Headline

Waktunya Move On, Bro!

Redaktur: Juni Armanto
Waktunya Move On, Bro! - Headline

indopos.co.id - Pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2019 ini sangat sengit. Hasil hitung cepat (quick count) dari sejumlah lembaga survei memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf. Namun, berdasarkan hitung riil (real count) internal kubu 02, Prabowo-Sandi justru unggul 62 persen. Pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) - Ma'ruf Amin menjadi pemenang Pemilu 2019 versi hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Pada pukul 19.15 WIB, LSI telah menerima data sampel sebesar 96,95 persen. Berdasarkan data tersebut, maka pendiri LSI, Denny JA, menyatakan pasangan Jokowi-Ma'ruf merupakan pemenang pemilihan presiden 2019.

’’Quick count resmi menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul terhadap Prabowo-Sandi ketika data masuk 95 persen,’’ kata Denny kepada para pewarta di Jakarta, Rabu.

Hasil perhitungan LSI menyimpulkan, Jokowi mendulang 55,44 persen, sedangkan Prabowo hanya mendapatkan 44,56 persen suara.

’’Selisihnya 'double' digit. Dalam bahasa politik ini merupakan kemenangan besar,’’ tambah Denny.

Hitung cepat yang dilakukan LSI mengambil sampel dari 2.000 tempat pemungutan suara (TPS), yang tersebar secara proporsional berdasarkan provinsi di Indonesia. Mereka menggunakan teknik pengambilan sampel "multistage random sampling", dengan "margin error" 1 persen.

Proses hitung cepat yang dilakukan lembaga survei Indo Barometer juga memenangkan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

’’Ini sudah 95 persen, berarti bisa dideklarasikan yang menjadi pemenang pasangan Jokowi-Ma'ruf,’’ ujar peneliti Indo Barometer Asep Saepudin, di kantor Indo Barometer, Tebet, Jakarta, Rabu.

Berdasarkan perolehan suara yang masuk hingga pukul 20.32, pasangan Jokowi-Ma'ruf berhasil memperoleh suara sebesar 54,37 persen.

Sementara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih suara sebanyak 45,63 persen.

Adapun jumlah suara yang telah masuk sebanyak 95,08 persen, berasal dari 1141 tempat pemungutan suara (TPS), dari total 1200 TPS yang menjadi sampel. Total suara yang tidak sah sementara sebesar 2,86 persen.

Asep mengatakan dengan jarak perolehan suara hingga 8,7 persen, sangat sulit bagi pasangan Prabowo-Sandi untuk mengejar.

Perubahan prosentase yang mungkin terjadi pada saat suara yang masuk telah mencapai 100 persen, hanya berkisar satu atau dua angka di belakang koma.

"Jadi kalau sudah 95 persen sudah aman," ucap dia.

Margin of error pada hitung cepat Indo Barometer sebesar 1 persen, dengan tingkat kepercayaan sebesar 99 persen.

Pidato Kemenangan Prabowo

Sementara itu, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengumumkan kemenangan dalam pilpres 2019 di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (17/4). Kemenangan itu berdasar penghitungan riil internal.

’’Saya ingin sampaikan, posisi kita sudah berada di 62 persen. Ini hasil real count dalam 320 ribu TPS. Ini tidak akan berubah banyak. Bisa naik satu persen bisa juga turun satu persen,’’ ujar Prabowo.

Ketua umum Gerindra itu menjanjikan, di bawah kepemimpinannya nanti rakyat Indonesia akan makmur dan sejahtera. Serta akan memperjuangkan seluruh hak masyarakat. Dengan demikian bangsa ini akan disegani negara lain. 

’’Kita sudah menang. Seluruh rakyat Indonesia bersama kita. Saya akan jadi Presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagi rakyat yang dukung calon presiden 01 kau akan ku bela. Kita akan bangun Indonesia adil dan makmur,’’ ucap Prabowo. 

Prabowo mengingatkan kembali kepada pendukungnya agar tak mudah terprovokasi dan tetap menjaga ketertiban hingga kedamaian. Karena bangsa Indonesia tidak boleh terpecah belah akibat pesta demokrasi. ’’Saya tegaskan di sini mengimbau jangan terpancing. Tidak akan kita gunakan cara-cara di luar hukum karena kita sudah menang,’’ imbaunya. 

Sementara itu , Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf tidak melakukan hitung cepat maupun "exit poll internal" sehingga tidak dapat melakukan klaim hasil tertentu seperti yang disampaikan calon presiden Prabowo Subianto.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Arsul Sani, di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu, mengatakan pihaknya mempercayakan hasil hitung cepat kepada lembaga-lembaga survei.

"TKN mempercayakan kepada lembaga survei, dan lembaga survei itu di luar yang sama-sama ditayangkan di berbagai TV, juga ada juga nanti lembaga-lembaga yang memang tidak mempublikasikannya di media arus utama, ya nanti kita lihat juga akan seperti apa," ujar Arsul Sani.

Terkait adanya pihak yang meragukan hasil sejumlah hitung cepat dan "exit poll" lembaga-lembaga survei, menurut dia, masyarakat Indonesia sudah pintar dalam melihat hasil survei diketahui dari partisipasi yang tinggi dalam Pemilu 2019.

Dalam proses kampanye pemilu selama tujuh bulan yang melibatkan emosi, tutur dia, tetapi pelaksanaannya berlangsung secara lancar dan aman.

"Masyarakat yang justru selama ini tidak ikut hiruk pikuk kampanye kedua paslon itu telah melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dan menggunakan haknya juga sebagai warga negara," kata Arsul Sani.

Mari Bersaudara Lagi

Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengajak masyarakat yang sebelumnya terbelah kembali menjalin tali persaudaraan.

’’Kalau kurang lebih tidak ada lah yang sempurna, spirit kita kan sudah selesai, sekarang ayo kita tunjukkan sebagai negara besar, kita bersaudara lagi. Sudah cukup lah itu,’’ ujar Luhut Binsar Panjaitan di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu sore.

Luhut mengapresiasi penyelenggara pemilu, baik Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan pihak pengamanan dari TNI maupun Polri. Mereka berhasil menyukseskan penyelenggaraan pesta demokrasi.

Luhut mengakui, ada beberapa kekurangan dalam pelaksanaan Pemilu 2019 yang menyebabkan dua belah kubu dirugikan. Namun secara umum, sebagian besar di daerah-daerah berjalan baik.

Untuk hasil Pemilu 2019, Luhut menekankan harus menunggu pengumuman dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan tidak ada yang boleh mendahului.

’’Kami tidak bisa ngomong, yang ngomong nanti KPU,’’ ucap Luhut.

Terkait hasil yang dikeluarkan lembaga-lembaga survei, Luhut menegaskan lembaga survei tidak mungkin diatur-atur. Sebab, hal itu akan memengaruhi reputasi dan kredibilitas lembaga.

’’Kalau hemat saya dengan zaman teknologi sekarang tidak usah berburuk sangka. Semua kita melakukan dengan profesional saya piker. Kan juga hitung cepat lembaga survei kecil-kecil bedanya hanya beberapa persen,’’ kata Luhut.

Jaga Persatuan

Gerakan Pemuda Ansor juga mengajak rakyat Indonesia menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, ketertiban, serta keamanan bersama usai pemungutan suara.

’’Beda pilihan adalah biasa dalam demokrasi. Yang terpenting menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,’’ ujar Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta, Rabu.

Ansor bersyukur bahwa Pemilu 2019 berlangsung lancar, aman, dan tertib. Situasi yang kondusif ini, kata Yaqut, harus dipertahankan, termasuk oleh kader Ansor.

’’Saya minta seluruh kader juga ikut membantu menjaga suasana tetap aman dan nyaman, menciptakan kondisi tetap kondusif. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa, jaga Indonesia," ujar Yaqut.

Yaqut juga mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin yang berdasar hitung cepat sejumlah lembaga survei unggul sementara.

’’Selamat kepada Pak Jokowi dan KH Ma'ruf Amin yang telah memenangkan Pilpres 2019. Kemenangan ini masih berdasarkan 'quick count', kita tunggu hasil resmi KPU. Tapi saya yakin hasilnya tidak akan jauh berbeda,’’ kata Yaqut.

Menurut Yaqut, rakyat Indonesia memilih calon pemimpin bangsa ini ke depan, memilih pilihan presiden mereka sendiri.

’’Mari kita rayakan kemenangan ini bersama. Kita lihat rakyat Indonesia bersuka cita dalam pesta demokrasi kali ini. Pemilu hal biasa, tidak ada istimewa, sudah berkali-kali kita ikut Pemilu. Mari kita bergembira saja,’’ ujarnya.

Yaqut memuji Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai sosok negarawan. Keduanya telah memberi contoh yang baik bagaimana berdemokrasi.

’’Saya menaruh hormat tinggi kepada Pak Prabowo. Beliau negarawan sejati. Begitu juga dengan Pak Sandiaga Uno yang saya yakin juga memiliki kebesaran jiwa. Nasionalisme beliau tidak perlu diragukan. Semua demi NKRI,’’ ujarnya.

Tetap Tenang

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengajak masyarakat tenang menyikapi hasil penghitungan cepat Pemilihan Umum 2019.

’’Tetapi yang harus dijadikan sebagai dasar dan acuan adalah hasil penghitungan resmi KPU,’’ kata Anwar kepada wartawan di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan meskipun sudah ada lembaga-lembaga tertentu yang melakukan hitung cepat, MUI mengharapkan agar masyarakat tidak menjadikan itu sebagai dasar untuk menyatakan pihak mana yang menang dan kalah.

MUI, kata dia, juga mengimbau seluruh elemen masyarakat tetap tenang dan selalu berusaha menjaga ukhuwah dan tali persaudaraan. Penting juga tidak melakukan hal-hal yang bisa merusak persatuan dan kesatuan sebagai bangsa.

Anwar mengajak seluruh elemen masyarakat memberikan waktu dan kesempatan kepada KPU agar bisa berkerja tenang. Supaya KPU dapat menghitung suara dengan baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

’’MUI mengharapkan KPU agar bekerja secara profesional, jujur, adil, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat bisa menerima hasil pemilu ini dengan ikhlas dan legawa,’’ kata dia.

Bila setelah KPU mengumumkan hasil perhitungannya lalu ada yang keberatan, dia mengatakan MUI menghimbau agar persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum.

KPU Harus Jujur

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan usai pemungutan suara Pemilu 2019, para kontestan dan elite partai dari masing-masing kubu harus memulai upaya rekonsiliasi bangsa yang selama tujuh bulan terakhir berbeda pandangan politik di masa kampanye.

JK menyarankan kedua capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto untuk dapat menenangkan pendukung-pendukungnya, menunggu dan mengawasi hasil rekapitulasi KPU dan bersama-sama memajukan bangsa Indonesia.

’’Apabila sudah ada penghitungan akhir dari KPU, ya kita harus menerimanya dengan lapang dada; baik yang menang tentunya menerima, yang kalah akan menerima juga. Kita rekonsiliasi bangsa ini untuk bekerja pada masa depan yang lebih baik lagi,’’ kata JK dalam wawancara dengan stasiun televisi swasta nasional di Jakarta, Rabu.

Selama masa kampanye tujuh bulan terakhir, masyarakat Indonesia seakan-akan terpecah-belah karena perbedaan preferensi politik di Pilpres 2019. JK menilai hal itu wajar terjadi di sebuah negara demokrasi, namun hal itu tidak boleh berkepanjangan hingga menghambat pembangunan bangsa.

’’Ya semua pemilu di mana pun pasti ada perbedaan, jadi seakan-akan terbelah. Tapi setelah menerima keputusan dengan penghitungan terbuka, adil dan dapat dipercaya, maka kita harus ikhlas menerima itu dan bersama-sama membangun bangsa ini lebih baik lagi,’’ jelasnya.

Wapres juga mengimbau kepada kedua capres dan para pendukungnya untuk tidak terlalu bergembira secara berlebihan. Sedangkan kepada pemenang pilpres nanti, JK berharap dapat memberikan kesempatan bagi yang kalah untuk bergabung membangun Indonesia.

JK juga berharap Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan seluruh jajarannya di daerah dapat bekerja dengan baik, jujur, adil dan transparan selama menjalankan proses rekapitulasi perolehan suara.

’’Ya kita bersyukur bahwa pemilu ini berlangsung baik, dengan terbuka, dengan jujur. Kita semua juga mengharapkan KPU (bekerja) baik, dengan jujur, dengan adil dan transparan,’’ kata Wapres JK dalam wawancara dengan stasiun televisi swasta nasional di Jakarta, Rabu.

KPU Dinilai Abai

Ketua Bawaslu RI Abhan Misbah menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) abai dan tidak memberikan perhatian terkait penyelenggaraan Pemilu serentak 2019, sehingga berbagai masalah serta kasus bermunculan dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.

’’Situasi yang terjadi hari ini benar-benar menunjukkan bahwa ada hal teknis yang abai yang kemudian tidak diberikan perhatian oleh penyelenggara pemilu, misalnya soal logistik,’’ kata Abhan Misbah di Jakarta, Rabu.

Dia mengungkapkan dalam Pemilu serentak 2019 masyarakat paling ramai membicarakan soal terjadinya penundaan jam buka TPS akibat permasalahan ketersediaan surat suara.

’’Itu membuat beberapa TPS akhirnya dibuka siang dan juga direkomendasikan pemungutan suara susulan,’’ jelasnya.

Muara utama permasalahan logistik itu akibat validasi daftar pemilih, terkhusus Daftar Pemilih Khusus (DPK).

’’Semakin banyak orang belum masuk dan itu berpotensi masuk DPK, maka semakin banyak potensi kekurangan surat suara di TPS-TPS tersebut,’’ jelasnya.

Menurut data, temuan Bawaslu RI, terdapat 3.252 TPS yang belum disiapkan hingga pukul 21.00 malam pada Selasa kemarin (16/4/2019).

Sementara itu ada 1.703 TPS dimana petugas KPPS belum menerima perlengkapan pemungutan suara, seperti kotak suara dan surat suara di waktu tersebut.

Kondisi ini mengonfirmasi tentang banyaknya masalah logistik yang muncul dalam penyelenggaraan pemungutan suara pada Pemilu serentak 2019. (dan/wok/ant/aen/cok)

Berita Terkait

Headline / Pengunjung Pasar Tanah Abang Tambah Ramai

Megapolitan / Massa Pendukung Prabowo Sandi Buka Puasa di Depan MK

Megapolitan / MK Putuskan Gugatan Prabowo Maksimal 14 Hari

Megapolitan / Delapan Kompi TNI/Polri Amankan Mahkamah Konstitusi

Politik / Penetapan Caleg Daerah Tunggu Juknis KPU-RI


Baca Juga !.