Ekonomi

Benamkan Investasi USD 3-5 Miliar 

Redaktur: Sicilia
Benamkan Investasi USD 3-5 Miliar  - Ekonomi

Grafis Angga Gumelar/INDOPOS

indopos.co.id - Backlog perumahan masih terjadi. Hal ini karena jumlah masyarakat yang membutuhkan rumah lebih banyak dari pasokan rumah yang bisa disediakan tiap tahun. 

Untuk itu, diperlukan sejumlah terobosan untuk mengatasi backlog perumahan. Berdasarkan konsep penghunian, jumlah backlog perumahan sebanyak 7,6 juta unit pada 2015 yang ditargetkan turun menjadi 5,4 juta unit pada 2019.

Sementara backlog perumahan berdasarkan konsep kepemilikan rumah sebanyak 11,4 juta unit pada 2015 dan ditargetkan turun menjadi 6,8 juta unit pada 2019. Upaya pemerintah untuk mewujudkan percepatan penyediaan hunian layak bagi masyarakat dan mengurangi backlog perumahan periode 2015-2019 melalui Program Satu Juta Rumah. 

Pada 2015 baru terealisasi sebanyak 699.770 unit, tahun 2016 sebanyak 805.169 unit, dan tahun 2017 sebanyak 904.758 unit. Dan per Desember 2018 teralisasi 1.091.255 unit

Pelaksanaan Program Satu Juta Rumah terdiri atas pembangunan rumah susun sewa (rusunawa), rumah khusus, dan rumah swadaya dengan dana yang bersumber dari APBN dan APBD. Kemudian, rumah umum oleh pengembang yang difasilitasi atau disubsidi lewat APBN melalui skema KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan subsidi selisih bunga, dan bantuan uang muka, serta rumah yang dibangun pengembang tanpa subsidi.

Namun masalahnya, jumlah backlog tiap tahun terus bertambah seiring bertambahnya jumlah keluarga baru yang belum memiliki rumah. Mengacu data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), tiap tahun ada tambahan permintaan (demand) sekitar 1,46 juta unit, sementara yang bisa dipasok (supply) sebanyak 400 ribu unit. 

Masing-masing dari pembangunan perumahan mandiri sebanyak 150 ribu unit dan pembangunan perumahan melalui pengembang 250 ribu unit. Dengan demikian, masih ada gap sebanyak 1,06 juta unit per tahun. Gap ini akan terus melebar tiap tahunnya jika pembangunan perumahan tidak bisa mengejar jumlah permintaan. 

Realisasi pembangunan perumahan yang di bawah target tak lepas dari sejumlah tantangan yang dihadapi. Tantangan lainnya yang cukup berat juga adalah persoalan terbatasnya lahan murah bagi MBR, khususnya di wilayah perkotaan. 

Saat ini sangat sulit mendapatkan lahan di perkotaan untuk perumahan. Kalaupun ada, pasti harganya selangit dan sulit dijangkau oleh pengembang.

Masalah ini membuat hampir semua pengembang enggan membangun hunian murah lantaran ketersediaan tanah untuk pengembangan hunian MBR di sejumlah wilayah strategis semakin langka. Melihat masih terjadinya backlog perumahan, PT Berkarya Makmur Sejahtera milik Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto, menjalin kolaborasi strategis dengan konglomerasi asal Dubai, Uni Emirat Arab, Bin Zayed Group. 

Penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kerja sama atas nama PT Berkarya Maju Sejahtera dan Bin Zayed Group ini dilakukan di Jakarta, Kamis (11/4) lalu. Bin Zayed berkomitmen membenamkan investasi senilai USD 3 miliar hingga 5 miliar datau sekitar Rp 42,9 triliun-Rp 70,8 triliun untuk membiayai seluruh proyek potensial yang layak dikembangkan pada masa mendatang.

Tommy menuturkan, proyek yang dibiayai dari kerja sama ini adalah perumahan murah, real estate, dan energi terbarukan (renewable energy). ''Mereka adalah grup bisnis besar yang dimiliki keluarga berpengaruh di Uni Emirat Arab. Rekam jejaknya bisa dilihat dari proyek-proyek yang telah mereka bangun. Di India, Ghana, Kenya,'' katanya.

Group Managing Director Bin Zayed Group Midhat Kidwai menuturkan, Indonesia adalah pasar yang besar sehingga memiliki peluang dan potensi yang besar. ''Indonesia adalah negara yang menjanjikan. Banyak kesempatan dan ekonominya juga sedang bertumbuh. Kami akan melakukan bisnis di bidang real estate dan energi terbarukan," ujarnya.

Proyek perdana yang akan dibiayai adalah rumah murah sebanyak 500 ribu hingga 1 juta unit. Lokasinya tersebar di seluruh Indonesia. 

''Proyek perdana kami adalah rumah murah, karena masih banyak rakyat Indonesia yang belum memiliki papan (rumah). Kami ingin membantu memenuhi kebutuhan rumah, sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan rakyat,'' imbuhnya.

Meski dananya berasal dari Bin Zayed, Tommy memastikan, rumah-rumah murah ini akan dibangun oleh kontraktor lokal, dengan kandungan material yang seluruhnya juga lokal. Mulai dari pasokan batu bata, pasir, semen, furnitur, dan lain-lain. 

''Finalizenya sekitar tiga bulan. Tapi kami berkomitmen membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat setempat, dan dinikmati oleh masyarakat setempat juga,'' jelas Tommy.

Adapun proyek percontohan rumah murah ini akan dibangun di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sini, Tommy dan Bin Zayed berencana mengembangkan sekitar 3.000-4.000 unit rumah di atas lahan seluas 20 hektar.

Lahan tersebut merupakan bagian dari 800 hektar lahan pengembangan dari total 1.500 hektar yang dikuasai di kawasan Sentul. Rentang harga rumah yang ditawarkan, menurut Tommy, akan mengikuti patokan pemerintah sekitar Rp 148 juta hingga Rp 158 juta per unit.

"Tetapi, tentu saja kami tidak bisa membangun seluruhnya dalam waktu yang bersamaan. Kami akan lihat proyek di mana saja yang feasible dan persiapan tanahnya bagaimana, itu akan dilihat juga,'' imbuhnya.

Selain membangun rumah murah, Tommy dan Bin Zayed juga menjajaki bisnis energi terbarukan berupa solar panel, geo thermal, wind turbin, dan hydro power. Karena itu, jika ada proyek-proyek renewable energy yang mangkrak atau mandek di tengah jalan, Tommy dan Bin Zayed siap mendanai untuk dikembangkan lebih lanjut dengan teknologi yang mereka miliki. (dew)

Berita Terkait


Baca Juga !.