Megapolitan

Perceraian Tinggi, Sehari 28 Wanita Jadi Janda di Bogor

Redaktur: Syaripudin
Perceraian Tinggi, Sehari 28 Wanita Jadi Janda di Bogor - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID - Angka perceraian di Bogor masih cukup tinggi. Salah satu penyebabnya masih maraknya pernikahan dini. Dalam dua bulan terakhir, angka perceraian di Kabupaten Bogor cukup fantastis.

Jumlah kasusnya mencapai 1.662 pengajuan. Untuk Kota Bogor, pada Januari dan Februari mencapai 170 untuk cerai gugat dan 60 untuk cerai talak.

Sedangkan di Kabupaten Bogor rupanya lebih banyak, yakni 1.013 untuk gugat dan 303 untuk talak. Jika dirata-rata dari 1.662 kasus selama dua bulan terakhir, maka setidaknya ada 28 wanita yang menjanda di Kota dan Kabupaten Bogor dalam sehari.

Data yang dihimpun dari Pengadilan Agama Kelas 1A Cibinong, sejak awal Januari hingga akhir Februari ada 1.316 pasangan yang mengajukan cerai. Terdiri dari cerai talak 303 kasus dan cerai gugat 1.013 kasus.

Sedangkan di Pengadilan Agama Bogor Kelas 1A ada 346 kasus pengajuan cerai. Terdiri dari cerai talak 76 kasus dan cerai gugat 270 kasus.

Namun jumlah itu belum termasuk ajuan gugat cerai yang masih diproses pada tahun kemarin di Pengadilan Agama Kelas 1A Cibinong dan Pengadilan Agama Bogor Kelas 1A. Menanggapi hal itu, Kepaniteraan Muda Pengadilan Agama Kelas 1A Cibinong, Teti Sunengsih menuturkan, dari 1.316 kasus pengajuan perceraian itu didominasi diajukan kaum perempuan. Rata-rata yang melakukan gugat cerai itu pada usia cukup umur antara 30 hingga 40 tahunan.

Teti menjelaskan, angka pengajuan perceraian di Kabupaten Bogor cukup tinggi. Menurutnya, ada beberapa faktor yang dominan penyebab perceraian bisa terjadi. Seperti tidak adanya keharmonisan, tidak adanya tanggung jawab, ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), media sosial hingga lain sebagainya.

”Kebanyakan karena itu. Tetapi ada juga yang karea perselingkungan hingga kurangnya rasa puas dalam berhubungan intim,” ujarnya seperti dikutif dari metropolitan (INDOPOS Group), Senin (25/3/2019). Namun, lanjutnya, dari gugatan perceraian itu tidak semuanya direalisasi Pengadilan Agama.

Sebab sebelum perceraian diputus, pihaknya melakukan mediasi terlebih dahulu kepada kedua belah pihak, apakah hubungan tersebut masih bisa di pertahankan atau memang benar-benar ingin bercerai.

“Jadi ada tahapannya. Kita lakukan mediasi antara kedua belah pihak. Syukur-syukur masih bisa diperbaiki dan tidak jadi cerai. Kebanyakan yang mengajukan berusia 30-40 tahun,” ujar Teti.

Hal serupa juga terjadi di Kota Bogor. Menurut Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bogor Kelas 1A, Agus Yuspian, angka perceraian yang diajukan perempuan masih tinggi. Penyebabnya paling banyak karena faktor ekonomi. “Perempuan yang mendominasi pengajuan cerai di Kota Bogor. Setiap harinya tiga majelis kami menangani 40 perkara. Dan khusus tahun ini kami sudah menangani 337 kasus perceraian,” kata Agus.

Sementara psikolog lulusan Universitas Indonesia, Ajeng Raviando, menjelaskan selain penyebab terbesar meningkatnya angka perceraian karena hubungan yang sudah tidak harmonis, juga pasangan tidak bertanggung jawab, ada pihak ketiga dan faktor ekonomi.

Para pasangan suami-istri masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding pasangan generasi sebelumnya. Tantangan-tantangan tersebut juga menjadi penyebab meningkatnya angka perceraian suami istri masa kini.

”Tahun pertama itu sudah bisa rentan karena penuh percobaan. Sebelum menikah, banyak ekspektasi dan tahun pertama mulai melihat realitasnya,” kata Ajeng.

Menurutnya, setelah melewati lima tahun pertama dan jelang sepuluh tahun bersama, juga ada cobaan lain yaitu bosan karena rutinitas.

Pasangan masa kini menghadapi tiga tantangan besar. Pertama, kesulitan melakukan komunikasi secara efektif.
”Sekarang sering terjadi phubbing, di mana kita tidak melakukan bicara face to face dan hanya sibuk dengan gadget masing-masing,” ucapnya.

Hal berbeda diungkapkan psikolog Kasandra Putranto. Menurutnya, pernikahan dini menjadi penyebab utama perceraian. Saking maraknya pernikahan dini, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil perceraian tertinggi.

”Pada dasarnya Indonesia adalah salah satu negara penghasil perceraian tertinggi. Termasuk di dalamnya adalah perceraian dini, yang sebagian besar disebabkan karena pernikahan dini,” kata Kassandra.

Tentunya pernikahan dini memiliki berbagai macam dampak negatif dalam suatu hubungan. Salah satunya ketidaksiapan mental seseorang. Tentunya di usia yang masih belia, seorang anak masih ingin hidup bebas dan belum memiliki kematangan emosional. (mul/d/rez/mam/run)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Ketika Tingkat Perceraian Makin Tinggi di Bogor


Baca Juga !.