Megapolitan

Pengelola PLTSa Sumurbatu Di-Warning

Redaktur:
Pengelola PLTSa Sumurbatu Di-Warning - Megapolitan

Ilustrasi Foto

indopos.co.id - Akhirnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengeluarkan surat teguran pertama kepada PT Nusa Wijaya (NW) Abadi, pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Surat teguran pertama itu dikeluarkan, Selasa (23/4/2019). ”Teguran ini dikarenakan spek mesin pengolahan sampah yang menghasilan listrik yang disyaratkan tidak sesuai dengan isi perjanjian kerja sama atau PKS,” terang Kabid Persampahan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswanti, Selasa (23/4/2019).

Dia juga mengatakan, uji coba PLTSa sudah dilakukan selama tiga kali tapi tidak pernah berhasil. Uji coba pertama dilakukan pada 7 Februari, yang kedua pada 14 Maret dan ketiga 4 April. Dari tiga ujicoba itu semuanya belum memuaskan.

Misalkan dalam uji coba tahap kedua, kata Kiswanti lagi, pihak pengelola tidak bisa mengoperasikan mesin secara maksimal. Sebab bagian governor turbin mesin PLTSa mengalami kerusakan dan dibutuhkan suku cadang bahkan teknisi dari luar negeri. ”Mereka bilang akan mendatangkan teknisi dari Cina, tapi sampai sekarang kita pantau tidak ada perbaikan dan teknisi dari luar negeri," jelasnya.

Bukan hanya itu, PT NW Abadi juga belum melakukan pergantian atau perbaikan alat yang rusak pada mesin PLTSa sejak uji coba pertama selama sehari pada 5 Februari lalu. Selain itu juga, control panel masih manual. Begitu juga flow meter steam turbin, indikator rpm turbin.

Selain itu pengelola juga belum memiliki alat ukur berat untuk melihat volume sampah yang telah diolah menjadi refuse derived fuel (RDF) untuk selanjutnya dibakar menggunakan teknologi Circulating Heat Combustion Boiler-system (CHCB).

”Untuk uji coba Februari lalu, RDF yang dibakar juga tidak sesuai. Bila mengacu pada perjanjian kerjasama atau PKS, harusnya yang dibakar adalah sampah lama, bukan sampah baru. Tapi yang terjadi, komposisinya yang dibakar 10 persen sampah lama dan 90 persen sampah baru," ungkapnya lagi.

Kiswanti menambahkan, surat teguran ini berlaku sampai tujuh hari kedepan sejak diterima surat tersebut. Setelah batas waktu itu sudah selesai, maka pihaknya akan melakukan pengecekan kembali ke lokasi produksi selama tujuh hari ke depan. "Setelah pengecekan dilakukan, baru kami berikan laporan ke pimpinan," tegasnya.

Keluarnya surat teguran pertama ini, papar Kiswanti juga, karena pengelola PLTSa belum dapat menunjukan tindakan positif untuk memproduksi listrik berbahan sampah. Seharusnya, selama uji coba yang dilakukan beberapa kali, pihak pengelola sudah mampu menunjukan hasilnya. ”Ternyata, setelah uji coba dua kali masih saja belum menunjukan hasil yang positif," jelasnya.

Meski begitu, Kiswanti berharap, PT NW Abadi bisa memenuhi apa yang sudah tertuang dalam perjanjian kerja sama. Dia juga mengaku tidak menutup kemungkinan apabila surat teguran susulan bakal dikeluarkan bila mana hingga kini tidak ada hasil dari PLTSa Sumurbatu tersebut.

”Kita ingin Kota Bekasi sudah memiliki industri listrik berbasis sampah, sesuai dengan anjuran pemerintah pusat," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan pada Tim Percepatan Penyelenggara Pemerintah dan Pembangunan Kota Bekasi, Benny mengaku surat teguran itu merupakan bentuk tindakan yang positif dari Pemkot Bekasi.

Pasalnya, pihak pengelola PLTSa Sumurbatu belum menunjukan bukti kongkrit atas rencana pengolahan sampah menjadi listrik. "Sampai sekarang belum ada buktinya sampah menjadi listrik. Padahal, dalam Mou sudah tertuang akan menghasilkan listrik,” terangnya.

Menurut Benny juga, paling lambat tiga bulan kedepan akan ada keputusan guna menentukan nasib pengelola TPA Sumurbatu, bilamana tidak ada perubahan dalam proses pengolahan sampah menjadi listrik. Apalagi, surat teguran pertama memerintahkan pihak ketiga untuk melakukan hasil listrik selama tujuh hari kedepan.

Benny memaparkan, Pemkot Bekasi ingin menjalankan Perpres nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Terpisah, Presiden Direktur PT NW Abadi Tenno Sujarwanto mengakui, sudah mengetahui terbitnya surat teguran pertama dari Pemkot Bekasi terkait operasional PLTSa Sumurbatu.

Namun, terangnya juga, dia belum membaca penuh isi surat teguran tersebut. "Saya sudah dengar, tapi belum liat isi suratnya langsung,” ucapnya singkat.

Untuk diketahui, kontrak kerja sama PLTSa Sumurbatu diteken pada 2016 lalu. Kontrak selama 20 tahun itu dengan perjanjian, PT NW Abadi mengolah sampah menjadi listrik. Pembakaran sampah yang menghasilkan listrik ini menggunakan sistem Circulating Heat Combustion Boiler (CHCB).

Ditargetkan membakar sampah sebanyak 2,3 ton per jam dengan sistem yang diklaim ramah lingkungan itu akan menghasilkan listrik mencapai 1,5 megawatt. Tapi hingga kini, listrik yang dijanjikan pengelola PLTSa Sumurbatu itu tidak kunjung ada. (dny)

Berita Terkait

Megapolitan / Bus di Bekasi Bakal Berbasis Online

Megapolitan / Ragam Masalah Akses Mudik, Masih Ada Jalan Rusak

Megapolitan / Timbulkan Kemacetan, Proyek TOD Diprotes

Megapolitan / 10 Lintasan Mudik via Bekasi Rusak


Baca Juga !.