Menggunakan Rokok Elektrik Dapat Menyebabkan Kejang-Kejang

indopos.co.id – Administrasi obat dan makanan (FDA) memperingatkan konsumen tentang hubungan potensial antara rokok eletrik (e-rokok) dan kejang-kejang.

Instansi ini mengatakan dalm sebuah konferensi pers bahwa mereka telah mengidentifikasi 35 kasus antara 2010 dan 2019 di mana para pengguna e-rokok, terutama kaum muda mengalami sawan atau kejang setelah menggunakan perangkat tersebut. FDA kahawatir karena tidak semua kasus ini ada yang dilaporkan dan bahwa masalah ini harus diselidiki lebih lanjut.

“Kami ingin menjelaskan bahwa kami belum tahu apakah ada hubungan langsung antara pengguna e-rokok dengan risiko kejang. Kami belum dapat memastikan apakah e-rokok yang kejang-kejang tersebut,” kata Komisaris FDA, Dr. Scott Gottlieb.

Berita itu muncul setelah penelitian terbaru menemukan bahwa e-rokok berhubungan dengan sejumlah risiko kesehatan, termasuk membahayakan sel paru-paru dan mengandung bahan kimia beracun.

Dalam pemberitahuan itu, Gottlieb mengatakan FDA merilis informasi ini lebih awal pada publik dengan harapan bahwa akan lebih baik untuk memperingatkan masyarakat dan komunitas medis dan mendorong mereka untuk melaporkan dampak buruk e-rokok bagi kesehatan.

Informasi tentang bahaya e-rokok masih jarang. Dan hubungan antara penggunaan e-rokok (vaping) dan kejang-kejang masih belum jelas. Misalnya, pernyataan tersebut tidak mencantumkan merek cairan e-rokok tersebut. Kejang-kejang juga terjadi baik pada orang yang baru pertama kali menggunakan e-rokok ataupun bagi mereka yang sudah berpengalaman, sehingga sulit mengidentifikasi pola penggunaan yang mengarah pada insiden ini.

Namun, ada penelitian ilmiah yang mendukung kejang akibat nikotin. Sebuah penelitan tahun 2017 menemukan bahwa nikoting sangat mungkin menyebabkan kejang pada tikus, tetapi belum jelas apakah ada hubungannya dengan manusia atau tidak. Keracunan nikotin seukuran satu miligram yang terjadi pada anak-anak dapat menyebabkan tubuh berkeringat, diare, aritmia jantung, dan kejang.

Menghadapi industri e-rokok telah menjadi landasan FDA di bawah Komisaris Gottlieb. Gottlieb terkenal menyebut remaja pengguna e-rokok sebagai epidemi Amerika. Selama masa jabatannya, para peneliti semakin meneliti reputasi e-rokok sebagai alternatif yang lebih aman daripada merokok tradisional.

Pada 2017, para peneliti Eropa menemukan bahwa e-rokok dapat menyebabkan pengerasan pembuluh darah, efek yang terkenal berasal dari rokok tradisional yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan komplikasi kardiovaskular lainnya.

Peran perasa dalam e-rokok telah banyak dikritik oleh FDA sebagai cara memulai penggunaan tembakau pada usia muda. Ada juga konsensus yang berkembang bahwa komponen kimia yang digunakan dalam perasa bisa jadi beracun, berpotensi menyebabkan kerusakan paru-paru dan masalah kesehatan lainnya.

Bagi banyak pejabat kesehatan masyarakat, pengumuman tentang hubungan potensial antara kejang dan e-rokok menjadi bukti lebih bahwa produk ini memang berbahaya.

“Berita ini sangat mengkhawatirkan, dan bukti lebih lanjut bahwa bahaya kesehatan yang sepenuhnya terkait dengan e-rokok masih belum diketahui. Tindakan berarti yang dilakukan FDA ini sudah lama tertunda, tetapi badan tersebut telah gagal melindungi kesehatan kaum muda kita, yang oleh FDA sendiri dinyatakan sebagai epidemi,” kata Paul Billings, wakil presiden senior nasional, advokasi, American Lung Association, pada Healthline. (fay)

Komentar telah ditutup.