Internasional

Militer Sudan Gulingkan Bashir

Redaktur:
Militer Sudan Gulingkan Bashir - Internasional

KENDALI-Para demonstran duduk menuntut sebuah badan sipil untuk memimpin transisi menuju demokrasi di luar markas tentara di ibukota Sudan Khartoum, Kamis (11/4). Ebrahim Hamid/AFP

indopos.co.id - Para pengunjuk rasa merayakan keberhasilannya setelah mengambil alih pemerintahan di Sudan, Omar al-Bashir, Kamis (11/4/2019). Mereka masih harus berjuang lebih lama karena tampaknya, pria yang juga tokoh militer yang telah mengakhiri 30 tahun masa pemerintahannya ini masih ingin mempertahankan kekuasaan. Sebab, tergulingnya Bashir masih bergema di seluruh dunia.

Dewan Militer Pembubaran Pemerintah menangguhkan konstitusi negara dan mengumumkan keadaan darurat tiga bulan. Pihak militer menyatakan, akan tetap memegang kendali selama setidaknya dua tahun untuk mengawasi transisi kekuasaan, yang mengarah pada kegelisahan dari pengunjuk rasa dan pengamat luar bahwa pemilihan tidak akan diadakan dalam waktu dekat.

Menurut Komite Sentral Dokter Sudan, Pasukan rezim dan milisi, menewaskan 13 pengunjuk rasa dengan amunisi hidup. Dua orang tewas terbunuh di Khartoum, satu tewas di Atbara dan delapan tewas di Darfur.

Dalam sebuah pernyataan, bahwa pengambilalihan militer bukan jawaban yang tepat untuk tantangan yang dihadapi Sudan dan aspirasi rakyatnya. Ia mengungkapkan, bahwa Sudan menandatangani perjanjian internasional yang sangat mengutuk setiap perubahan inkonstitusional pemerintah dan negara-negara anggota  yang berkomitmen untuk menghormati aturan hukum, prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Awad Mohamed Ahmed Ibn Auf membuat pernyataan yang menjelaskan, perebutan kekuasaan militer di TV pemerintah. Ibn Auf dilantik sebagai kepala dewan transisi militer beberapa jam kemudian. “Orang-orang ingin menggulingkan Ibn Auf,” teriak seorang massa di Khartoum.

Kelompok yang memimpin protes anti pemerintah, Asosiasi Profesional Sudan (SPA), menolak deklarasi kudeta dan menyerukan kepada orang-orang untuk melanjutkan demonstrasi dan melakukan aksi duduk di luar markas militer. Kelompok itu mengatakan, protes akan berlanjut sampai kekuasaan diserahkan kepada pemerintah transisi sipil.

“Rezim telah melakukan kudeta militer untuk mereproduksi wajah dan entitas yang sama yang dilawan oleh orang-orang besar kita,” kata SPA.

Aktivis Omar Al-Neel menuturkan, bahwa orang-orang sepenuhnya menolak pengumuman Ibn Auf. “Semua orang Sudan berada di jalan dan menuntut kejatuhan rezim dan tidak mendaur ulang orang yang sama,” katan Al-Neel.

Sementara itu, di tengah laporan bahwa presiden yang telah lama memerintah di Sudan Omar al-Bashir telah diturunkan dari jabatannya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyampaikan  harapannya, bahwa Sudan akan menangani situasi saat ini secara damai, dalam semangat perujukan nasional.

"Saya harap Sudan bisa melewati proses saat ini dalam perdamaian dan perujukan nasional," katanya di Ibu Kota Turki, Ankara.

Dikatakan Erdogan, di tengah bermacam laporan mengenai Omar al-Bashir, tak ada keterangan yang bisa dipercaya. Ia juga mengatakan, Turki mendukung berlanjutnya hubungan yang sudah berurat-akar dengan Sudan. (fay/ant)

 

Berita Terkait

Internasional / Tuntut Dewan Militer Serahkan Kekuasaan

Internasional / Didemo, Presiden Sudan Plesiran ke Qatar

Internasional / Ini Jumlah Senjata yang Dicurigai Selundupan Pasukan RI


Baca Juga !.