Internasional

Ademnya Pemilu di Jepang

Redaktur: Nurhayat
Ademnya Pemilu di Jepang - Internasional

Politisi Jepang saat berkampanye di pinggir jalan di Nishi-Chiba, Chiba, Jepang, 17 Oktober 2017 silam. Foto: Joko Widodo untuk INDOPOS

indopos.co.id - Masyarakat Indonesia baru saja selesai melakukan pemungutan suara dalam Pemilu 2019. Berbagai kalangan menyebut pemilu kali ini sangat rumit dan melelahkan. Lalu seperti apa Pemilu di negara lain?

Mahasiswa Indonesia, Joko Widodo yang kini tengah mengikuti pendidikan program Ph.D. (S3) di Departemen Information Science, Graduate School of Advanced Integration Science, Chiba University, Jepang, memiliki cerita bagaimana politisi di Negeri Sakura itu berkampanye. Dan bagaimana masyarakat Jepang menyikapi pemilu di negaranya. Berikut ini penuturannya.

Seperti penjual obat. Ini kesan pertama ketika melihat politisi di Jepang berkampanye. 

Awal musim gugur Oktober 2017, selepas Salat Jumat di Masjid Nishi-Chiba, yang letaknya persis di depan Stasiun Nishi-Chiba, saat melintas di depan kampus Universitas Chiba, ada seorang politisi Jepang yang sedang kampanye di samping Stasiun Nishi-Chiba, seberang kampus. 

Politisi itu kampanye dengan cara berdiri dan pidato di atas kap sebuah mobil yang sudah dilengkapi sound system, dan di sekitarnya ada beberapa asistennya yang ikut membantu membentangkan poster dan banner.

Tidak ada satu pun orang yang peduli. Masyarakat di sekitarnya tetap melakukan aktivitas seperti biasa, tanpa berusaha untuk mendekat ke lokasi kampanye.

Pemandangan yang sama juga terjadi di kota-kota lain. Misalnya di kota tempat saya tinggal, Tsukuba. Meski saya kuliah di Universitas Chiba, tetapi saya memilih tinggal di Kota Tsukuba, sebuah kota dengan jarak 40 menit dari Tokyo. Keluarga menjadi alasan bagi saya untuk tinggal di luar kota, karena kebetulan istri saya kuliah di Universitas Tsukuba. Kedua anak saya juga sekolah di sebuah sekolah negeri SD dan SMP di Tsukuba. Antara Chiba dan Tsukuba sendiri dipisahkan dengan jarak kira-kira 1,5 jam perjalanan dengan KRL. 

Di Tsukuba, pernah ada calon anggota legislatif kampanye di depan taman sebuah apartemen dengan menggunakan mobil sejenis seperti di Chiba. Tapi yang ini bedanya dia membagi-bagikan brosur dan bunga kepada orang-orang yang tengah duduk-duduk di taman tersebut. 

Kepada orang yang menerima pemberian brosur dan bunga, caleg itu akan membungkuk dengan sangat hormat khas Jepang.

Cara berkampanye politisi di Jepang ini memang berbeda jika dibandingkan dengan politikus di Indonesia untuk meraih dukungan di pemilu 2019.d

Kampanye terbuka yang melibatkan ribuan hingga jutaan orang masih menjadi andalan bagi sistem politik di Indonesia Ditilik dari segi biaya yang mesti dikeluarkan politisi, di Jepang tentunya lebih irit jika membandingkannya dengan di Indonesia. 

Kondisi berbeda juga tampak di dunia maya. Media sosial di Jepang sangat adem ayem saat masa kampanye. Orang Jepang lebih peduli pada pekerjaannya ketimbang meributkan soal politik. Sehingga di Jepang, tak mengenal sebutan cebong dan kampret yang ramai di medsos tanah air.

Mungkin faktor mapan dan maju yang menyebabkan orang Jepang tak terlalu tergila-gila dengan politik. Salah seorang kolega saya yang orang Jepang menyatakan, bahkan Jepang setiap minggu ganti Perdana Menteri-pun tidak menjadi masalah. 

Profesor di kampus saya juga mengatakan bahwa keterlibatan warga Jepang di pemilu hanya berkisar 40-50 persen, artinya mayoritas warga Jepang kurang antusias dengan pemilu. Di Jepang juga tidak ada sentimen agama terkait pemilu, mengingat 90 persen warga Jepang tidak memeluk agama.

Sifat orang Jepang yang cenderung diam dan sangat menghargai privasi orang lain, juga jadi penyebab ademnya Jepang pada saat masa kampanye pemilu berlangsung. Jangankan adu argumen dengan orang lain di sosmed, di kehidupan nyata, apabila ada warga Jepang yang merasa terganggu dengan ulah tetangganya, mereka tidak akan menegur langsung, tetapi akan lapor polisi. Biasanya polisi yang kemudian akan datang dan mengingatkan tetangganya tersebut dengan cara yang sangat sopan. Orang Jepang memang enggan berkonfrontasi langsung dengan orang lain.

Kelak pada saat peradaban Indonesia sudah seperti di Jepang, mungkin prosesi pemilu lima tahunan juga bisa dilaksanakan dengan lebih adem. Pada saat itu warga sudah bisa membedakan mana ranah ruang privat dan mana ranah ruang publik, dimana sosmed adalah ruang publik yang harus kita jaga bersama agar tetap adem. (yay)


 

Berita Terkait

Megapolitan / Hanya Satu Kursi, PPP DKI Berbenah Diri

Politik / Jaman Gagas Buka Puasa Bersama 01 dan 02

Nasional / Gedung Bawaslu Masih Ditutup

Politik / Prabowo Pantau Langsung Persiapan Gugatan

Megapolitan / Walhi: Penerbitan Izin di Masa Transisi Harus Diwaspadai


Baca Juga !.