus Transjakarta ini memiliki tangga ramah disabilitas.

“Kelebihan mobil ini pengoperasiannya lebih smooth apabila dibandingkan mobil konvensional,” ujar teknisi PT MAB, Soni, 55, ditemui di pameran, Minggu (24/3/2019). Ia menjelaskan, bus Tranjskarta buatan MAB ini memiliki tenaga yang lebih merata. Sehingga saat dikemudikan, menurut putra kedua dari empat bersaudara pasangan almarhum Darmojo dan Hardati, 83, ini bus tidak ada hambatan saat dipacu dari 0 km/ jam hingga 100 km/ jam.“Bus ini seperti kereta listrik. Jadi tidak harus oper gigi. Apabila dibandingkan bus Tranjakarta yang dioperasikan saat ini, bus ini jauh kedap suara dan tidak berisik,” ungkapnya.

Menurut suami Amalia, 50, ini, bus Transjakarta MAB memiliki pendingin yang baik. Karena menggunakan mesin pendingin yang biasa dipakai di perumahan. Selain itu, semua kompresor, evaporator, dan kondensor berada di atas, sehingga tidak membebani mesin. “Bus memiliki kapasitas penumpang 60 orang,” bebernya.

Pria yang dikarunia tiga orang anak dari perkawinannya dengan Amalia ini menuturkan, rencananya bus akan dioperasikan pada Mei mendatang. Pada uji coba tersebut bus akan dioperasikan sebanyak empat unit dengan rute Senayan-Monas. “6 bulan uji coba, bus gratis untuk masyarakat di Jakarta,” ucapnya.

Koordinator Indonesia Classic and Unique Bus 2019 AM Fikri mengatakan, penyelenggaraan sudah dilakukan kali ketiga. Pada pameran ditampilkan angkutan umum yang lama (tempo dulu). “Selain sebagai pengingat, pameran untuk mengajak masyarakat untuk naik bus dan mengedukasi masyarakat tentang sejarah transportasi bus di Indonesia,” ujar Fikri.

Selain menampilkan kendaraan klasik, menurut pria yang mengaku lulusan Unair ini, mengatakan, pada pameran juga hadir bus world akademik. Menghadirkan bus berbasis perkotaan yang dimeriahkan legenda transportasi Indonesia. Dari tempat tinggal hingga AKAP.

“Kita tampilkan feeder orang di perkotaan, dari rumah ke terminal dengan oplet dan bemo. Dan kita juga tampilkan angkutan pedesaan seperti colt, yang masih familier pada 90 an,” terangnya.

Legenda transportasi Indonesia tersebut, menurut Fikri, menggambarkan mini sistem transportasi Indonesia tempo dulu. Semuanya memiliki keunikan masing-masing pada masanya. “Semua yang kami tampilkan mewakili tahun masing-masing. Seperti 60, 70, tahun 80 hingga 90 akhir,” ucapnya.

Suksesnya penyelenggaraan, dikatakan Fikri berkat kerja sama dengan BUMD dan sejumlah komunitas kendaraan. Semua koleksi kendaraan klasik masih bisa dioperasikan.

Kepada INDOPOS, Bambang Legowo, 53, salah satu pemilik kendaraan klasik, mengatakan, secara teknik mesin tidak memerlukan perawatan yang sulit. Karena, secara berkala, mesin harus dikontrol terutama saat hendak digunakan untuk menempuh jarak jauh. “Kalau untuk harian kita tidak kontrol, tapi untuk keluar kota untuk even paling cek oli gardan, air radiator, dan mesin,” ujar Bambang Legowo.

Menurut pria yang mengaku lulusan Akademi Sekretari Manajemen Indonesia (ASMI) ini, perawatan mobil klasik tidak jauh dengan mobil pada umumnya. Beberapa onderdel masih mudah ditemukan di beberapa pasar otomotif di Indonesia. “Ya paling kalau kesulitan mencari onderdil, kita chat di media sosial komunitas. Kita kebetulan ada komunitas, biasanya akan saling berbagi,” katanya.

Bambang menuturkan, beberapa penanganan yang harus rutin pada mobil tua di antara pada rem. Beberapa mobil tua yang sudah dimodifikasi, menurut Bambang, akan menambah nilai jual. Beberapa kendaraan jenis niaga masih mudah ditemukan dengan harga yang terjangkau. “Untuk niaga harga di bawah Rp 30 juta. Kalau yang sudah modifikasi seperti 2 kabin harganya sudah tidak bisa di niaga,” ungkapnya.

Bambang menuturkan, mendapatkan mobil colt double kabin empat tahun yang lalu di Sragen dengan harga Rp 55 juta. Namun setelah dimodifikasi dengan beberapa aksesori, harganya sudah tidak di pasaran. “Harga sudah suka sama suka, jadi bisa nego,” tutupnya. (*)

TAGS

Berita Terkait

Megapolitan / Menjahit Asa Hidup ala Penjahit DPR Bukit Duri

Headline / Surga di Bawah Kabut


Baca Juga !.