Awas Anggaran Ikutan Jebol, Tanggul Tak Kuat Menahan Banjir

INDOPOS.CO.ID – Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Ibu Kota pada Selasa (2/4/2019) petang, membuat warga Kampung Pulo, Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur kelimpungan.

Permukiman warga setempat kebanjiran hingga satu meter. Penyebabnya, tanggul jebol sama halnya dengan kawasan Jatipadang, Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Peristiwa tersebut diungkapkan Didin Darmawan, 34, warga RT 07/04 Pinang Ranti, Jakarta Timur. Dikatannya, hujan deras yang berlangsung selama sekitar dua jam, mulai dari pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB itu memicu kenaikan Kali Cipinang.

Bahkan aliran air Kali Cipinang yang membelah permukiman warga RW 04 Pinang Ranti itu, juga memenuhi jalan. Jelang maghrib atau sekitar pukul 17.30 WIB, air semakin tinggi hingga mencapai lutut orang dewasa.

Kenaikan air diungkapkan Didin sangat cepat. Kedalaman banjir menurutnya, telah mencapai satu meter di jalanan. Banjir pun telah memenuhi sebagian rumah warga yang memiliki pondasi rumah rendah. ”Paling tinggi sekitar semeter, ada juga yang lebih yang rumahnya (warga) masih di bawah (rendah). Warga udah siap-siap angkut barang ke atas, takutnya banjir makin tinggi,” ungkapnya ditemui pada Rabu (3/4/2019) siang.

Kekhawatiran warga rupanya tidak menjadi nyata, banjir sambungnya, bertahan hingga lewat jam 12 malam. Derasnya aliran Kali Cipinang pun diungkapkannya telah mereda lewat tengah malam.

Kendati demikian, sejumlah warga, khususnya para kaum Adam katanya, tetap menggelar ronda hingga Rabu (3/4/2019) pagi. Mereka berjaga apabila banjir kiriman tiba.

”Alhamdulillah air turun pas jam tiga. Banjir bener-bener kandas. Warga pagi ini sudah mulai bersih-bersih, kebetulan juga kan hari ini hari libur, jadi pada kerja bakti,” ungkapnya.

Pemicunya karena tanggul saluran penghubung (PHB) jebol. Tanggul tersebut berada di RT 07/04 Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur. Tanggul yang memisahkan wilayah markas Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma dengan permukiman warga Kampung Pulo itu terlihat ambrol.

Tanggul berupa susunan batako tanpa diperkuat semen itu terlihat hancur dengan panjang sekitar empat meter. Akibatnya, air yang mengalir di saluran PHB masuk hingga membanjiri empang hingga puluhan rumah warga di RW 04 Pinang Ranti.

Sutrisno, 58, warga RT 07/04 Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur mengungkapkan, jebolnya tanggul dikarenakan besarnya debit air saat hujan deras mengguyur pada Selasa (2/4/2019) sore.

Sehingga, dikatakannya, bukan hanya limpasan Kali Ciliwung, banjir juga dikarenakan derasnya aliran air yang berasal dari saluran PHB Halim Perdanakusuma.

Tak ayal, banjir yang semula terlihat sejak menjelang maghrib atau sekira pukul 17.30 WIB itu diungkapkannya sangat cepat naik. Genangan yang semula setinggi selutut orang dewasa naik mencapai satu meter hanya dalam waktu 15 menit.

”Jadi banjir sebenarnya karena tanggul itu jebol, kalau air limpas dari Kali Cipinang nggak terlalu banyak. Karena biasanya kalau air naik juga cuma limpas sedikit, nggak sampai banjir udah surut lagi. Air antre,” ungkapnya ditemui di rumahnya pada Rabu (3/4/2019) siang.

Terkait hal tersebut, dirinya maupun warga RW 04 Pinang Ranti berharap agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur dapat memperbaiki tanggul tersebut. Sebab, warga khawatir banjir bakal kembali datang apabila tidak cepat perbaiki.

”Biasanya memang nggak banjir, udah lama juga wilayah sini nggak banjir, dua tahun belakangan kayaknya nggak banjir. Baru kali ini aja banjir lagi karena tanggul jebol. Harapan warga ya supaya bisa diperbaiki saja, takutnya hujan lagi pasti banjir lagi,” katanya.

Jebolnya turap yang disebut sebagai pemicu banjir di permukiman warga Kampung Pulo Makasar disebutkan telah berulang kali terjadi. Namun turap kembali jebol lantaran dibangun seadanya atas swadaya masyarakat. Kenyataan pahit itu disampaikan oleh Sutrisno warga RT 07/04 Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur.

Diungkapkannya, turap yang berada persis di seberang rumahnya itu kerap kali jebol apabila hujan deras turun. Hal tersebut dipicu besarnya debit air yang mengalir di saluran penghubung (PHB) Markas Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma. ”Jadi memang sudah sering banget jebol, karena memang dibangun warga seadanya, seurunan (patungan) warga aja,” pungkasnya.

Buruknya konstruksi tanggul ditunjukkan dari kondisi tanggul yang berada di RT 07/04 Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur itu. Tanggul berupa susunan batako itu tidak diperkuat semen, sehingga diperkirakannya tanggul rusak akibat terkikis air. Kondisi tanggul pun kikis dan terlihat memprihatinkan. Tanggul terlihat hancur dengan panjang sekitar empat meter, sehingga air yang mengalir di saluran PHB masuk hingga membanjiri empang hingga puluhan rumah warga di RW 04 Pinang Ranti.

”Jadi kalau hujan deres itu air banyak terus kenceng, bisa sampai tinggi lewati tanggul. Nah sementara tanggul cuma tembok biasa, nggak lama dibangun pasti jebol juga,” sambungnya sembari menunjuk sisi tanggul.

”Biasanya memang nggak banjir, udah lama juga wilayah sini nggak banjir. Dua tahun belakangan kayaknya nggak banjir. Baru kali ini aja banjir lagi karena tanggul jebol. Harapan warga ya supaya bisa diperbaiki saja, takutnya hujan lagi pasti banjir lagi,” ujarnya.

Permintaan tersebut pun diungkapkannya sangat beralasan, lantaran warga memiliki keterbatasan dana. Sementara tanggul tidak diakui sebagai bagian dari wilayah Markas AU Halim Perdanakusuma, sehingga tanggul terpaksa dibangun warga secara swadaya.

”Masalah ini sudah pernah dibahas sama lurah dan camat sebelumnya, tapi nggak ada kelanjutan. Warga harap bisa dibantu untuk pembangunan supaya wilayah nggak banjir lagi,” harapnya.

Pengamat Tata Kota, Nirwono Jogaa mengatakan, dalam dua tahun terakhir ini Gubernur DKI Jakarta, Anies belum optimal dalam penanganan banjir. Tidak ada kejelasan kelanjutan penataan kali. Konsep naturalisasi juga tidak diterapkan. Praktis terhenti. ”Perbaikan tanggul-tanggul hanya bersifat sementara saja tetapi tidak diikuti dengan penataan pemukiman di sekitar tanggul atau kali,” terangnya.

Tidak ada kelanjutan penyelesaian revitalisasi Taman Waduk Pluit dan Taman Waduk Riario yang masih menyisakan lahan yang belum diolah dan permukiman yang belum direlokasi. ”Rehabilitasi saluran air juga belum optimal, terutama di kawasan atau jalanan yang kemarin banyak terjadi banjir,” terangnya.

Dari informasi yang dihimpun, untuk menangani, menanggulangi banjir di Jakarta, pemerintah Kementerian Pekerjaan Umum akan mengucurkan dana sebesar Rp 11 miliar. Belum lagi dana yang bersumber dari APBD DKI Jakarta. Tiap tahunnya mencapai ratusan miliar. Hanya pada 2017 saja, Pemprov DKI Jakarta menganggarkan program penanggulangan banjir hanya Rp 16,78 miliar.

Nirwono pun menyarankan kepada pemprov untuk lebih mengatur anggaran penanggulangan banjir tepat sasaran. Sehingga tidak hanya menangani banjir dalam jangka pendek saja.

Terpisah, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan melakukan penataan ulang penanganan banjir di wilayah DKI Jakarta. Pasalnya, banjir masih terjadi beberapa hari lalu di sejumlah titik di Jakarta.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan penanganan banjir dengan beberapa program. Dari kebijakan normalisasi, naturalisasi hingga revitalisasi saluran air. ”Kita berharap pembangunan bendungan di waduk Ciawi dan waduk Sukamahi, Bogor, segera selesai. Karena bisa mengurangi banjir hingga 30 persen,” ujar Anies Baswedan di Jakarta, Rabu (3/4/2019).

Anies meyakini penanganan dengan bendungan akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan dengan tanggul, termasuk banjir yang terjadi di Jati Padang, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Saat ini, menurut Anies prosesnya sudah pada tahap pembebasan lahan. “Kami sedang selesaikan proses pembebasan lahan di Bogor,” ucapnya. ”Insya Allah ketika itu selesai akhir tahun ini, maka volume air yang turun ke Jakarta akan turun 30 persen. Dengan turun 30 persen maka proses retensi akan bisa lebih baik karena selama di sana tidak tertangani, maka volume sebesar apapun akan selalu mengalami limpahan yang besar, justru yang paling penting tanggul sana selesai,” imbuh dia.

Lebih jauh Anies mengatakan, beberapa program penanganan banjir pihaknya telah mengoperasikan pompa mobile dan penempatan petugas di titik-titik genangan. Selain itu, pihaknya juga melakukan pengecakan rumah pompa di seluruh wilayah Jakarta. ”Pompa air milik Pemprov ada 450 buah, alhamdulillah berfungsi baik,” tandasnya. (ibl/nas)

Komentar telah ditutup.