Hukum

Dahnil Marah saat Tahu Ratna Ternyata Berbohong

Redaktur: Nurhayat
Dahnil Marah saat Tahu Ratna Ternyata Berbohong - Hukum

SAKSI - Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak menjadi saksi kasus Ratna Sarumpaet di Pengalidan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019). Foto: Charlie Lopulua/INDOPOS

indopos.co.id - Dahnil Azhar Simanjuntak, koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menjadi saksi dalam persidangan Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (11/4). Sidang ke sembilan ini masih beragendakan pemeriksaan kepada saksi yang akan dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Tanpa didampingi keluarga, Ratna Sarumpaet telah tiba di ruang persidangan, dengan mengenakan baju putih dan kerudung coklat, Ratna dikawal ketat oleh beberapa orang petugas kepolisian. Dalam kasus penyebaran berita bohong melalui media elektronik ini, terdakwa Ratna Sarumpaet didakwa melanggar Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dan juga dakwaan Pasal 28 Ayat (2) juncto 45A Ayat (2) UU 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam keterangan kepada majelis hakim, Dahnil mengaku kaget dan marah saat mengetahui Ratna Sarumpaet dianiaya orang tak dikenal di Bandung. ”Reaksinya kaget dan tentu saja marah karena Ratna dikenal sebagai penggiat HAM dan perempuan berani,” kata Dahnil.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bukan hanya dirinya yang kaget dan marah mendengar berita itu tetapi juga seluruh tim BPN, mengingat Ratna merupakan salah satu anggotanya. Dahnil mengatakan saat mengetahui berita bahwa Ratna dianiaya pada tanggal 1 Oktober 2018 malam, Prabowo langsung ingin menjenguk dan melihat langsung kondisi Ratna pascapenganiayaan.

Sehingga terjadilah pertemuan tanggal 2 Oktober 2018 di Lapangan Polo, Sentul, Bogor yang dihadiri oleh Prabowo, Amien Rais, Nanik S. Deyang, Said Iqbal, dan Ratna Sarumpaet. Dahnil juga menceritakan tujuan diselenggarakannya konferensi pers pada saat diceritakan oleh terdakwa Ratna bahwa dirinya dianiaya oleh beberapa orang di Bandung, dibawa ke dalam mobil, dan ditinggalkan di suatu tempat. ”Tujuan diadakannya konferensi pers adalah untuk menyampaikan sikap BPN terkait penganiayaan yang dialami oleh salah satu anggota dan juga penggiat HAM,” kata Dahnil.

Dahnil juga menyampaikan reaksinya kembali kaget setelah mengetahui bahwa Ratna telah berbohong tentang penganiayaan yang terjadi pada dirinya. ”Setelah tahu kaget dan tidak memperkirakan karena percaya terhadap dedikasi dan komitmen Ratna tentang HAM dan keadilan,” ujar Dahnil.

Dahnil dalam persidangan tersebut mengaku keberatan dianggap sebagai orang yang pertama menyebarkan foto Ratna Sarumpaet di media Sosial. Dahnil mengatakan, dia merasa keberatan dengan pernyataan saksi dari penyidik Niko Purba yang mengatakan kalau dia dan Fadli Zon adalah orang yang pertama kali menyebarkan foto Ratna Sarumpaet. ”Pernyataan saksi dari penyidik Niko Purba yang mengatakan bahwa yang menyebarkan foto pertama kali adalah saya dan Bang Fadli (Fadli Zon) menurut saya sangat mengganggu dan ganjil,” kata Dahnil.

Dahnil merasa aneh dengan kesaksian penyidik yang menyatakan dirinya dan Fadli Zon yang pertama menyebarkan foto. Sedangkan pada pengakuannya, foto-foto lebam terdakwa tidak ada di ponselnya karena Dahnil hanya melihat foto tersebut dari berita yang ditunjukan salah satu orang yang hadir dalam pertemuan rutin BPN. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.