Megapolitan

Menjahit Asa Hidup ala Penjahit DPR Bukit Duri

Redaktur:
Menjahit Asa Hidup ala Penjahit DPR Bukit Duri - Megapolitan

CARI REZEKI - Mbah Roni sedang sibuk menjahit baju pelanggannya, Senin (15/4/2019) siang. Foto: Nasuha/INDOPOS

indopos.co.id - Baju yang kesayangan tiba-tiba sobek. Mau beli baru, tapi belum gajian. Solusinya adalah dengan cara dijahit. Tapi, tidak bisa menjahit sendiri. Nah, para penjahit DPR ini, bisa menyelesaikan persoalan tersebut.

NASUHA, Jakarta

AWAN mendung bergelayutan di langit Jakarta. Namun dengan setia, Mbah Roni-panggilan akrab dari Muchroni-menanti pelanggan. Pria 78 tahun itu adalah salah satu dari para anggota ”DPR” di Bukit Diri.

DPR di sini bukan para wakil rakyat yang bekerja sebagai politikus di Kompleks Senayan, Jakarta Pusat. Tetapi DPR di sini, merupakan singkatan dari di bawah pohon rindang (DPR).

Para penjahit DPR itu menempati trotoar di Jalan Slamet Riyadi, Bukit Duri, Jakarta Selatan. Dahulu mereka menempati Taman Slamet Riyadi. Karena taman beralih fungsi sebagai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), terpaksa, ’meja kerja’ pun juga harus pindah.

Seorang laki-laki paro baya turun dari kendaraan roda dua dengan berpakaian rapi ala Aparatur Sipil Negara (ASN). ”Sudah jadi permak celana dan baju milik saya mbah?” tanya laki-laki paro baya tersebut.

Sembari memberikan bungkusan plastik berwarna hitam, Mbah Roni mengatakan sudah selesai. ”Semuanya Rp 55 ribu, coba diperiksa lagi. Barangkali kurang pas,” ujarnya.

Sejurus kemudian, pria paro baya tersebut meninggalkan Mbah Roni sembari memberikan ongkos permak pakaian miliknya. Mbah Roni pun tersenyum sumringah.

Mbah Roni satu dari tujuh penjahit DPR Bukit Duri. Mereka harus berjuang keras hidup di Kota Jakarta. Tak kurang mereka harus berurusan dengan petugas Satpol PP Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. ”Ya paling ada larangan buka setiap hari Rabu, dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB,” tukas Mbah Roni kepada INDOPOS, Senin (15/4/2019).

Untuk melayani para pelanggannya, Mbah Roni hanya bermodalkan mesin jahit yang tua. Keterampilan menjahit didapatkan belajar secara otodidak. Pria yang mengaku hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) ini mengaku beruntung bisa memperoleh keterampilan menjahit. Pasalnya, dulu saat penjajahan kolonial, akses mendapatkan pendidikan sangat sulit.

”Saya belajar menjahit karena almarhum istri dulu buka jasa menjahit. Dan saya kini meneruskan di Jakarta, setelah jasa jahit istri dikelola oleh anak di kampung sana,” ungkap Mbah Roni.

Semangat Mbah Roni untuk melayani pesanan pelanggannya masih berkobar. Usianya, tak menjadi penghalang dia untuk mengumpulkan pundi-pundi uang setiap hari. Gayanya yang ceplas-ceplos kerap mengundang tawa para pelanggan. ”Setiap hari saya berangkat dan pulang diantar sama anak. Meskipun saya tidak pegang HP, anak sudah hapal kapan saya pulang atau jam berapa saya pulang,” celetuknya.

Pria yang terbiasa mengenakan kacamata dan kopiah ini bercerita, sudah menggeluti profesi sebagai penjahit DPR sejak 30 tahun silam. Ia memilih menempati trotoar Jalan Slamet Riyadi karena merasa tidak nyaman dengan para penjahit muda. Sebagian penjahit di Taman Slamet Riyadi diatur oleh Pemprov DKI di belakang taman.

”Biarin yang muda yang menempati taman, saya biar di trotoar saja. La wong cuma untuk meneruskan hidup saja,” aku Mbah Roni kental dengan Bahasa Jawa Banyumasan.

Menurut pria yang dikarunia delapan orang anak dan 19 cucu ini, untuk mempererat kekeluargaan, dia dengan sesama penjahit DPR di Bukit Duri membentuk paguyuban.

Wadah tersebut memberikan ruang kepada para anggota untuk bersilaturahmi setiap hari Minggu dan memberikan jasa simpan-pinjam kepada anggotanya. ”Setiap pekan kita mengumpulkan uang Rp 50 ribu. Setiap 6 bulan, arisan dibuka. Kita juga diperbolehkan pinjam hanya untuk keperluan mendadak,” terang.

Pria yang tinggal di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur ini menuturkan, setiap dua bulan sekali ia menyempatkan diri pulang ke kampung halaman.

Sedikitnya, dia bisa membawa uang ke kampung halaman hingga Rp 10 juta. ”Sebulan paling bisa dapat uang Rp 4 juta. Kalau sepi Rp 3 juta. Kalau ramai bisa Rp 5 juta,” ujarnya.

Mbah Roni mengaku tetap menjalani profesinya agar tidak merepotkan anak-anaknya. Dia tidak menarget pendapatannya dalam satu hari. ”Ya penting buat jajan sendiri. Ya seusia saya, yang penting buat makan saja,” ungkapnya.

Untuk tetap menjaga kesehatannya, Mbah Roni berbagi resep rahasia. Setiap hari dia tidak pernah lupa minum jamu pahit. Dan itu sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. ”Kalau jamunya kurang pahit, saya minum biji mahoni. Setiap hari saya kumpulin di sini,” ucapnya.

Lebih jauh Mbah Roni menjelaskan, setiap hari ada saja pelanggan yang datang. Sekadar potong celana atau permak pakaian. Jasa untuk permak celana dikatakan Mbah Roni hanya Rp 25 ribu. Sementara untuk jasa permak total hanya Rp 50 ribu. Sementara untuk jasa permak pakaian hanya Rp 30 ribu. ”Kalau permak yang ringan, seperti potong celana enggak kita tarif. Kita serahin aja ke pelanggan,” ujarnya.

Selama menjadi penjahit DPR, Mbah Roni mengaku kerap menemukan perlakuan yang tidak menyenangkan dari pelanggan. Dari pelanggan yang rewel, hingga ada yang tidak mau bayar jasa permak. ”Ada aja pelanggan yang bawel. Udah dipermak ngomong melulu. Dicoba melulu. Paling enggak saya minta bayar jasa permaknya,” kesal dia. Padahal, dia sudah melakukan SOP agar tidak terjadi kesalahan fatal. Standar operasional prosedur yang selalu dilakukannya adalah mengukur baju sesuai dengan tubuh pelanggan.

Tidak hanya duka, pengalaman manis menjadi penjahit DPR jauh lebih banyak. Dia kerap menemukan pelanggan yang baik, dengan memberikan jasa permak secara berlebih. ”Ya mungkin karena melihat saya sudah tua kali,” seronohnya tertawa.

Mbah Roni menyebutkan, pelanggannya di Bukit Duri berasal dari karyawan perkantoran. Bahkan, para anggota TNI, Polri hingga pegawai kelurahan dan kecamatan juga ikut menggunakan jasanya. Para pengabdi negara itu bahkan terbiasa meminta dirinya untuk menjahit seragam.

Pria lanjut usia ini kini hanya berharap perhatian dari pemerintah. Terutama tempat yang layak untuk tetap menjalankan usaha jasa menjahit. Karena tempat yang saat ini dia tempati cukup merepotkan. Selain tidak memiliki atap, buka jasa menjahit di trotoar kerap berurusan dengan petugas Satpol PP. ”Penginnya punya tempat yang baik, tidak kehujanan sama kepanasan. Pernah, hujan dadakan, pakaian permak punya pelanggan basah semua. Karena saya tidak sempat mendirikan tenda,” pungkasnya. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.