Megapolitan

Rahmat, Anak Penjual Sayur Keliling-Tukang Ojek Jadi Bintara Terbaik

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Rahmat, Anak Penjual Sayur Keliling-Tukang Ojek Jadi Bintara Terbaik - Megapolitan

BANGGA - Rahmat bersama kedua orangtuanya dan adiknya. Foto: Rahmat untuk Indopos

INDOPOS.CO.ID - Awalnya diajak rekannya. Siapa sangka, Rahmat, 20, meraih lulusan terbaik pendidikan pembentukan bintara Polri Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Metro Jaya 2018-2019.

NASUHA, Jakarta

Sejak 4 Maret lalu Rahmat menjalani masa orientasi di Puslabfor Bareskrim Mabes Polri selama satu bulan. Di masa orientasi ini, pria lajang anak pedagang sayur keliling dan tukang ojek ini belajar dengan para seniornya. “Pertama saya takut, nggak tahu apa-apa. Bingung mau mengerjakan apa,” ujar Rahmat kepada INDOPOS di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Menurut pemuda kelahiran Boyolali, 24 Juni 1999 ini, dia tidak sungkan bertanya kepada seniornya. Karena, setiap hari diperkenalkan dengan bidang yang berbeda-beda. “Kalau yang lain kerja, terus kita terlihat menganggu kan nggak enak. Jadi harus banyak nanya ke senior,” ungkapnya.

Usaha Rahmat menjadi bintara mematahkan stigma yang menyebutkan jika ingin menjadi anggota kepolisian harus dengan biaya mahal. Anak pasangan Suryadi, 42, dan Komariyah, 38, ini sebelum mendaftar menjadi siswa SPN melatih fisik secara keras di kawasan Bandara Halim Perdanakusuma.“Setiap masuk kerja sore hari, paling pagi harinya lari di Halim Perdanakusuma,” ucapnya.

Saat pendaftaran bintara Polri 2018-2019 dibuka, ia ingin menjadi salah satu pendaftar. Itu pun karena diajak satu rekannya. Keinginan bulat untuk menjadi bintara kemudian diutarakan kepada kedua orangtuanya. Namun, kedua orangtuanya hanya beranggapan itu hanya mimpi.

“Kan masuk polisi uangnya bisa ratusan juta, emak duit dari mana. Jangankan seratus juta, seribu rupiah saja kalau emak nggak dorong gerobak nggak bakal dapat,” ucap Rahmat menirukan ucapan emaknya, Komariyah.

Namun, Rahmat dengan sabar memberikan pemahaman kepada kedua orangtuanya bahwa masuk kepolisian tidak harus dengan uang. Ia ingin sekali membuktikan itu. “Saya saat itu hanya minta kepada emak untuk mendoakan usaha Rahmat, karena doa ibu itu diijabah oleh Tuhan,” kata Rahmat.

Rahmat kemudian bergegas mendaftar ke Mapolresta Jakarta Timur. Namun usahanya tidak mudah. Ia sempat berdebat dengan petugas pendaftaran. “Saya mendaftar hari terakhir. Dulu kan namanya Sekolah Asisten Apoteker (SAA), sementara saat saya sekolah namanya SMK Farmasi. Saya ditolak, padahal dua nama sekolah ini sama,” terangnya.

Ia kemudian menunjukkan sertifikasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tetapi usahanya tetap ditolak. Karena, usahanya untuk memberikan informasi kepada petugas tidak bisa, ia melakukan protes ke Polda Metro Jaya. “Akhirnya saya protes ke polda. Dan petugas dari polda merekomendasi saya untuk kembali mendaftar dan siangnya saya kembali ke Polres Jakarta Timur untuk mendaftar. Akhirnya saya diterima mendaftar,” katanya.

Usaha keras Rahmat untuk mendaftar mendapat apresiasi dari petugas pendaftaran. Karena, ia berani melakukan protes hingga Polda Metro Jaya. “Saat diterima petugas pendaftaran, ia bangga dengan usaha saya. Sampai petugas kemudian bertanya, apa pekerjaan orangtua saya sampai saya keras untuk mendaftar. Saya hanya menjawab pekerjaan orangtua saya penjual sayur keliling dan tukang ojek. Mendengar itu, petugas malah bangga kepada saya,” ungkapnnya.

Diterima dalam pendaftaran tidak serta merta pasti masuk. Serangkaian tes harus diikuti Rahmat. Lagi-lagi usaha Rahmat tidak mudah. Menyandang karyawan perusahaan farmasi, Rahmat harus berdebat dengan manajemen perusahaan.“Besok mau tes saja, saya masih tidak diizinin bolos. Jadi saya masih harus bekerja. Sebenarnya perusahaan tidak memberikan izin saya resign, tetapi akhirnya dikasih,” ujarnya.

Rahmat mengatakan, masuk Agustus. Selanjutnya harus mengikuti pendidikan selama tujuh bulan di SPN Polda Metro Jaya, Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Dia berhasil memeroleh nilai tertinggi di antara 8.389 bintara remaja yang dilantik sebagai anggota Polri pada 4 Maret lalu. “Penghargaan medali emas dikalungkan langsung oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Pramono dalam upacara pelantikan,” ungkap Rahmat bangga.

Rahmat mengatakan, usahanya menyandang bintara terbaik tidak mudah. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Nilai tertingginya, menurutnya merupakan gabungan penilaian dari tes mental, akademik, dan tes jasmani. “Saya tidak menyangka menjadi lulusan bintara terbaik,” ucapnya.

Ia mengaku, tidak memiliki persiapan yang lebih untuk menghadapi ujian. Karena setiap hari hanya diberikan waktu satu jam untuk belajar. Yang dibutuhkan untuk menghadapi ujian adalah persiapan mental. Karena dengan jiwa terdepan bisa memberikan motivasi untuk menjadi terdepan. “Saya tidak mau kayak yang lain. Saya ingin banggakan orangtua, saya ingin orangtua saya bisa dipanggil saat kelulusan dan duduk bersama Kapolda. Tidak semua orang bisa duduk bersama Kapolda. Semangat saya itu,” katanya.

Rahmat menuturkan, sebelum ujian, semua calon bintara menerima kisi-kisi untuk dipelajari. Ia memanfaatkan waktu tersebut dengan baik. Namun, ia tetap menemukan kendala. “Soalnya lumayan sulit. Di akademik, khususnya pasal-pasal KHUP nilai saya rendah. Karena banyak yang terbalik dan tertukar-tukar,” ungkapnya.

Nilainya terdongkrak oleh nilai ujian jasmani. Ia berhasil meraih nilai 75, sementara pada akademik pasal-pasal, ia hanya mendapatkan nilai 67. Nilai yang sama seperti pasal-pasal juga ia peroleh pada bidang multimedia. “Tapi nilai saya dinyatakan stabil. Untuk jasmani saya peringkat kedua untuk lari 3100 meter dalam 12 menit,” katanya.

Satu hari jelang pelantikan, Rahmat sudah mengetahui namanya masuk dalam bintara terbaik. Rahmat masih tidak percaya saat itu. Ia kemudian memberitahu kedua orangtuanya. “Saya telepon emak, menjadi lulusan terbaik. Emak saat dagang langsung nangis,” ungkapnya.

Terpilih menjadi bintara terbaik, Rahmat bertekad menjaga nama tersebut. Karena itu sebuah kepercayaan. Impiannya saat ini ingin meningkatkan karirnya di kepolisian dengan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ditemui INDOPOS, Suryadi dan Komariyah berkaca-kaca saat bercerita kesuksesan anaknya menjadi bintara terbaik pendidikan pembentukan bintara Polri SPN Polda Metro Jaya 2018-2019. Komariyah mengaku, mendapat kabar tersebut saat berjualan keliling. Karena tidak percaya, Komariyah meyakinkan Rahmat untuk mengecek kembali kabar tersebut. “Itu terbaik peleton atau se-SPN,” ujarnya.

Untuk datang saat pelantikan, Komariyah berbelanja pakaian yang layak bersama suaminya di Pasar Jatinegara. Ia membeli pakaian kebaya dan pakaian batik. Tidak hanya itu, Komariyah mengajak saudaranya dari Jawa untuk datang pada pelantikan tersebut. “Pakde Rahmat sangat dekat dengan Rahmat. Ia pernah mengasuh Rahmat saat kecil dulu,” katanya.

Setibanya di upacara pelantikan, Komariyah mengaku bahagia. Karena bahagianya ia tak sanggup menahan tangis. Saat dipanggil Rahmat, hati Komariyah bercampur aduk. Ia bangga karena anaknya bisa meraih bintara terbaik. “Usai upacara pelantikan, Rahmat mengajak saya pulang kampung. Ia ingin menunjukkan prestasinya, karena selama ini hanya dicemooh oleh masyarakat karena dari keluarga tidak mampu,” ungkapnya.

Komariyah dan Suryadi kini ingin melihat Rahmat menjadi anak yang sukses. Untuk itu, ia hanya bisa memberikan doa dan keleluasaan kepada Rahmat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. “Kita hanya bisa ngasih doa, kalau mau melanjutkan pendidikan, ya kita dukung,” ujar Suryadi. (*)

TAGS

Berita Terkait

Megapolitan / Menjahit Asa Hidup ala Penjahit DPR Bukit Duri

Headline / Surga di Bawah Kabut


Baca Juga !.