Nasional

Tidak Pernah Melupakan Kodrat

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Tidak Pernah Melupakan Kodrat - Nasional

 ilustrasi RA Kartini

indopos.co.id - Kapolres Cianjur AKBP Soliyah menerapkan semangat perjuangan RA Kartini dalam bekerja. Ibu dari empat orang anak itu mengatakan, selama ini kinerja yang diberikan untuk intsitusi lebih banyak berkaca pada prinsip RA Kartini yang menunjukkan keberadaan perempuan setara dengan pria dan bahkan dapat lebih baik.

"Mungkin teman-teman pewarta dan warga Cianjur yang dapat menilai apakah kinerja pimpinan perempuan lebih baik atau tidak. Meskipun sebagai perempuan dan menjadi pimpinan tugas dan fungsi saya tidak berbeda dengan pimpinan pria," katanya di Cianjur, Minggu (21/4/2019).

Ia menilai, sosok Kartini-lah yang membangun kesetaraan perempuan dengan pria yang membuat banyak perempuan di Indonesia memiliki daya saing kuat. Terbukti dengan banyaknya menteri serta pimpinan institusi baik Polri/TNI dan institusi hukum lainnya dari kaum hawa yang menorehkan prestasi bagus.

Namun, tutur dia, meskipun kesetaraan tersebut menciptakan perempuan hebat, tidak pernah melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga yang selalu meluangkan waktu untuk mengurus anak dan suami karena hal tersebut merupakan ibadah.

"Tugas sebagai ibu rumah tangga sekarang tidak akan hilang meskipun tidak dapat bertemu langsung dengan anak dan suami. Kecanggihan teknologi mendekatkan jarak tersebut, baik melalui telepon atau video call setiap hari selalu saya lakukan," ujarnya.

Seperti diketahui, hari ini (21/4/2019) diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada tanggal tersebut. Semangat dan perjuangan Kartini diusung, terutama oleh para perempuan Indonesia. Dia disebut sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Tak heran, jika Kartini dinobatkan sebagai salah satu pahlawan nasional.

Kartini bernama lengkap Raden Ajeng (RA) Kartini. Lahir di Jepara pada 21 April 1879. Ayahnya, R.M. Sosroningrat. Ibunya, M.A. Ngasirah.

Hingga usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan sekolah di Europese Lagere School (ELS). Di sekolah tersebut Kartini di antaranya belajar bahasa Belanda. Sayang, setelah usia 12 tahun, dia harus tinggal di rumah. Alasannya, sudah bisa dipingit. Meski di rumah, tidak menyurutkannya belajar. Dia belajar sendiri. Menulis surat kepada teman-teman, korespondensi, yang berasal dari Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Kartini menikah pada 12 November 1903. Dari pernikahannya, dikaruniai anak bernama, Soesalit Djojoadhiningrat. Ario sepertinya mengerti keinginan Kartini. Dia didukung mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Pada 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Bulu, Rembang, Jawa Tengah. (ant/zul)


 
 
 
 


 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

Berita Terkait

Lifestyle / Ini Loh, Cara Dian Sastrowardoyo Rayakan Hari Kartini

Nasional / Saatnya Mengisi yang Sudah Diperjuangkan Kartini

Nasional / Saatnya Mengisi yang Sudah Diperjuangkan Kartini

Nasional / Saatnya Mengisi yang Sudah Diperjuangkan Kartini

Nasional / Makna Hari Kartini di Mata Perempuan Hebat

Nasional / Makna Hari Kartini di Mata Perempuan Hebat


Baca Juga !.