Nasional

Humor, Jaga Hati agar Tidak Mudah Marah

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Humor, Jaga Hati agar Tidak Mudah Marah - Nasional

Ilustrasi marah Shutterstock

indopos.co.id - Marah disebut-sebut merupakan emosi yang sehat. Seperti menangis atau tertawa. Jika seseorang marah, penyebab mudah marah bisa karena kecewa, takut, tersinggung merasa terluka, atau lainnya. Marah adalah sifat manusiawi. Dan, setiap orang memiliki tingkat emosi yang berbeda.

Lalu bagaimana dalam kacamata Islam? Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Cholil Nafis mengatakan, sebaiknya seseorang menghindari marah-marah. ’’Sifat Rasulullah itu layyinan. Lemah lembut,’’ ujar Cholil ketika dihubungi INDOPOS, Selasa (9/4/2019).

Kiai yang saat ini sedang menghadiri konferensi tentang bagaimana pengaruh Arab di negara-negara Asia, termasuk pengaruh Islam di Ryadh, Arab Saudi, itu menjelaskan, jika ada orang yang tidak bersifat lembah lembut, seperti marah-marah, orang di sekitar akan lari. ’’Tidak akan menjadi satu barisan dalam menegakkan barisan kita,’’ terangnya.

Dia kemudian menyampaikan sabda Rasulullah. ’’Yang artinya kurang lebih, jangan sampai seorang hakim, seorang pemutus perkara, memutuskan perkara dalam keadaan marah,’’ kata Cholil menjelaskan.

Seseorang yang dalam keadaan marah dapat menyebabkan tidak objektif. ’’Maka sesuatu yang sangat merugikan dan mungkin mengancam esensi kebaikan masyarakat, manakala kita bertindak dengan marah-marah. Oleh karena itu, hindari marah,’’ tegasnya.

Terpisah, Zastrouw Al-Ngatawi, dosen pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta mengatakan, dalam Islam, marah itu diperbolehkan. Dengan catatat, untuk membela diri ketika diserang, membela kehormatan, harta benda, kepentingan umum, menolong orang yang terzalimi, dan mempertahankan agama. Inilah yang disebut dengan marah yang terpuji.

’’Meski dalam Islam memperbolehkan marah, harus dilakukan dengan persyaratan yang ketat dan kendali yang kuat. Ini untuk menjaga agar kemarahan tidak sampai menimbulkan kerusakan dan membuat pelakunya tergelincir dalam dendam dan emosi yang justru bisa menodai niat dan merusak citra Islam,’’ ujarnya dikutip dari situs resmi NU.

Sikap menjaga niat dalam kemarahan agar tidak terkotori oleh dendam, lanjutnya, pernah dicontohkan sahabat Ali. Ketika berhasil meringkus lawan dan tinggal membunuhnya, tiba-tiba lawan tersebut meludahinya. Seketika dia melepas lawan tersebut dan tidak jadi membunuhnya. Orang tersebut terkejut dan heran, kemudian berkata, "Kenapa kau lepas aku dan tidak jadi membunuhku?".

Dengan tegas Ali menjawab, "Aku khawatir membunuhmu bukan karena Allah, tapi karena dendam dan kebencianku padamu akibat ulahmu yang telah meludahiku". Kisah ini bisa menjadi cermin bagaimana menjaga hati dan niat dalam kemarahan. Lebih-lebih jika kemarahan itu dilakukan demi agama.

Mengendalikan diri dan menjaga niat dalam kondisi marah, bukanlah perkara mudah. Karena sulitnya mengendalikan amarah dari jebakan dendam dan tindakan destruktif, maka ketika ada seorang sahabat yang minta nasihat pada Nabi, dijawab, agar jangan mudah marah. Jawaban itu diulang sampai tiga kali.

Para sufi mengajarkan ilmu tasawuf melalui zikir dan laku suluk untuk menjaga kelembutan hati dan mengolah kepekaan batin agar tidak mudah marah. Melalui laku tasawuf, seseorang dilatih menaklukkan diri sendiri, mengendalikan nafsu amarah, sehingga mampu bersikap tegas tanpa kekerasan, menaklukkan tanpa kebencian.

Selain itu, para sufi juga menggunakan cara humor untuk menjaga hati agar tidak mudah larut dalam kemarahan. Di dunia sufi, humor tidak saja berfungsi sebagai sarana menertawakan diri sendiri untuk mengikis kesombongan diri, tetapi juga sarana bercermin dan menanamkan nilai kearifan.

Memang dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan. Ini sebagai konsekuensi interaksi dengan lingkungan yang kadangkala mengikis kesabaran dan akhirnya melahirkan sifat amarah dalam diri manusia.

"Sifat marah adalah sifat dasar manusia. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai sifat marah. Manusia yang tidak punya marah itu malaikat yang berwujud manusia. Namun manusia yang kerjanya marah terus itu iblis yang berwujud manusia," kata Ustad Ahmad Syaifuddin dalam suatu pengajian di Lampung, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari laman NU.

Dalam kitab Arbain Nawawi dijelaskan, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada umatnya agar senantiasa menahan amarah dalam menghadapi setiap persoalan."Marah boleh. Yang tidak diperbolehkan adalah marah-marah. Karena marah-marah itu seperti bara api yang membakar manusia," tegasnya.

Menurut Imam Al-Ghazali, kemarahan merupakan pembuka segala keburukan dan dapat menghilangkan kebaikan. Lalu bagaimana menghilangkan kemarahan yang sering muncul di tengah problematika kehidupan?

"Jika rasa marah datang menghampiri, maka duduklah. Jika belum hilang, berebahlah. Jika belum hilang, berwudulah. Jika belum hilang, salatlah. Jika belum hilang, bacalah Alquran. Insya Allah rasa marah yang membuncah akan sirna," ujarnya.

Dia menekankan, manusia adalah makhluk yang banyak dosa dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa. "Orang yang suka marah-marah itu merasa banyak wewenang, banyak kekuasaan. Mereka merasa bisa apa-apa dan punya apa-apa. Padahal tidak," terangnya.

Dia juga mengingatkan agar senantiasa menanamkan sifat sabar dan selalu menebar kebaikan kepada sesama. "Tebarkan kebaikan dan peganglah prinsip bahwa kebaikan apa pun yang dilakukan jangan ada terbersit keinginan untuk mendapat pamrih dan dipuji oleh orang lain," jelasnya. (zul)

Berita Terkait


Baca Juga !.