Lebih Colorful, Eijkman Turun

INDOPOS.CO.ID – Pemerintah Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan bahwa enam ekor komodo yang diselundupkan dalam kasus jual beli komodo yang dibongkar Polda Jawa Timur (Jatim),  bukan berasal dari Taman Nasional (TN) Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Dari penampakkan morfologi fisiknya itu (komodo-komodo yang diselundupkan, Red) bukan dari Taman Nasional Komodo, tapi dari daratan Flores Utara. Kondisinya lebih kecil dan lebih ‘colorful’ (berwarna-warni),” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Baca Juga :

74 Ekor Bayi Komodo Lahir

Untuk memastikan asal komodo yang diselundupkan itu, lanjut dia, saat ini Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sedang melakukan tes DNA terhadap komodo-komodo itu. “Ini sedang kita tes DNA-nya di Eijkman untuk melihat karena peta genetika peta DNA komodo ini sudah dimiliki oleh LIPI nanti kita cek petanya dengan pakar,” ujarnya.

Dia berharap hasil uji DNA komodo-komodo yang diperjualbelikan itu dapat segera diperoleh dalam waktu dekat. “Kita sedang menunggu, prosesnya sudah dimasukkan ke Eijkman, semoga dalam waktu seminggu atau dua minggu ini sudah kita dapatkan,” ujarnya.

Menurut Wiratno, komodo-komodo yang ditangkap di luar taman nasional itu jauh lebih eksotik dibandingkan komodo yang berada di dalam taman nasional, karena lebih berwarna-warni.

Sementara itu, DPRD NTT mensinyalir kasus perdagangan komodo itu melibatkan jaringan internasional. “Tentunya kita menunggu uji forensik dari labfor Polda Jatim untuk memastikannya, tetapi dengan analisis gelagat jaringan, kuat dugaan terlibatnya jaringan internasional,” kata Wakil Ketua DPRD NTT Yunus Takandewa di Kupang, NTT, kemarin.

Dia mengemukakan hal itu terkait kemungkinan keterlibatan mafia internasional dalam kasus perdagangan komodo. Karena itu, KLHK segera mengambil langkah konkret dengan melibatkan lintas kementerian dan Polri untuk mengusut tuntas kasus ini. ”Langkah-langkah strategis penting segera diambil, untuk menjaga wibawa bangsa di mata internasional,” kata Yunus dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Darmawa menyesalkan adanya kasus jual beli komodo dengan harga per ekor Rp 500 juta yang berhasil dibongkar Polda Jatim ketika hendak dikirim ke luar negeri. Wayan mengaku sudah berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK terkait kasus itu. Wayan juga sudah berkoordinasi dengan Polres Manggarai Barat soal kasus itu dan saat ini Polres setempat tengah melakukan investigasi kasus komodo untuk mengetahui siapa sesungguhnya dalang dibalik aksi tersebut.

Sebelumnya, Polda Jatim mengungkap penjualan 41 komodo ke luar negeri dengan harga Rp 500 juta per ekor oleh jaringan penjahat, yang sudah tujuh kali melakukan aksi semacam itu sejak 2016 sampai 2019. Menurut polisi, tersangka melakukan aksinya dengan mengambil anak-anak komodo setelah membunuh induknya. (ant)

Komentar telah ditutup.