Perjuangan Endang Saputra Mempertahankan Wayang Golek sebagai Ikon Tanah Sunda

indopos.co.id – Wayang golek merupakan ikon kebudayaan asal Jawa Barat. Sayangnya perajin kini mulai sedikit. Hanya sebagian saja yang masih bertahan di tengah kemajuan zaman, dan perkembangan ekonomi saat ini. Namanya Endang Saputra. Tangan-tangannya berusaha tetap mengukir ikon dari tanah Sunda itu untuk tetap lestari.

NASUHA, Jakarta
HIBURAN rakyat yang satu ini cukup familiar di masyarakat Sunda. Ya wayang golek. Selain tari topeng, menonton pentas wayang golek masih menjadi tren untuk mengisi waktu libur.

Selain untuk pementasan, waang golek masih digandrungi untuk buah tangan. Khususnya saat kita berlibur di wilayah Jawa Barat. Ada salah satu wilayah di Jawa Barat yang cukup kondang dengan sentra pembuatan wayang golek. Yakni wilayah Bogor.

Nah, terdapat seorang perajin wayang golek dari Bogor. Namanya, Endang Saputra. Tangan pria kelahiran Bogor, 4 September 1963 ini tetap konsisten mempertahankan wayang golek sebagai budaya warisan leluhur.

Di temui INDOPOS pada pameran wayang golek di Jakarta, Selasa (23/4/2019). Endang tengah asyik memainkan alat pahat mengukir kayu. Penampilannya santun. Tapi tanganya cekatan memahat kayu untuk membentuk bagian-bagian dari wayang golek. Beberapa kepala wayang golek yang sudah selesai diukir dibiarkan tergeletak di lantai.

Di tengah kesibukannya mengajar membuat wayang golek, Endang dengan senang hati melayani pengunjung. Hanya sekadar memberikan penjelasan tentang tokoh pewayangan hingga proses pembuatannya.

Pengunjung nampak antusias mendengarkan cerita dari Endang. Sesekali bertanya, nampak pengunjung aktif melihat-lihat wayang golek yang dipajang. Tidak sungkan-sungkan, mereka yang sudah terlanjur suka akan mengeluarkan uang untuk memborong wayang golek buatan Endang.

Beberapa tokoh wayang golek seperti: Arjuna, Dewi Kunti, Anoman dan Kresna cukup dikagumi pengunjung. Hingga siang hari tempat pameran Endang tidak sepi pengunjung. “Saya mau dong, tokoh wayang Hanoman ya. Eh sama Kresna juga,” ucap seorang pengunjung sembari memberikan uang pembayaran.

Endang mengaku, untuk menyelesaikan satu tokoh pewayangan membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam hari. Itu pun membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Beberapa karya Endang sudah menembus pasar di Jakarta, Jawa Barat serta Jawa Tengah. ”Harga jualnya berkisar Rp 100 ribu – 500 ribu per buah. Harga tergantung ukuran. Kalau yang kecil sekitar Rp 100 ribu. Kalau yang besar bisa mencapai Rp 500 ribu,” terangnya.

Kemampuan Endang tidak datang tiba-tiba. Dia bercerita belajar membuat wayang golek dari kakeknya selama tiga tahun. Usianya saat itu baru 10 tahun dan baru duduk di bangku sekolah dasar (SD). Semangatnya terlecut, karena saat belajar, dia mendapatkan uang saku Rp 3 ribu per pekan. ”Uang jajan saya saat itu cuma Rp 15 per hari. Jadi sisanya saya gunakan untuk biaya sekolah, sampai saya lulus SMP,” akunya.

Belajar keras Endang dari sang kakek membuahkan hasil. Wayang golek karyanya cukup memuaskan. Saat itu, menurut Endang dia sudah bisa membuat berbagai karakter dari tokoh pewayangan. Ketekunannya saat itu sangat diapresiasi oleh kakeknya. Dia kemudian dimandikan dengan air kembang tujuh rupa. ”Selesai itu, saya wajib melakukan puasa 14 hari. Tujuannya untuk mengasah kecerdasan pikiran,” katanya.

Darah seni yang mengalir di dalam tubuh Endang juga diturunkan dari orangtua. Itu, kemudian yang mendorong dia tetap menjadi seniman pembuat wayang golek. ”Saya belajar membuat wayang golek dari kakek. Dari beberapa cucu, hanya saya yang masih menekuni membuat wayang golek,” terangnya.

Sepeninggal kakeknya, dikatakan Endang, dia melanglang buana untuk mengasah ketrampilan dan menambah pengalaman. Menurutnya, dia pernah belajar di tempat kesenian, salah satunya seperti Pasar Seni Ancol, Jakarta. Di sana Endang belajar selama dua tahun. Dan selama sepuluh tahun dia pernah bekerja sebagai pembuat wayang golek di Jembatan V Jakarta Barat. ”Banyak pengetahuan yang saya peroleh dan memperkaya ketrampilan saya untuk membuat wayang golek,” terangnya.

Sukses Endang juga datang berkat restu dari orangtua. Sembari memahat, Endang bercerita, kemampuan membuat wayang golek diperoleh secara otodidak. Sudah lebih 40 tahun dia menekuni profesi sebagai perajin wayang yang pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kudus ”Yang agak sulit itu saat mengukir kepala, untuk membentuk mimik,” ujar Endang.

Sekalipun sudah mahir, menurut Endang, dia beberapa kali kerepotan membuat wayang golek. Dia mengaku agak kesulitan saat membuat wayang golek dengan karakter yang menyeramkan.

Tokoh pewayangan itu di antaranya sosok Rahwana. ”Mimik wajahnya seram dan galak. Ini yang membuat saya kesulitan saat mengukir. Kesulitannya antara mahkota yang dikenakan dengan mukanya yang seram dan galak harus seimbang,” bebernya.

Berkat ketekunannya membuat wayang golek, berbagai prestasi dan penghargaan pernah diraih Endang. Di antaranya penghargaan Juara Nasional Mengukir atau Memahat dari Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1988 lalu. Penghargaan dari Bupati Bogor tahun 1988 dan Penghargaan dari Univesitas Pasundan Bandung tahun 1997 lalu, dan masih ada lagi prestasi yang dia kantongi. (*)

Komentar telah ditutup.