Ekonomi

Pembentukan Jiwasraya Putra Masih Dikaji

Redaktur: Jakfar Shodik
Pembentukan Jiwasraya Putra Masih Dikaji - Ekonomi

KINERJA - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Maryono (kiri) bersama jajaran direksi ketika menjelaskan rencana perusahaan kepada media di Jakarta, Selasa (23/4). Foto : Toni Suhartono/INDOPOS

indopos.co.id - PT Bank Tabungan Negara (BBTN) mengklaim pembentukan PT Jiwasraya Putra masih menunggu kajian. Itu karena Pembentukan anak usaha PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tersebut tidak boleh gegabah. Apalagi, bank pelat merah itu bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer) penerbitan surat utang jangka menengah (Medium Term Note/MTN) Jiwasraya.

”Hasil kajian ini kan semuanya menggunakan konsultan. Hasil konsultannya kami bicarakan bagaimana prospeknya, potensinya, dan sebagainya,” tutur Direktur Utama BTN Maryono di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Maryono mengaku tengah ada pembicaraan secara intensif terkait pembentukkan anak usaha Jiwasraya dan penerbitan instrumen utang MTN. Namun, Maryono memilih irit berkomentar, sembari menunggu tuntasnya hasil kajian dari konsultan. ”Ini kan semuanya menggunakan konsultan. Hasil konsultannya kami bicarakan bagaimana prospeknya, potensinya, dan sebagainya,” ucapnya.

Adapun langkah pembentukan anak usaha Jiwasraya dan penerbitan MTN merupakan strategi penyelesaian kewajiban pembayaran klaim pemegang polis Jiwasraya yang sudah jatuh tempo pada Oktober 2018 sebesar Rp 802 miliar. Manajemen Jiwasraya mengaku akan memprioritaskan penyelesaian pembayaran polis yang telah jatuh tempo tersebut. ”Ya, pasti kami selesaikan,” tegas Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko.

Penyelesaiannya akan dilakukan bertahap mulai kuartal dua tahun ini. Dan, diproyeksi selesai paling lambat pada kuartal dua tahun depan. Perseroan memiliki sejumlah strategi dalam menyelesaikan kewajiban kepada nasabah. Sejumlah startegi itu antara lain, Jiwasraya akan membentuk anak usaha, Jiwasraya Putra yang akan melibatkan empat BUMN yakni, BTN, PT Pegadaian (Persero), PT KAI (Persero), dan PT Telkomsel (Persero). ”Targetnya, anak usaha itu akan terbentuk pada Juni 2019,” ucapnya.

Jiwasraya juga berencana menerbitkan surat utang untuk membayar kewajiban klaim. Kemudian, Jiwasraya akan mengekspansi digitalisasi dalam bisnis perseroan. Selanjutnya Jiwasraya akan mengoptimalisasi aset properti perusahaan yang menganggur.

Di sisi lain, sepanjang kuartal pertama tahun ini, BTN mengantongi laba bersih Rp 723 miliar atau tumbuh 5,67 persen (year on year/yoy) dibanding periode sama 2018 sebesar Rp 684 miliar. Laba itu ditopang pertumbuhan pendapatan bunga Rp 6,42 triliun atau naik 21,69 persen (yoy) dibanding periode sama 2018 sebesar Rp 5,27 triliun. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tumbuh 1,44 persen atau menjadi Rp 2,4 triliun, salah satu penyebabnya tekanan dalam biaya dana (cost of fund).

Penyaluran kredit naik 19,57 persen (yoy), dari Rp 202,5 triliun 2018, menjadi Rp 242,13 triliun.

Pertumbuhan kredit bersumber dari sektor perumahan dan non-perumahan. Sektor perumahan, kredit tercatat tumbuh 19,11 persen (yoy) dari Rp 184,46 triliun pada akhir Maret 2018, menjadi Rp 219 triliun akhir Maret 2019. Meski pertumbuhan kredit secara keseluruhan 19,57 persen, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sekitar dua persen.

Fungsi intermediasi BTN itu ditopang penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp 215,8 triliun atau tumbuh 10,98 persen. Pertumbuhan DPK itu lebih lambat dibanding pertumbuhan kredit 19,5 persen. Pertumbuhan kredit dan penghimpunan DPK BTN itu mendorong kenaikan aset perseroan 16,47 persen (yoy) dari Rp 258,73 triliun pada kuartal pertama 2018 menjadi Rp 301,34 triliun. (ant)

Berita Terkait

Ekonomi / Tingkatkan Kualitas Pengembang Perumahan

Ekonomi / Kejar Target DPK Lembaga, Perkuat Dana Korporasi

Ekonomi / BTN Realisasikan Kredit Rp 523 Triliun

Ekonomi / BTN Patok KPR Rp 7 Triliun

Ekonomi / BTN Optimistis Wujudkan Proyeksi 2019


Baca Juga !.