Pemilu (Legislatif) yang Terlupakan

indopos.co.id – Pesta lima tahunan kali ini memang beda. Jika di pesta-pesta sebelumnya banyak yang malas untuk bangun pagi, kali ini malah sudah antre pagi-pagi.

Belasan orang rela sudah berkumpul menunggu tempat pemungutan suara (TPS) dibuka. Sementara petugas kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) masih merapikan sejumlah perlengkapan yang akan digunakan untuk keperluan mencoblos.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00, orang yang berkumpul terus bertambah. Seperti menanti sebuah toko yang sedang menawarkan diskon, mereka tampak sabar menunggu aba-aba dari petugas KPPS untuk bisa segera menggunakan hak pilihnya.

Di depan plang bertuliskan “keluar”, tidak jauh dari jalur “masuk” ke TPS, tampak penjual mainan anak-anak dan balon menggelar dagangannya. Harapannya, pengunjung TPS yang membawa anaknya bisa digoda.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, orang yang berkumpul semakin banyak. Jumlahnya sudah mencapai puluhan. Rasa sabar menunggu mulai sedikit hilang. “Ayo pak, kapan dimulainya nih,” teriak seorang ibu.

Sekitar tujuh orang petugas yang tengah merapikan kertas suara tak bergeming. Hanya menoleh sebentar, kembali dia menumpukkan kertas-kertas yang sudah terlipat.

Tepat pukul 08.30, petugas yang ada di belakang meja mulai memanggil satu persatu kumpulan orang tersebut. Seperti anak kecil yang diberi permen, raut bahagia tampak sekali dari wajah seorang ibu yang mendapati namanya dipanggil.

Lima kertas terlipat tebal diterimanya dari petugas. Tak ingin berlama-lama, dia langsung menuju meja yang berjajar kardus-kardus yang sudah ditekuk. Berada di balik kardus tersebut, perempuan seperti kesulitan membuka lipatan kertas yang dipegangnya. Kertas itu pun dibentangkan di hadapannya. Sembari memegang paku, dia kelihatan kebingungan. Tampak ada kerut di dahinya setelah melihat bentangan kertas tersebut. Sekilas mirip seorang pelajar yang tengah mengerjakan soal ujian.

Sekitar 4-5 menit, dia akhirnya keluar dari bilik suara. Sembari memegang kertas yang dibawanya tadi dalam kondisi sudah terlipat saat dia terima dari petugas tadi. Satu persatu lipatan kertas itu dimasukkannya ke dalam kotak yang terbuat dari bahan kardus sesuai warna yang ada di masing-masing kertas tersebut.

Beres semua kertas masuk ke kotak, dia menuju arah plang yang bertuliskan Keluar. Belum melewati garis keluar, petugas lainnya sudah menunggu. Petugas itu menyodorkan satu botol tinta. Si ibu mencelupkan jari kelingkingnya ke botol tinta itu.

Sembari melirik ke penjual mainan anak-anak dan balon, si ibu tampak bangga dan bahagia. “Alhamdulillah, sekarang bisa lanjutin masak lagi,” ucapnya kepada orang yang sudah semakin ramai berada di TPS.

Puluhan orang lainnya masih dengan sabar menunggu giliran namanya mereka dipanggil satu-persatu. Hingga pukul 13.00, TPS tampak mulai lengang. Hanya satu dua orang saja yang masih memberikan hak suara. Petugas KPPS juga sudah bisa menghela napas. Bungkusan nasi dari restoran Padang baru sempat dibukanya. Lahan sebungkus nasi untuk melanjutkan tugasnya.

Setengah jam berselang, orang-orang kembali mulai berdatangan. Satu persatu mereka mencari tempat untuk duduk dan mengambil posisi yang nyaman. Petugas memberitahukan penghitungan suara akan segera dilakukan.

Duduk menghadap meja panjang, deretan para saksi dari calon presiden dan partai politik telah bersiap.

Satu persatu warga terus berdatangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua kembali memenuhi area TPS.

Perhitungan pun dimulai. Yang mendapat giliran pertama, kotak berisikan kertas suara calon presiden dan calon wakil presiden yang sudah dicoblos untuk dihitung dari lima kotak yang ada.

Ketua KPPS membuka kertas terlipat satu persatu. Dibentangkan dengan kedua tangannya. Berteriak menyebut nomor. Setiap nomor yang disebut, mendapat sorakan dari warga yang hadir.  

Hampir satu jam, kertas-kertas yang sudah tercoblos itu selesai diumumkan satu persatu. 

Warga merangsek ke depan melihat hasil di kertas besar yang ditempel di papan. Petugas sibuk menghitung jumlah suara yang tadi sudah ditulisnya. Kamera ponsel milik warga bergantian mengambil foto hasil dari penghitungan.

Satu persatu warga mulai meninggalkan lokasi TPS. TPS tinggal menyisakan petugas dan para saksi yang bersiap melanjutkan penghitungan untuk suara calon anggota legislatif DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI.

Tak ada warga yang tertarik ketika tumpukan kertas suara akan dihitung. Meski tanpa penonton, petugas harus menjalankan kewajibannya meneriakkan nomor parpol dan calon legislatif yang sudah tercoblos.

Dari hasil coblosan, hampir sebagian kertas yang tercoblos berada di gambar partai politik pilihannya. Ada beberapa caleg yang dominan namanya di kertas tercoblos.

Para pemilih seakan tidak peduli jika para caleg yang namanya terpajang di kertas suara telah menghabiskan uangnya untuk membeli atribut kampanye. Mereka juga seakan tak peduli, jika saat itu caleg-caleg tersebut cenat cenut menanti nasib mereka.

Suara azan Isya terdengar dari speaker masjid yang tidak jauh dari lokasi TPS. Petugas di TPS dan empat orang saksi dari parpol tampak lelah. Masih ada dua kotak suara lagi yang belum dihitung. Kotak suara untuk DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. (nurhayat hudori)

Komentar telah ditutup.