Surga di Bawah Kabut

indopos.co.id – Rammang-Rammang sangat menakjubkan. Dusun kecil di lembah perbukitan karst (kapur) itu mengingatkan orang tentang film Rambo, yang syutingnya di pedalaman Vietnam yang eksotik. Sayangnya, gugusan pegunungan karst – yang terbesar ketiga di dunia itu – ibarat surga yang tersembunyi.

Deserang mematikan mesin perahu getheknya. Dia mengambil dayung dan mengayuh boat berpenumpang 8 orang itu merapat ke sebuah dermaga kecil. Hulu sungai itu berakhir di sebuah lembah yang dibentengi tebing-tebing karst.

Itulah Kampung Berua, Dusun Rammang-Rammang, yang lebih dikenal dengan nama Kampoeng Karst Rammang-Rammang.

’’Kita sudah sampai,’’ kata lelaki paruh baya itu.

Mereka tiba di Rammang-Rammang setelah hampir 20 menit menyusuri Sungai Pute berair payau. Ada sensasi tersendiri melaju di sungai selebar 10 meter yang meliuk-liuk di antara rawa yang didominasi pohon nipah dan bakau. Dilatarbelakangi tebing-tebing karst yang menjulang tinggi, membuat perjalanan dari Kampoeng Batu menjadi tak terasa jemu.

Setiba di dermaga, penumpang perahu seolah tak sabar ingin menikmati sensasi lain yang sudah menunggu. Deserang menuntun penumpangnya naik dermaga berlantai kayu dengan hati-hati agar kapal kecil itu tak oleng. Begitu menjejakkan kaki di darat, mereka disuguhi pemandangan alam memikat.

Setiap orang harus membayar Rp 5.000 di loket dekat dermaga, yang dijaga seorang perempuan, agar bisa masuk Kampung Karst. Kawasan wisata ini dikelola secara mandiri oleh desa setempat, tanpa campur tangan pemda. Tak heran, loket yang dibangun tampak seadanya, tak ada gapura atau baliho selamat datang.

’’Wisatawan lokal Rp 5.000, untuk turis asing tarifnya dua kali lipat, Rp 10.000 ribu,’’ kata Musdalifa, petugas loket retribusi. Perempuan 25 tahun ini mengaku ada saja turis asing datang. Sedikitnya dua orang setiap hari. Sedangkan wisatawan lokal 50-70 orang di hari kerja dan meningkat di hari libur kisaran 100 orang.

Kampung Berua, Dusun Rammang-Rammang bagian dari Desa Salenrang, Kecamatan Bantoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Letaknya sekitar 40 km utara Kota Makassar atau berjarak 1,5 jam perjalanan darat. Legendanya, ribuan tahun lalu, kampung ini berupa danau besar di pegunungan karst. Akibat proses geologi terjadilah apa yang terlihat sekarang.

Sedangkan nama Rammang-Rammang berasal dari Bahasa Makassar. Rammang berarti kabut atau awan. Rammang-Rammang berarti sekumpulan kabut atau awan. Menurut cerita, dusun tersebut diberi nama Rammang-Rammang karena sering sekali turun kabut atau awan, terutama di pagi hari atau saat turun hujan.

Destinasi ini memang bukan tempat wisata biasa. Gugusan bukit batu kapur seluas 45 ribu hektare itu disebut yang terbesar ketiga di dunia setelah Shilin di Tiongkok dan Teluk Halong, Vietnam. Konfigurasi dan bentuk bukit-bukit batu kapurnya serta hamparan sawah di lembah, membuatnya tampak menakjubkan. Terkesan liar dan natural.

Selain pemandangan bukit kapur yang eksotik, Kampoeng Karst punya beberapa ikon, di antaranya Padang Ammarrung (Stone Hils), berupa hamparan batu kapur mirip pecahan batu karang tajam. Lalu ada Gua Kunang-Kunang (Fireflies Cave) dan Gua Kingkong (Kingkong Stone) yang terletak di kaki perbukitan karst.

Namun, untuk mencapai ke titik-titik itu, harus melewati pematang sawah dan satu-dua rumah penduduk bernuansa tradisional berbentuk panggung. Melewati rintangan jembatan kayu yang dibuat seadanya. Suasana desa yang alami, sungai kecil, dan hamparan perbukitan batu kapur yang eksotik ini menambah daya magis Rammang-Rammang.

’’Amazing banget. Ternyata kita punya view eksotik,” puji Agus Wijananto, wisatawan dari Jakarta. “Seperti yang kita lihat di film-film, Rambo misalnya. Suasananya mirip di Vietnam dan Thailand,” ujar lelaki 49 tahun yang mengikuti press tour Kementerian Ketenagakerjaan RI itu, Kamis (11/4/2019).

Film-film Rambo, salah satu yang terkenal, Rambo: First Blood Part II, yang dibintangi Sylvester Stallone, berkisah tentang veteran perang Vietnam, yang menyelamatkan tawanan perang Amerika dari sekapan Vietkong. Meski sempat ditawan Vietkong, Rambo akhirnya berhasil menyelamatkan tawanan tersebut dari kamp di pedalaman Vietnam.

Kembali ke Deserang. Ayah satu anak itu punya banyak cerita tentang dusun kecilnya itu. Misalnya, sering kali daerah itu dijadikan tempat syuting film, baik layar lebar maupun film dokumentar. Termasuk pembuatan klip lagu. ’’Sudah banyak artis datang ke sini, untuk bikin film,” kata pria 42 tahun itu.

Terakhir, dua tahun lalu, ada pembuatan film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui. Silariang sendiri berarti ’’kawin lari’’. Sebuah film yang berkisah tentang perjalanan cinta dua sejoli yang tak mendapatkan restu orang tua lantaran aturan adat. Film berlatar adat Bugis-Makassar yang dirilis pada 2018 ini dibintangi Bisma Karismari dan Andania Suri.

’’Mereka syuting di sini selama satu minggu,’’ kata Deserang.

Tapi, Rammang-Rammang tetap hanya sebuah dusun yang eksotik. Ibarat mutiara terpendam, Kampoeng Karst ini tenggelam di balik namanya yang mendunia. Pemerintah sepertinya masih mengabaikan potensi sumber alam yang dimiliki dusun tersebut. Pengelolaan kawasan wisata itu masih amatiran, hanya ditangani perangkat desa.

’’Saya dengar, mulai awal April lalu rencananya pemerintah daerah akan mengambil alih pengelolaan Rammang-Rammang. Tapi, sejauh ini belum ada kabar soal itu,” kata Sri Yulianti, staf Kawasan Wisata Bantimurung. “Nantinya akan dibangun sejumlah fasilitas baru, salah satunya dermaga,” kata perempuan berusia 41 tahun tersebut.

Bantimurung letaknya tak begitu jauh dari Rammang-Rammang. Selain sama-sama berada di Kabupaten Maros, jalan menuju ke sana juga searah. Namun, Bantimurung dikelola dengan baik oleh Dinas Pariwisata setempat dengan fasilitas standar. ’’Rammang-Rammang rencananya juga akan dikelola Dinas Pariwisata,” kata Sri.

Bantimurung punya sejumlah destinasi tak kalah menarik. Di antaranya air terjun, penangkaran kupu-kupu dan sky bridge. Fasilitas di dalamnya juga lengkap. Ada masjid. Juga hotel. Bahkan, untuk menarik pengunjung, pengelola kawasan wisata tersebut terkadang menggelar sejumlah acara.

Namun, dengan fasilitas dan promosi intens, Rammang Rammang bisa jauh lebih populer. Pengunjungnya pun bisa melebihi Bantimurung yang kini mendekati 200 orang sehari di hari kerja, dan mencapai 300 orang hari libur. Bandingkan dengan Rammang-Rammang yang kini angkanya di bawah 70 orang pada hari kerja dan kisaran 100-an orang di hari libur.

’’Rammang Rammang memang perlu dieksplor lagi. Perlu sentuhan. Apalagi, destinasinya sangat unik,” pungkas Wijananto. (*)

Komentar telah ditutup.