Headline

Mudah-mudahan Denny JA Benar

Redaktur: Juni Armanto
Mudah-mudahan Denny JA Benar - Headline

indopos.co.id - Animo masyarakat di luar negeri untuk mengikuti pesta demokrasi sangat tinggi. Mereka rela datang jauh dan antre berjam-jam demi menyalurkan hak pilihnya. Meski ada kasus kertas surat suara tercoblos di Malaysia yang memenangkan kubu tertentu, mereka tetap berpartisipasi.

Ketua Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandiaga, yang juga anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN), Mohamad Taufik, optimistis kubu 02 meraih kemenangan. Keyakinan Prabowo menang pilpres bukan tanpa dasar. Berdasarkan exit poll Pemilu Presiden-Wakil Presiden dan Pemilu Legislatif di beberapa TPS/KSK di luar negeri, seperti di Arab Saudi, Jeddah, Makkah, dan Madinah, pasangan nomor 02 sementara menang telak di atas 60 persen. Sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh suara sekitar 36 persen.

’’Alhamdulillah, hasil exit poll di Arab Saudi, Prabowo-Sandi unggul. Untuk sementara raihan suara 02 di atas 60 persen. Itu yang membuat kami ingin membicarakan mengenai kemenangan. Semoga kemenangan ini berlanjut ke wilayah lain di luar negeri dan di Indonesia,’’ harap kata Taufik kepada INDOPOS di Jakarta, (16/4).

Taufik menjelaskan, Tim Relawan Pemantau Pemilu (TRPP) Serikat Pekerja Migran Indonesia (SPMI) Arab Saudi, bekerja sama dengan manhajuna.com, pada Jumat (12/4) melakukan exit poll Pemilu Presiden-Wakil Presiden dan Pemilu Legislatif. Kegiatan itu dilakukan di beberapa TPS/KSK di wilayah Arab Saudi meliputi Jeddah, Makkah, dan Madinah.

Jubir Direktorat Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Habiburokhman menyambut gembira hasil exit poll pencoblosan di luar negeri yang memberikan kemenangan bagi kubu 02.

’’Mereka menentukan pilihan berdasarkan rasionalitas sehingga Pak Prabowo dapat memenangkan suara dalam exit poll,’’ ujar Habiburokhman kepada INDOPOS, Selasa (16/4) malam.

Habiburokhman menyebut, jarak elektabilitas Prabowo-Sandiaga terus meninggalkan Jokowi-Ma'ruf dengan selisih 10 persen. Ada beberapa masalah yang dianggap berpengaruh terhadap turunnya elektabilitas Jokowi.

’’Data terakhir menunjukkan, setidak-tidaknya kita di atas 10 persen unggul dari Pak Jokowi. Ada dua hal yang sangat monumental terjadi saat survei ini dilakukan, sebelum survei ini dilakukan, itu penangkapan Rommy (eks Ketum PPP Romahurmuziy) kalau kita lihat tanggal 15 Maret dan hanya beberapa hari kemudian penangkapan yang Golkar (Bowo Sidik) itu,’’  terangnya.

Namun, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Meutya Hafid optimistis paslon nomor urut 01 tetap menang tebal pada ajang pilpres 2019. Terlebih, survei terbaru yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf berada di angka 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen responden menyatakan rahasia.

TKN menyebutkan hasil survei secara ekstrapolasi dari survei yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan pasangan Jokowi-Ma'ruf meraih 56,8 persen berbanding 43, 2 persen suara dari pasangan 02. ’’Hasil survei Kompas semakin meyakinkan kami bahwa pasangan 01 semakin jauh meninggalkan 02,’’ tukasnya.

Menurut Meutya, ada sejumlah indikasi mengapa suara Jokowi akan lebih tinggi dibanding suara pada 2014. Hal pertama adalah Jokowi akan mampu merebut suara mayoritas di wilayah yang selama ini menjadi basis pasangan 02. Basis yang dimaksud mengacu pada Jawa Barat (Jabar). 

Meutya mengatakan, hasil pilkada Jabar telah menunjukkan kemenangan pasangan yang diusung parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf. "Ada kenaikan suara di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI dan Banten," kata Meutya lagi.

Meutya pun yakin dengan makin banyaknya hasil kerja nyata yang dirasakan masyarakat, maka elektabilitas calon petahana akan semakin meroket.

Survei Denny JA Menangkan Jokowi

Hasil survei terbaru lima hari menjelang pencoblosan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pasangan capres nomor urut 01, Joko Widodo dan Maruf Amin, unggul dibandingkan pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Bahkan, Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa mengatakan Jokowi-Ma'ruf akan menang telak.

"Jokowi di ambang menang telak," kata Ardian dalam konferensi pers di Kantor LSI Denny JA, Jakarta, Jumat, 12 April 2019.

Survei ini dilakukan pada 4-9 April 2019 dengan menggunakan 2 ribu responden. Survei di 34 provinsi di Indonesia ini menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan simulasi kertas suara. Margin of error survei ini 2.2 persen.

Hasilnya elektabilitas Jokowi - Ma'ruf berada di rentang 55,9 - 65,8 persen. Adapun lawan mereka, pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno berada di rentang 34,2 - 44,1 persen

’’Artinya jika elektabilitas Jokowi-Maruf menggunakan batas bawah elektabilitas saat ini 55,9 persen, dan Prabowo-Sandi menggunakan batas atas 44,1 persen, Jokowi-Maruf diproyeksikan tetap menang telak dengan selisih di atas dua digit,’’ ucap Ardian.

Menurut Ardian, Jokowi-Maruf unggul di atas dua digit dari Prabowo-Sandi ini konsisten sejak Agustus 2018. Dia berujar sejak pendaftaran calon presiden, elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 52,2 persen, sementara Prabowo-Sandi sebesar 29,5 persen.

Namun, Jubir Direktorat Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Habiburokhman tidak risau dengan survei Denny JA. Habiburokhman mengungkit soal survei LSI Denny JA pada H-10 menjelang Pilgub DKI 2012. Saat itu survei LSI meleset hingga 30 persen dengan hasil quick count (QC).

Tunjukkan Sikap Legowo

Sejumlah pakar sosiologi mengingatkan capres dan cawapres serta caleg yang bertarung pada Pemilu 2019 harus legowo bila kelak tak terpilih alias kalah. Hal itu perlu ditunjukkan agar roda pemerintahan yang baru dapat berjalan lancar.
’’Terima saja kekalahan tersebut secara lapang dada. Ini sikap patriot yang harus ditunjukkan ke masyarakat oleh mereka. Catatannya masih ada hari esok untuk melakukan perbaikan dan ikhtiar lebih lanjut agar berikutnya bisa berhasil,’’ kata Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo kepada INDOPOS, Selasa (16/4).

Menurut Imam, kekalahan yang diterima bukanlah akhir dari segalanya. Sebab dari kekalahan itu para caleg dapat melihat pola pertarungan dalam pemilu selanjutnya agar memperoleh kemenangan.

’’Ini kemenangan tertunda. Jadi harus bangkit dan mulai mempersiapkan diri untuk ikut bertanding kembali. Kalau semua menang itu bukan pertandingan apik,’’ ujar Imam.

Sikap lapang dada seorang caleg, calon kepala daerah atau capres yang kalah dalam Pemilu dapat menunjukkan kedewasaan mereka berkiprah di dunia perpolitikan tanah air. Hal itu pula yang dapat memberikan pendidikan politik kepada masyarakat untuk mengubah tatanan berdemokrasi.

’’Ini akan dapat berjalan aman dan tertib. Jadi mereka punya nilai tersendiri di mata masyarakat. Jika simpati ini sudah didapatkan, maka mereka adalah pemenang dari pesta demokrasi yang sesungguhnya,’’ paparnya.

Sikap legowo atau menerima kekalahan dapat membuat tatanan demokrasi bernegara ke masyarakat menjadi kuat. Sikap ini pula yang dapat mengantisipasi perpecahan di tengah masyarakat dan pemerintah. Serta dapat mengajarkan kepada warga negara tata cara berpolitik yang baik.

’’Selama ini belum ada ilmu itu diberikan ke warga. Jika mau menjadi negarawan harus puny

a sikap ini. Mereka bisa disebut ksatria bangsa. Pasti perpolitikan di masyarakat akan meningkat kalau ilmu ini diturunkan,’’ pesan dia.

Praktik Politik Uang

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menemukan 25 kasus dugaan praktik politik uang yang dilakukan peserta Pemilu maupun tim pemenangan selama masa tenang kampanye pada 14 hingga 16 April.

"Sampai hari ini, sejak hari Minggu, Senin dan Selasa, pengawas Pemilu telah menangkap 25 kasus politik uang," ujar Komisioner Bawaslu, Muhammad Afifudin, di kantor Bawaslu RI, Selasa.

Afif mengatakan, 25 kasus tangkap tangan politik uang itu tersebar di 13 provinsi. Jawa Barat dan Sumatera Utara menjadi lokasi yang paling banyak ditemukan praktik haram tersebut.

’’Tangkapan terbanyak di Jawa Barat lima kasus dan Sumatera Utara lima kasus,’’ ungkapnya.

Penemuan itu, kata Afif, berdasarkan hasil patroli pengawas pemilu di tingkat daerah. Panwaslu berhasil menemukan dan memproses 22 kasus, sementara tiga laporan lain berasal dari kepolisian.

Menurut dia, adapun barang bukti yang berhasil diamankan seperti pemberian uang, deterjen, hingga sembako. Temuan uang paling banyak ditemukan di wilayah Karo Sumatera Utara dengan total uang mencapai Rp190 juta.

’’Lokasi politik uang di rumah penduduk dan tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan,’’ kata dia.

Selain dilakukan peserta dan tim pemenangan Pemilu, Bawaslu juga menemukan pelanggaran yang dilakukan oknum Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Tapin, Kalimantan Selatan.

Oknum petugas dari KPPS itu diduga telah memberikan uang saat membagikan formulir C6 atau undangan pemilih untuk mencoblos di TPS. Saat itu, oknum petugas KPPS memberikan kartu nama seorang caleg beserta uang Rp 100 ribu.

’’Ini dugaan pelanggaran politik uang. Subjek hukum akan diproses sesuai aturan. Harapan kami meskipun orientasi politik uang adalah pencegahan dan pengawasan, tapi dalam prosesnya apabila menemukan kejadian di lapangan langsung kami proses," kata dia.

Seluruh temuan Bawaslu ini akan dibahas dalam rapat Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakumdu). Apabila terbukti memenuhi unsur pelanggaran pidana atau adminitrasi Pemilu, maka Bawaslu akan langsung melakukan tindakan sesuai peraturan perundang-undangan.

"Ancaman sanksi atas ketentuan 523 ayat 3 setiap pelaksana dengan sengaja pada masa tenang menjanjikan uang kepada pemilih dipidana 4 tahun dan denda Rp48 juta," tegasnya. (aen/wok/cok)

 

Berita Terkait

Headline / Pengunjung Pasar Tanah Abang Tambah Ramai

Megapolitan / MK Putuskan Gugatan Prabowo Maksimal 14 Hari

Megapolitan / Delapan Kompi TNI/Polri Amankan Mahkamah Konstitusi


Baca Juga !.