Megapolitan

Mengulik Lebih Dalam Vaksin Gumboro dari Ahlinya

Redaktur:
Mengulik Lebih Dalam Vaksin Gumboro dari Ahlinya - Megapolitan

SELAMATKAN AYAM - Peneliti vaksin Gumboro, Harimurti Nuradji menjelaskan virus IBD yang menyerang ayam ternak di Indonesia. Foto: Nasuha/INDOPOS

indopos.co.id - Banyak kasus kematian unggas yang masih misteri. Salah satu penyebabnya adalah virus Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro. Beberapa vaksin yang ada tidak mampu mengatasi penyakit tersebut. Tapi, para peneliti muda dari Indonesia, berhasil menemukan vaksin dari virus tersebut.

NASUHA, Jakarta

MATAHARI sudah mulai tergelincir. Mendung yang menggelayut membuat suasana Kota Bogor tetap teduh. Para peneliti muda secara seksama memperhatikan bimbingan teknis bioinformatika dari narasumber yang ada.

Sejumlah kasus kematian pada hewan khususnya hewan ternak masih menjadi perhatian para peneliti ini. Dari bioinformatika tersebut mereka berharap bisa memberikan rekomendasi setiap penanganan kasus penyakit pada hewan ternak.

Penelitian Balai Penelitian Veteriner saat ini salah satunya fokus pada penyakit pada ayam yang disebut Gumboro atau Infectious Bursal Disease (IBD). Penyakit pada ayam yang satu ini cukup ganas. Dia menyerang pada ayam yang berusia muda. Rata-rata penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerang pada ayam berusia di atas tiga minggu.

Karena, pada usia tersebut antibodi yang berasal induk mulai menurun, sehingga ayam rentan terhadap infeksi virus IBD. Tingkat kematian penyakit ini cukup tinggi, 80 persen ayam yang terinfeksi akan mati.

Peneliti Balai Besar Penelitian Veteriner Harimurti Nuradji mengatakan, penyakit ayam Gumboro disebabkan oleh virus famili Birnaviridae. Dari namanya, penyakit pada ayam ini pertama kali terjadi pada tahun 1957 di desa Gumboro-Delaware, negara bagian Amerika Serikat. Sesuai dengan nama asal daerah ditemukannya, penyakit ini dikenal juga sebagai Gumboro.

”Di Indonesia sendiri, penyakit IBD pertama kali ditemukan di Sawangan, Depok pada 1983 dan hingga sekarang keberadaan IBD sering ditemukan,” ujar Harimurti Nuradji kepada INDOPOS, Senin (22/4/2019).

Virus IBD, menurut Hari, sapaan sehari-hari Harimurti Nuradji ini sangat ganas. Bisa menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi hingga 100 persen. Secara klinis, ayam yang terinfeksi virus IBD memiliki gejala seperti: lesu, sayap menggantung dan ada kotoran yang menempel pada kloaka.

Sementara pada pemeriksaan patologi anatomi ayam, lanjut Hari ditemukan pembengkakan bursa Fabricius dan cairan yang berwarna kekuningan atau perdarahan bursa Fabricius pada tiga hari pascainfeksi.

“Virus IBD yang tidak ganas menimbulkan gejala yang bersifat subklinis, menyebabkan pertumbuhan terhambat dan imunosupresif dan kerusakan ringan pada bursa Fabricius,” katanya.

Dia menjelaskan, diagnosis IBD dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan patologi yang dapat ditunjang dengan pemeriksaan imunohistokimia dan hasil pemeriksaan laboratorium. “Virus IBD yang paling ganas adalah Virus Very Virulent IBD (VVIBD) bersifat sangat menular dan akut. Tingkat kematian ayam yang terinfeksi virus ini sangat tinggi,” paparnya.

Sementara pada virus IBD ringan, masih ujar Hari akan menginfeksi ayam hingga dua atau lima hari. Pada kasus ini, menurutnya jauh lebih berbahaya. Karena, ayam yang sudah terinfeksi akan terserang berbagai macam penyakit lainnya.

“Ayam terinfeksi virus IBD tidak apa-apa, karena tidak menginfeksi manusia. Yang berbahaya, kalau ayam tersebut sudah terinfeksi Gumboro ringan, terus terinfeksi virus yang bisa menginfeksi manusia,” terangnya.

Lebih jauh Hari menerangkan, Gumboro banyak menyerang organ pertahanan ayam, yakni pada bagian bursa Fabricius. Ayam yang terserang IBD menjadi rentan terhadap infeksi sekunder, serta mengakibatkan kegagalan vaksinasi. “Target sel virus IBD adalah sel limfoid bursa Fabricius yang sudah matang. Infeksi IBD menyebabkan kerusakan pada bursa Fabricius yang berupa nekrosis dan apoptosis pada sel limosit B,” terangnya.

Ia menuturkan, untuk mencegah ayam terinfeksi IBD dengan melakukan vaksinasi. Namun selama ini vaksinasi tersebut belum berhasil menghalau virus IBD. Terbukti banyak kasus ayam mati terinfeksi IBD di Indonesia. Padahal vaksin diimpor dari luar negeri. “Kami memerkirakan vaksin memiliki perbedaan antigenik. Karena virus IBD mudah mengalami mutasi,” ungkapnya.

Hari mengungkapkan, jenis virus IBD berbeda dengan beberapa virus yang menyerang pada ayam. Virus IBD jauh lebih tahan pada vaksin, sehingga tangguh untuk dilemahkan atau dimatikan. Untuk memenuhi vaksin yang sesuai kebutuhan di lapangan, menurut Hari, dia telah melakukan penelitian selama tiga tahun. Ia memperkirakan vaksin bisa dirilis pada 2019 mendatang.

“Penelitian hampir rampung. Kami terus kembangkan vaksin ini dengan teknologi bioinformatika. Kita bisa ketahui perkembangan virus Gumboro yang bersikulasi di Indonesia,” jelasnya.

Dia mengatakan, dari hasil penelitian menunjukan virus Gumboro terus berkembang. Oleh karena itu, vaksin yang ada tengah diteliti. Apakah penggunaan masih efektif untuk mencegah virus Gumboro atau tidak? Dia mengklaim vaksin temuannya lebih bisa menyesuaikan dengan virus lokal yang menginfeksi pada ayam. “Kami sudah analisa, pengembangannya terhadap virus lokal. Dan sejauh ini efeknya lebih baik,” ucapnya.

Vaksin baru ini, dikatakan Hari bisa memberikan tingkat kekebalan pada ayam yang tinggi. Vaksin yang berasal dari virus IBD yang telah dilemahkan tersebut akan dimasukkan ke dalam tubuh ayam. Kemudian fungsinya sebagai antigen (antibodi generator). “Vaksin ini nanti lebih untuk pencegahan. Jadi kita berikan pada ayam yang belum terinfeksi virus IBD,” ungkapnya.

Ayam yang sudah terinfeksi virus IBD, diakui Hari sangat sulit diobati. Karena, ayam sudah terinfeksi virus IBD pada umumnya sudah terinfeksi oleh banyak virus dan bakteri lokal. Sebab, tingkat kekebalan pada ayam menjadi lemah dan rentan terinfeksi oleh banyak penyakit.

“Daya tahan hidup ayam yang terinfeksi virus IBD sangat cepat, apalagi sudah terserang VVIBD. Biasanya ayam langsung mati, tapi kalau virus IBD ringan hanya bertahan 5 hari saja” ucapnya.

Hari mengatakan, penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan vaksin penyakit Gumboro. Vaksin tersebut bisa digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit pada ayam. Seperti untuk mengatasi penyakit flu burung, Newcastle Disease (thethelo) dan penyakit Gumboro sendiri. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.