Megapolitan

Meriahnya ”Perkawinan Kedua” Festival Ondel-Ondel di TMII

Redaktur:
Meriahnya ”Perkawinan Kedua” Festival Ondel-Ondel di TMII - Megapolitan

BUDAYA - Warga antusias melihat Festival Ondel-Ondel di TMII, Minggu (21/4/2019). Foto: Nasuha/INDOPOS

indopos.co.id - Ondel-ondel menjadi ikon Jakarta. Sayang, ikon ini masih banyak digunakan untuk mengamen di jalanan. Padahal dalam Peraturan Gubernur (Pergub) sudah diatur sanksi di dalamnya. Festival ondel-ondel ditujukan untuk mengakomodasi seniman ondel-ondel.

NASUHA, Jakarta

PESERTA sangat antusias. Mereka berasal dari enam wilayah di Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Festival ondel-ondel diselenggarakan di Anjungan Daerah DKI Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur.

Matahari kian tinggi, peserta festival ondel-ondel terus berdatangan ke Anjungan DKI Jakarta. Mereka menggenakan pakaian khas adat Betawi. Dengan pakaian sadariah hingga pangsi lengkap dengan kopiahnya.

Setiap peserta yang berasal dari sanggar budaya Betawi membawa sepasang ondel-ondel, ondel-ondel laki-laki dan ondel-ondel perempuan. Tapi ondel-ondel ini masih berupa kerangka. Hanya terdiri dari batang bambu yang diikat menyerupai badan ondel-ondel dan pakaian bagian bawah (rok).

Kerangka ondel-ondel ini berjejer di tiap sudut anjungan. Para peserta ini tengah menunggu untuk dipanggil panitia festival. Para peserta yang sudah dipanggil wajib merias ondel-ondel di panggung festival. Di depan panggung, penonton dengan antuasias sudah menunggu sejak pagi hari.

“Hahahaha, ondel-ondel itu lucu. Pipinya tembem, giginya tonggos keluar,” ucap salah satu pengunjung festival ondel-ondel yang menggundang gelak tawa penonton lainnya, Minggu (21/4/2019).

Para peserta yang telah dipanggil panitia pun membawa ondel-ondel ke panggung. Mereka mulai merias dari kepala. Satu persatu manggar kelapa ditancapkan ke kepala ondel-ondel. Manggar kelapa ini menjadi simbol rambut untuk ondel-ondel.

Setiap peserta memiliki kesempatan dengan merias sepasang ondel-ondel. Setiap sanggar diwakilkan dua orang perias dan satu orang pendamping. Pada festival ondel-ondel ini, setiap peserta diberikan waktu untuk merias ondel-ondel selama 30 Menit. Dari memasang pakaian ondel-ondel hingga memasang manggar kelapa. Lagi-lagi di tengah kerumunan penonton, salah satu pengunjung berseroloh. “Ih keren itu, ondel-ondelnya memakai seragam polisi,” ucap salah satu penonton yang mengundang perhatian pengunjung lainnya.

Untuk mempercepat proses penilaian, panitia memanggil tujuh peserta festival untuk sekali pentas. Ada beberapa juri yang dihadirkan oleh panitia festival ondel-ondel. Ketua Dewan Juri Lembaga Kebudayaan Betawi Ahmad Supandi (57) mengatakan, tujuan festival ondel-ondel untuk menampung para seniman Betawi.

“Kami ingin mereka tidak mengamen lagi. Yang bagus kita tampilkan di tempat hiburan atau tempat wisata,” ujar Ahmad Supandi.

Lebih jauh Ahmad mengajak seniman ondel-ondel jalanan untuk kembali ke sanggar. Karena menggunakan ondel-ondel untuk mengamen itu dilarang. Kecuali, menurut Ahmad itu dilakukan saat hari Car Free Day (CFD). “Kita bisa larang mereka untuk tidak ke jalan, yang bisa larang ya petugas Satpol PP,” ucapnya.

Meskipun dilarang, dikatakan pria yang dikaruniai empat orang anak dari perkawinannya dengan Mulyati (54) ini harus ada peran pemerintah untuk memperhatikan para seniman ondel-ondel jalanan. Dengan menempatkan mereka di tempat-tempat wisata di Jakarta. “Ya tampung di TMII, Ancol, Ragunan atau tempat wisata lainnya,” katanya.

Dalam festival, masih ujar Ahmad ada beberapa penilaian yang dilakukan oleh panitia. Dari teknik merias ondel-ondel hingga keserasian pakaian atau kostum ondel-ondel. Keserasian pakaian ini, menurutnya meliputi pakaian untuk ondel-ondel hingga pakaian para perias ondel-ondel sendiri.

“Keserasian antara muka ondel-ondel, pakaian ondel-ondel dan pakaian perias ondel-ondel. Kalau periasnya pakai kostum sadariah ya harus pakai kopiah hitam polos,” terangnya.

Pria kelahiran Jakarta, 5 Juli 1953 ini menyebutkan, pada festival kali ini ada 75 sanggar budaya yang turut di dalamnya. Mereka memiliki kesempatan untuk merias ondel-ondel selama 30 Menit setelah gong ditabuh. Bagi seniman yang sudah terbiasa tidak membutuhkan waktu 30 Menit untuk menyelesaikan merias ondel-ondel. “Dalam Pergub muka berwarna merah untuk ondel-ondel pria dan putih untuk ondel-ondel perempuan,” ungkapnya.

Dia menegaskan, untuk mengikuti festival para peserta hanya perlu membawa kerangka ondel-ondel lengkap dengan roknya. “Untuk bikin rok itu, enggak akan selesai 1 jam,” katanya.

Pembina Sanggar Rumah Kreasi Ulujami Khairudin (40) mengatakan, telah mempersiapkan seragam ondel-ondel sejak jauh-jauh hari. Untuk merias tim melibatkan dua orang perias. Pria yang kerap menjadi juri pada event festival ondel-ondel ini mengaku akan merias mahkota dan seragam ondel-ondel. “Kan yang dinilai itu keserasian kostum sama mahkotanya. Itu sudah kita siapkan,” katanya.

Dia menyebutkan, perias ondel-ondel handal akan memilih bagian kepala menyusul kemudian badan hingga bagian aksesoris. Aksesoris meliputi mahkota, manggar kelapa hingga selendang. “Kerangka kami siapkan dalam 1 hari,” ucapnya.

Seorang perias ondel-ondel, menurut Khairudin harus memperhatikan nilai kerapian dan keindahan (estetika). Karena, masing-masing ondel-ondel miliki ciri khas. Dari pemasangan manggar kelapa hingga warna ondel-ondel. “Konsep kita kali ini ‘Perkawinan Kedua” dengan warna kostum ungu,” ucapnya.

Lebih jauh Khairudin mengaku sangat mengapresiasi pelaksanaan festival onddel-ondel. Karena banyak seniman-seniman asal Betawi bermunculan. Dengan aksi mereka, menurutnya ada bentuk perhatian untuk melestarikan budaya khas Betawi. “Kita bangga, ada kepercayaan ondel-ondel sebagai budaya khas daari Betawi,” ungkapnya.

Khairudin menjelaskan, cukup prihatin dengan masih banyaknya seniman ondel-ondel yang mengamen di jalanan. Padahal dalam Pergub telah diatur larangan untuk menggunakan ondel-ondel untuk kegiatan mengamen di jalanan. Karena, itu ikon wajib Jakarta.”Ada sanksi menggunakan ondel-ondel untuk mengamen di jalanan,” ujarnya.

Sebagai seniman, Khairudin berharap, penerapan sanksi tidak cukup menyelesaikan masalah pengamen ondel-ondel jalanan. Dengan mengakomodir mereka di tempat wisata di Jakarta. Tentu sebelumnya harus ada peringatan terlebih dahulu. “Jangan langsung ada sanksi, harus ada peringatan. Dan mereka juga harus diakomodir atau diberikan tempat di tempat wisata,” ucapnya. (*)

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.