Ekonomi

Efek OTT, Saham KRAS Longsor

Redaktur: Jakfar Shodik
Efek OTT, Saham KRAS Longsor - Ekonomi

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Mengawali pekan ini, harga saham PT Krakatau Steel (KRAS) di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) tumbang. Sepanjang perdagangan, saham perusahaan baja negara tersebut beredar diteritori negative. Efeknya, menyudahi perdagangan, saham perusahaan terjungkal 4,13 persen menjadi Rp 464 per saham dengan volume transaksi mencapai 18,6 juta unit senilai Rp 8,71 miliar.

Koreksi saham perusahaan bisa dimaknai ganda. Pertama, bisa faktor karena sentimen pasar. Sebab, diakui atau tidak, kondisi pasar tengah mengalami pelemahan. Jadi, untuk melihat apakah koreksi empat persen itu masuk dalam taraf wajar atau tidak, harus dilihat kelanjutannya. ”Kalau menilik keseluruhan pasar, kejatuhan saham empat persen itu relatif dalam,” tutur Pengamat pasar modal Satrio Utomo ketika dihubungi di Jakarta, Senin (25/3/2019).

Menilik data market, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 114,02 poin (1,75 persen) menjadi 6.411. Koreksi itu terjadi menyusul tiga dari sembilan sektor anjlok yaitu consumer minus 2,77 persen, Misc-Ind defisit 2,46 persen, dan properti tekor 1,75 persen. Selain itu, indeks regional Asia juga tengah dalam kondisi tidak baik. Nikkei Jepang anjlok 3,01 persen, Shanghai China 1,97 persen, dan Hangseng Hongkong 2,03 persen. ”Meski anjlok dalam, bisa jadi ikut terpapar irama pasar,” imbuhnya.

Sepanjang enam bulan terakhir, saham perusahaan pernah menyentuh titik nadir di kisaran Rp 366 per lembar. Itu terjadi pada 30 Oktober 2018. Selanjutnya, pernah menyundul posisi tertinggi di level Rp 525 per saham pada 11 Februari 2019. Kini menyusul operasi tangkap tangan (OTT) salah satu direksi perusahaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ”Nah, faktor kedua yaitu insiden OTT itu membuat pasar antipati pada perusahaan. Tata kelola perusahaan menjadi pertanyaan besar dikalangan pemodal,” imbuh Satrio.

Hal senada diungkap analis senior pasar modal Reza Priyambada. Reza tidak memungkiri fakta kasus OTT terhadap salah satu direktur perusahaan menjadi sentiment negatif. Dikala perusahaan berjuang menghadapi gejolak market global, peristiwa tersebut menjadi pukulan telak terhadap kinerja perusahaan. Citra perusahaan yang tengah dibangun dengan susah payah hancur seketika. ”Ibarat kemarau setahun terhapus hujan sekejap. Perusahaan mendapat sentiment negatif luar dalam,” tegas Reza.

Sebetulnya bilang Reza, perusahaan akan mendapat bantuan dari laporan keuangan. Kalau positif, laporan keuangan tersebut sedikit banyak akan menahan kejatuhan saham perusahaan. Namun, itu semua tergantung keseriusan manajemen dalam membenahi internal perusahaan. ”Untuk sementara, saham perusahaan akan beredar di kisaran Rp 440-450 per lembar,” ramal Reza.

Sementara itu, operasional perusahaan Senin (25/3/2019) berjalan normal. Sejumlah tugas strategis, saat ini diambilalih Direktur Utama Perusahaan Silmy Karim dan operasional sehari-hari dibantu direksi lain yaitu Rahmat Hidayat. Karena itu, Silmy optimistis akan prospek perusahaan. ”Operasional perusahaan berjalan seperti biasa,” ucap Silmy.

Silmy menggaransi produksi baja tetap berjalan seperti biasa. Proyek-proyek yang saat ini dikerjakan juga tetap berjalan. ”Saya tegaskan terkait kinerja tidak akan terpengaruh. Yang bisa mempengaruhi kinerja adalah murni kondisi pasar dan kondisi  ekonomi,” tegas  Silmy.

Saat ini, produk baja menjadi penekan terbesar impor nomor tiga. Itu karena banyak baja impor. Usaha mengembalikan kejayaan industri baja nasional berjalan dengan baik. (dai)    

 

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Jual Beli Saham Investor Asing Ditutup Rp 226,48 Miliar

Headline / IHSG Ditutup Menguat, Dipicu Surplus Neraca Perdagangan

Headline / IHSG Ditutup Menguat

Ekonomi / Investasi Bisa Dimulai dari Uang Kembalian

Ekonomi / BEI Finalisasi Aturan Saham Gocap


Baca Juga !.