Megapolitan

Studi Kelayakan Terminal Baru Masih Dikaji

Redaktur:
Studi Kelayakan Terminal Baru Masih Dikaji - Megapolitan

Ilustrasi Foto

indopos.co.id - Studi kelayakan (feasibility study/FS) pembangunan Terminal Bekasi Tipe A di Jatiasih masih dalam pertimbangan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemehub). Rencananya, baru September nanti study kelayakan selesai.

”Kita sedang minta master plan pengembang. Karena, lahan yang bakal diberikan itu satu ruang dengan kepentingan bisnis pengembang. Apakah disesuaikan atau menyesuaikan,” terang Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bekasi Erwin Guwinda, Senin (22/4/2019).

Erwin menambahkan, kajian study kelayakan lahan oleh Kemenhub diperkirakan akan selesai bulan September atau tiga bulan terhitung selesai lelang yang akan digelar Juni nanti. Namun, kata dia, pembangunan fisik akan mulai dikerjakan pada 2020. ”Kabar dari BPTJ saat ini sedang lelang study kelayakan," paparnya.

Menurutnya juga, peninjauan kembali terhadap FS dan DED sangat perlu dilakukan. Selain rentang waktu antara kajian dengan rencana pembangunan terpaut sembilan tahun, peninjauan ulang juga dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan saat ini.

Pasalnya, kata dia lagi, pemerintah pusat juga sedang membangun tol Jakarta-Cikampek II sisi selatan yang membentang dari Jatiasih Kota Bekasi hingga Sadang, Kabupaten Purwakarta sejauh 62 kilometer (km).

Pembangunan tol ini baru dimulai 2018 atau delapan tahun setelah Pemerintah Kota Bekasi menerbitkan dokumen FS dan DED Terminal Baru Bekasi Tipe A.

”Total lahan yang dimiliki pihak swasta ada 40 hektar, sekitar 10 hektar kena proyek Tol Japek II sisi selatan dan lima hektar untuk pembangunan terminal baru. Sementara sisanya 25 hektar untuk pengembangan bisnis mereka," ujar Erwin.

Lebih jauh dijelaskan Erwin, dokumen FS dan DED merupakan salah satu syarat mutlak untuk pembangunan terminal. Tujuannya, untuk meyakinkan bahwa proyek konstruksi yang diusulkan telah layak dilaksanakan dari aspek perencanaan, perancangan, aspek ekonomi maupun aspek lingkungan.

Sedangkan dokumen DED untuk melengkapi penjelasan proyek sekaligus menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi hingga taksiran biaya. "Kalau tidak ada FS dan DED, pembangunan tidak boleh dilakukan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi Yayan Yuliana mengatakan, pembangunan Terminal Baru Tipe A di wilayahnya sangat mendesak. Terminal Tipe B yang berada di Jalan Cut Meutia Kecamatan Bekasi Timur, seluas 1,2 hektare dianggap sudah tidak layak digunakan melayani masyarakat.

”Secara administrasi Terminal Induk Bekasi saat ini merupakan tipe B, namun dimanfaatkan sebagai tipe A karena angkutan antar kota antar provinsi (AKAP) masuk ke terminal," katanya. Menurut dia, selain memanfaatkan lahan dari pengembang, pemilihan lokasi terminal baru di Kelurahan Jatiwarna, Kecamatan Jatiasih juga karena berdekatan dengan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau Tol Lingkar Luar Jakarta.

Posisinya, kata dia juga, sangat memudahkan angkutan umum jenis AKAP yang cenderung melintasi jalan tol. "Pembangunan terminal di pinggir ruas tol juga untuk mengurangi beban jalan arteri yang biasa dilintasi oleh kendaraan besar seperti bus,” tandasnya. (dny)

Berita Terkait


Baca Juga !.