Kisah Alm Genduh Mulatif dan Pendirian Yayasan Galuh Bekasi

indopos.co.id – Delapan tahun setelah meninggalnya almarhum (alm) Genduh Mulatif pada 2011 silam, Yayasan Galuh masih aktif memberikan kemerdekaan bagi penyandang gangguan jiwa. Anak dan para cucunya tak pernah lelah mengurus seluruh pasien yang kini jumlahnya sudah mencapai 430 orang. Seperti apa kisahnya?

Semasa hidupnya, alm Genduh Mulatif sebagai sosok veteran pejuang kemerdekaan tak mau putus sampai negeri ini benar-benar merdeka. Genduh menilai perjuangannya tidak tuntas kalau masih ada orang gangguan jiwa berkeliaran, mengais di jalan hingga makan sampah.

Berbekal semangat tersebut, Genduh kala itu mulai menampung setiap orang gangguan jiwa untuk disembuhkan. Hingga akhirnya, pada 1984 alm Genduh mendirikan sebuah Yayasan Galuh sebagai sarana pengobatan orang dengan gangguan jiwa. Tak pandang pilih siapa yang sakit, semuanya diajak ke rumah untuk disembuhkan.

Kebetulan Genduh ketika itu menjabat Kepala Rukun Kampung atau yang saat ini namanya Rukun Warga di Kampung Poncol Margahayu, Bekasi Timur. Pasien pertama yang diobatinya kala itu seorang perempuan yang ditemukan di pinggir jalan. Hingga dua pekan diberikan pengobatan, perempuan tersebut akhirnya sembuh. Dia sudah sehat layaknya orang normal.

Dari situ, nama Genduh santar terdengar dimana-mana. Sejumlah warga mulai berdatangan untuk meminta kepada Gendu untuk mengobati sanak keluarganya yang memiliki gangguan jiwa. Karena tidak memiliki lahan yang cukup, akhirnya pengobatannya itu ditempatkan di belakang rumahnya.

Bukan hanya keterbatasan lahan, Genduh pun mulai menata kebutuhan makannya. Sebab, kala itu dia hanya mengandalkan sumbangan keluarga pasien, donatur, dan bantuan tidak tetap dari pemerintah. Bahkan, tidak sedikit, Genduh menyisihkan penghasilan dari usaha penyewaan 15 delman untuk makan sehari-hari seluruh pasiennya.

Hingga 2011, yayasan yang dibangun Genduh dipindahkan ke Jalan Rata Sepatan, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi. Di situ juga Genduh menghabiskan hidupnya. Dia meninggal pada 26 Januari 2011 atau di usia 94 tahun. Genduh merupakan putera pasangan suami istri Murdani dan Rodiah. Kini, yayasan Genduh diwariskan kepada lima anaknya.

Semasa hidupnya Genduh menerapkan lima cara pengobatan, yakni doa, nasihat, ramuan, urut, dan pijat. Doa misalnya, diterapkan bagi pasien yang mengalami tekanan mental atau stres. Sementara cara nasihat dilakukan bagi pasien yang terkena gangguan jin dan makhluk halus atau karena tidak kuat belajar ilmu.

Kini, untuk bisa sampai ke lokasi pengobatan Yayasan Galuh, tentu harus sigap. Sebab, letaknya yang berada di ujung Jalan Sepatan cukup sulit mencarinya. Apalagi, papan pengenal Yayasan Galuh yang dipasang di ujung gang nyaris tak terlihat pandangan. Selain berukuran kecil, juga penempatannya terjepit dua tiang.

Kira-kira untuk melaju ke dalam gang jaraknya mencapai 50 meter. Setelah itu, baru terlihat gerbang warna hitam. Di tempat tersebut sudah banyak petugas jaga yayasan dan para penghuninya untuk menanyai maksud kedatangan tamu. Lahan yang dipakai cukup luas yakni, 4.000 meter persegi. Setiap pengunjung yang datang akan melihat bangunan besar di sisi kiri dan kanan. Bangunan dua lantai di sisi kiri itu untuk istirahat pasien yang dibagi 20 ruangan. Kemudian sisi kanannya dibangun aula makan para pasien. 

“Sekarang pasien yang ada di yayasan sudah berjumlah 430 orang. Mereka datang dari berbagai wilayah di Jakarta Bogor Tangerang dan Bekasi,” kata Soraya, 43 anak bungsu Genduh di Yayasan Galuh, Rabu, (17/4).

Soraya menceritakan, sejak orang tua meninggal yayasannya sudah dikelola bersama-sama empat orang saudaranya. Secara bersama-sama mereka menularkan rasa empati kepada setiap orang yang mengalami gangguan jiwa. Tak ada yang bisa disesalkan dalam menunjukkan rasa sosialnya selama ini. “Banyak duka dan suka saya bersama saudara menjalankan yayasan ini,” kata perempuan bertubuh gemuk itu.

Rasa sukanya, lanjut Soraya, ketika pasien yang diobatinya sudah bisa sampai sembuh. Namun rasa dukanya, dimana ada pasien yang mengamuk sampai melukai pasien lainnya. “Itu suka dan duka yang kita jalankan selama mengurusi ratusan pasien,” ucapnya.

Namun sejak setahun lalu, kata dia, teknik pengobatan yang sudah diterapkan ke para pasien sudah mendapat pendampingan dokter. Kehadiran dokter itu berkat kerja sama dari salah satu yayasan di Jakarta. Ini termasuk adanya pemberian obat gangguan jiwa kepada para pasien. “Kalau dulu dokternya tidak kita bayar. Tapi karena kerja samanya sudah tidak terjalin lagi kita akhirnya bayar dokter untuk kesini,” imbuhnya.

Untuk mengurusi seluruh pasien, kata dia, sudah diperbantukan oleh 60 pengurus yayasan dan keberadaan 24 perawat. Saat ini, kata Soraya, seluruh warga binaan tersebut dibagi menjadi tiga kelas berbeda, yakni kelas 40, 50, dan 60. Ini dibedakan berdasarkan tingkat kesadaran warga binaan. “Kelas 40, warga binaan sudah bisa diajak komunikasi, tapi kebersihan mereka kurang. Kemudian 50, mereka mulai santai diajak komunikasi tapi kebersihan masih kurang. Kalau 60, mereka sudah bisa komunikasi dengan baik, dan kebersihan mulai terjaga pula,” imbuhnya.

Soraya mengakui untuk mensiasati kebutuhan sehari-hari seperti makan pasien hanya mengandalkan uluran tangan keluarga pasien dan donatur sampai bantuan tidak mengikat dari pemerintah. Namun, bila semuanya dianggap masih kurang, kakak tertuanya Suhanda mengambil kebutuhan makan dari sawah. “Karena ada lahan garapan yang dipinjamkan ke kami. Jadi kami kelola untuk menanam bahan makanan untuk makan di sini,” tandasnya. (*)

Komentar telah ditutup.