Bola Dunia

Cinderella Itu Bernama Getafe dan Alaves

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge
Cinderella Itu Bernama Getafe dan Alaves - Bola Dunia

Jonathan Calleri. Foto: ISTIMEWA

INDOPOS.CO.ID - La Liga potensial menghadirkan dua klub debutan Liga Champions pada musim 2019 – 2020. Dari empat tiket lolos langsung ke fase grup Liga Champions, satu tiket yang bisa jadi rebutan dua cenicientas atau dua cinderella. Dua klub tersebut adalah Getafe dan Deportivo Alaves.

Kalau Getafe sementara masih di top four, Babazorros -julukan Alaves- sudah mengintip di peringkat kelima dengan selisih dua poin. Sebenarnya, satu slot itu masih bisa dikejar Sevilla dan Valencia. Sebab dua klub itu sama-sama punya 43 poin. Terpaut satu poin dari Alaves. Tapi keduanya masih punya histori turun dalam perebutan Si Kuping Lebar -trofi Liga Champions.

Alaves sejak lolos ke putaran kedua Piala UEFA 2002 – 2003 tak pernah lagi kembali ke Eropa. Apalagi ke Liga Champions. Finis sebagai top four La Liga pun akan jadi capain terbaik dalam histori 98 tahun klub dari kota Alava itu. ''Kami hanya klub sederhana yang tidak banyak menghabiskan banyak uang seperti Sevilla atau Valencia yang lebih layak finis top four. Namun kami juga ingin seperti mereka (lolos Liga Champions),'' ucap bomber Alaves Jonathan Calleri, dalam wawancaranya kepada Marca.

Calleri menyebut, finis top four selalu jadi bahan omongan di dressing room Alaves. Dia menyebut, target yang awalnya hanya bertahan di La Liga pun berubah jadi memburu satu tiket lolos ke Eropa. Minimal Liga Europa. Start bagus dia sebut sebagai kunci kejutan skuad asuhan Abelardo musim ini. Alaves sempat menjejak posisi kedua La Liga pada jornada 10.

''Kami sudah menikmati kepercayaan diri kami,'' tambah pemain 25 tahun yang menjadi pemain pinjaman dari Deportivo Maldonado sejak musim panas 2018 lalu itu. Getafe pun dapat dikategorikan sebagai cinderella seperti Alaves. Pasalnya salah satu klub dari ibukota itu belum sekalipun menjejakkan kaki di Liga Champions. Kali terakhir turun di pentas Eropa adalah saat fase grup Liga Europa 2010 – 2011 dan perempat final Piala UEFA 2007 – 2008.

Selain di La Liga, Eintracht Frankfurt dan Atalanta juga merasakan hal serupa. Bedanya, kans Frankfurt lebih besar untuk finis di empat besar klasemen. Setelah terakhir menjadi finalis European Cup 1959 – 1960, klub berjuluk Die Adler itu lebih banyak berkutat pada ajang kelas kedua Eropa seperti Piala UEFA/Liga Europa, Piala Intertoto, atau Cup Winner's Cup. ''Mimpi-mimpi kami takkan terhenti,'' koar der trainer Frankfurt Adi Huetter seperti dikutip Frankfurter Allgemeine Zeitung.

Frankfurt diuntungkan dengan adanya beberapa pemain yang punya pengalaman main di klub besar atau merasakan atmosfer Liga Champions. Misalnya Kevin Trapp yang pernah turun membela Paris Saint-Germain di empat edisi Liga Champions. Atau, gelandang Sebastian Rode  yang pernah membela Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen dalam ajang paling bergengsi antar klub Eropa itu antara 2014 – 2015 hingga 2016 – 2017. ''Mentalitasnya dapat menguatkan kami,'' tambah Huetter. (koc)

Berita Terkait

Bola Dunia / Jaga Kredibilitas Messi

Bola Dunia / Sudah Ancang-ancang The Reds

Bola Dunia / Menang di Getafe, Barcelona Garansi Gelar di Akhir Musim

Total Football / Pochetino Kepepet

Total Football / Nyaris Gila, Morata Rutin ke Psikolog

Total Football / Mileneal El Real Ini Bukan Solusi


Baca Juga !.