Megapolitan

Membunuh Lantaran Jaga Gengsi, Waspada, Kelompok Bermain Berdampak Anak Jadi Liar

Redaktur:
Membunuh Lantaran Jaga Gengsi, Waspada, Kelompok Bermain Berdampak Anak Jadi Liar - Megapolitan

Ilustrasi Foto

indopos.co.id - Kasus pembunuhan sering ditemukan di setiap wilayah. Biasanya para pelaku itu sudah berumuran dewasa. Tetapi siapa sangka jika anak-anak di bawah umur pun sudah bisa menjadi pelaku pembunuhan. Masih hangat kejadian duel ’gladiator’ yang dilakukan dua pelajar di Kabupaten Bogor.

Aksi itu berawal dari kenakalan remaja biasa. Namun berujung hingga menyebabkan korban luka bahkan meninggal dunia. Catatan Pengadilan Negeri (PN) Cibinong sejak 2014, ada sembilan kasus pembunuhan yang dilakukan anak remaja di wilayah Kabupaten Bogor. Kasus pembunuhan itu hanya karena anak remaja ingin menjaga gengsi dari rekan-rekan sebayanya.

Pakar Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Andrianus Meliala mengatakan, selain pengaruh lingkungan keluarga dan sekolah, ada faktor penting lain yakni kelompok teman bermain yang lebih dari satu orang. Itulah yang membuat seorang individu menjadi liar. Tentu ada hukum sebab akibat dari perilaku kelompok tersebut.

”Apabila suatu kelompok ada satu rekan yang memberikan contoh tidak baik, ya bisa menular. Seperti virus. Jadi terbawa satu orang itu dengan teman-teman lainnya,” katanya. Kalau ini terjadi, ujarnya juga, merupakan faktor utama dari jurang kasus kasus yang terjadi.

”Harus ada pencegahan. Mereka itu (orang yang mengajak, red) ingin menunjukkan kalau orang itu (yang diajak, red) bisa memiliki kemarahan dan keinginan apabila merasa tertantang. Termasuk menjaga gengsi di dalam kelompok itu sendiri,” lanjutnya.

Setelah itu, sambungnya, perilaku liar dapat digerakkan juga oleh individu yang sudah kehilangan kesadaran dirinya yang secara tidak langsung tertutupi kesadaran kolektif. Sebab, orang itu tidak berkomunaksi hanya satu arah. ”Tentu hal ini lagi-lagi karena kelompok yang terbawa arus tidak baik di lingkungan rumah dan sekolahnya. Bahkan orang itu berani melawan walau usianya masih kecil,” bebernya.

Untuk mencegah kasus-kasus seperti ini, jelas Adrianus, ada dua cara. Pertama, fenomena itu perlu diintervensi dengan cara menangkap pelakunya. Termasuk mengadakan penyuluhan agar yang lain tidak berbuat karena pengaruh orang tersebut. Kedua, didiamkan. Karena jika pejalar diberikan tindakan di luar batas, mereka bisa menjadi liar dan bisa memengaruhi teman-temannya.

”Untuk itu, peran guru dan orang tualah yang menjadi kunci agar ada perubahan perilaku tidak baik bisa berubah menjadi lebih baik lagi,” tuturnya. Penjelasannya, katanya lagi, anak-anak ini ingin dianggap berani oleh kelompoknya. ”Tapi harus ada solusi agar keinginan anak-anak ini tidak terus-menerus berlangsung. Kalau bisa jangan sampai ada penerus yang menggantikan perilaku tidak baik itu,” tambahnya.

Di lain pihak, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor mencatat telah memberi pendampingan terhadap 135 anak remaja yang terjerat kasus kekerasan dan pencabulan. Dengan rincian pada 2017 sebanyak 47 kasus, 2018 sebanyak 71 kasus serta 2019 ada 17 kasus. ”Paling banyak tersandung pencabulan dan tawuran,” kata Dian Mulyadiansyah, kabid Rehabilitasi Sosial di Dinsos Kabupaten Bogor.

Menurutnya juga, khusus untuk pendampingan korban kekerasan seperti tawuran dan lain sebagainya, pihaknya lebih banyak berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan penyuluhan. Kemudian melakukan sosialisasi pendampingan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dengan para orang tua.

Tujuannya agar dapat memberi stimulan kepada mereka untuk mencegah kasus seperti tawuran dan kekerasan lainnya dapat terjadi lagi. ”Peran orang tua penting. Jadi harus bangun hubungan emosional yang lebih baik lagi.

Buat hubungan anak dan orang tua nyaman. Dan jangan melarang anak saat akan mengetahui sesuatu. Tapi terus diperhatikan. Setelah itu diberi pemahaman lebih baik lagi,” ucapnya.

Dia juga memaparkan, pada 2019 ini pihaknya akan membentuk tim rehabilitasi yang di dalamnya terdapat empat tenaga sosial. ”Mereka nanti bertugas memberikan penyuluhan kepada setiap orang tua,” paparnya lagi.

Di tempat berbeda, Kabid Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (KPA) pada DP2KBP3A Kabupaten Bogor Shinta Damayanti, mengaku pihaknya memberikan solusi terhadap kejadian anak berhadapan dengan hukum setelah menerima laporan lintas instasi.

Kendati begitu, untuk mencegah hal yang lebih parah, 2019 ini pihaknya sudah mensosialisasikan ke setiap kecamatan untuk pembentukan Kecamatan Layak Anak (KLA). ”Warga dari satu wilayah kecamatan ini kami undang. Mereka kami sosialisasikan bagaimana cara menjaga dan mendidik buah hati mereka. Tujuannya agar suatu hari kelak anak-anak ini menjadi pengaruh baik di lingkungan sekolah dan di lingkungan keluarga,” pungkasnya, Senin (8/4/2019). (yos/c/rez/run)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Miris, Istri Digadaikan Rp 250 Juta Berakhir Bunuh-bunuhan

Megapolitan / Sering Dicaci Maki, Suami Bunuh Istri

Megapolitan / Habis Membunuh, Langsung Bunuh Diri

Megapolitan / Tolak Eksepsi, JPU Ngotot Pembunuh Satu Keluarga Dihukum Mati

Megapolitan / Dipicu Cinta Segitiga, Eljon Tewas Dibunuh Saingan

Megapolitan / Mabes Turun Tangan, Penyidik Pembunuhan Diganti


Baca Juga !.