Tekno

Robot Pemadam Jawara di AS

Redaktur: Sicilia
Robot Pemadam Jawara di AS - Tekno

BERMANFAAT-Mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menjadi jawara di kontes robot internasional di Amerika Serikat, belum lama ini. Foto: ist

indopos.co.id - Tiga robot pemadam api karya mahasiswa-mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi jawara di ajang kontes robot internasional di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat (AS), belum lama ini. Mereka mewakili Indonesia usai juara di level nasional antar perguruan tinggi. 

Mereka berjaya dalam kategori Robot Berkaki (juara 1 dan 2) dan Robot Beroda (juara 2). Tim Robotika UMM terdiri atas Ifan Achmadillah Fauzi sebagai perancang program, Rohmansyah sebagai perakit perangkat keras, serta Ken Dedes Maria Khunty mengurusi bagian mekanik. 

Ifan mengatakan, robot yang mereka desain dimensinya cukup kecil. Sehingga memiliki keunggulan untuk bermanuver dan mencari sumber api kemudian memadamkannya. 

''Jadi kelebihan robot kami adalah kecil sehingga lincah dan lebih akurat. Sebab dalam memadamkan api, (yang dinilai) tidak hanya memadamkan, tetapi bagaimana robot itu tidak menabrak dinding atau halangan,'' ujarnya seperti dilansir website resmi UMM, Rabu (24/4/2019).

Dia memprediksi, kemenangan mereka diraih karena robot berkaki dianggap memiliki tantangan kesulitan tersendiri saat proses perancangan. Dan memang, dia mengakui bahwa membutuhkan waktu empat bulan untuk merancang robot tersebut.

Selama dua bulan mereka fokus pada desain dan perakitan. Selanjutnya setelah berhasil di rakit, mereka masuk dalam proses tersulit yakni pemrograman, merancang algoritma untuk menggerakkan, dan membuat metode pemadaman api yang paling pas.

Ifan menambahkan, desain robotnya sekarang merupakan hasil evaluasi dari kompetisi yang mereka ikuti sebelumnya. Yakni saat mereka menjadi juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) dalam gelaran Kontes Robot Indonesia (KRI) yang diselenggarakan Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

"Kita bandingkan dengan yang di indonesia. Untuk desain robot besar selalu menabrak halangan rintangan. Maka kita bikin robot sekecil mungkin,'' kata pria berkacamata itu.

Sementara itu, Rohmansyah mengaku hardware adalah kunci utama dari program dan mekanik sehingga robot itu bisa jalan. Dia mengatakan, arus dan tegangan harus dibuat seksama sehingga robot bisa berjalan di ruangan berlabirin dan bisa menemukan sumber api berdasarkan sensor. 

Setelah memadamkan api, robot diset untuk kembali ke titik awal. Robot dengan catatan tercepat bakal keluar sebagai pemenang. 

''Acuannya berdasarkan suhu ruangan. Ketika dibandingkan dengan ruangan lain beda, maka di situ dianggap ada api. Setelah itu mencari posisi api berdasarkan sensor,'' paparnya.

Rohmansyah juga menjelaskan, peraih juara 1 robot pemadam berkaki, dalam ajang kontes robot pemadam api terbagi menjadi 3 level. Di level pertama dan kedua misinya memadamkan api, sementara di level ketiga yakni menyelamatkan bayi.

Selain Indonesia, terdapat enam negara lainnya yang berpartisipasi di antaranya Amerika Serikat, Israel, Tiongkok, dan Ethiopia. Dalam kontes robot internasional itu mereka berhasil mengalahkan negara-negara maju lainnya seperti AS, Israel, hingga Tiongkok. 

''Kebetulan robot mereka (Amerika Serikat dan Israel) dan negara lainnya error di level 1 dan 2. Jadi sampai akhir perlombaan tidak mendapatkan poin,'' bebernya.

Dia juga memaparkan, dari beberapa robot tersebut, hanya dua robot berkaki dari Indonesia yang berhasil mencapai level ketiga di kontes ajang kedua. ''Jadi karena yang lainnya error akhirnya didiskualifikasi. Hanya dua robot dari Indonesia yang akhirnya ditetapkan jadi juara 1 dan 2. Ya meskipun di level ketiga robot kita juga gagal menjalankan misi, tapi tetap mendapat poin tertinggi,'' imbuhnya.

Ken Dedes Maria Kunthy yang mengikuti kontes di ajang robot beroda meraih juara 2 setelah kalah dari Tiongkok. ''Kendalanya tidak bisa mencapai bayinya, ada trouble sedikit. Sedangkan China bisa ngambil jadi tidak bisa terkejar poinnya,'' kata Ken Dedes.

Meski hanya meraih juara kedua, dia mengaku puas lantaran banyak kontestan yang sudah mengalami masalah sejak level 1 kontes robot digelar. Raihan gelar juara kontes robot internasional bertajuk "Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Trinity College Hartford" di Amerika Serikat (AS) pada tahun ini merupakan yang kedua kalinya. Pada 2017, UMM meraih gelar yang sama di kompetisi yang sama. (dew)

Berita Terkait

Tekno / Aplikasi PreciPalm untuk Petani Kebun Sawit

Tekno / Hebat, Sejajar dengan Harvard dan Stanford

Tekno / Pelaku UMKM Promo Murah dengan Chatbot

Tekno / Dispenser Bicara untuk Tunanetra

Tekno / Menguji Khasiat Daun Tin untuk Obat Kolesterol


Baca Juga !.