Internasional

Pelajar Indonesia Meninggal di Tiongkok, Ini Penjelasan KJRI

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Pelajar Indonesia Meninggal di Tiongkok, Ini Penjelasan KJRI - Internasional

Ilustrasi meninggal

indopos.co.id - Seorang pelajar asal Indonesia meninggal di Tiongkok. Kepolisian setempat masih menyelidiki kematian tersebut. "Dari komunikasi dengan pihak keluarga disampaikan bahwa selesai proses penyelidikan jenazah oleh pihak kepolisian yang saat ini masih berjalan, pihak keluarga akan mengkremasi jenazah dan kemudian abunya akan dibawa pulang ke Medan," kata Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler KJRI Shanghai Muhammad Arifin di Shanghai, Kamis (11/4/2019) malam.

KJRI sedang menyiapkan beberapa dokumen yang perlu dilengkapi, terkait proses penerbitan notifikasi hasil autopsy. Seperti yang diminta oleh pihak kepolisian setempat sebelum jenazah Richard Son bisa diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dikremasi.

"KJRI akan terus berkoordinasi dengan pihak keluarga dan kepolisian setempat sampai dengan proses akhir dan kepulangan keluarga ke Tanah Air," ujarnya.

Arifin menjelaskan bahwa pada Sabtu (7/4/2019) pihaknya mendapatkan laporan soal seorang pria yang hilang. Pria tersebut berstatus pelajar di salah satu perguruan tinggi di Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu.

Sebelumnya, pesan berantai di media sosial Wechat yang menyebutkan bahwa korban hilang sejak Kamis (4/4/2019) malam.

Setelah mendapatkan informasi itu, KJRI menghubungi pihak kepolisian di Provinsi Jiangsu. Kemudian pada Selasa (9/4/2019) pagi, KJRI mendapatkan informasi melalui telepon dari pihak kantor Kepolisian Distrik Yonganqiao, Suzhou, terkait penemuan jasad laki-laki di sungai Xietang yang berhulu di Danau Dushu, Kota Suzhou.

Korban berusia 22 tahun itu teridentifikasi dengan nama Richard Son. Ini berdasarkan keterangan pada KTP yang ditemukan di tubuh jenazah.
KJRI langsung menghubungi pihak keluarga korban di Medan, Sumatera Utara. Pihak keluarga memutuskan untuk segera berangkat dari Medan menuju Suzhou melalui Shanghai. Sampai saat ini, masih belum diketahui penyebab kematian pelajar Indonesia tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Fadlan Muzakki menyatakan prihatin dengan pesan berantai di Wechat, yang menyebutkan bahwa sebagian anggota tubuh korban hilang saat korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
"Kasus itu tidak terkait adanya usaha pembunuhan dengan pengambilan motif pengambilan organ tubuh korban," katanya. (ant)

 

 

Berita Terkait


Baca Juga !.