Kesra

Kelistrikan di Era Industri 4.0, Saatnya Kaum Milenial Memimpin

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Kelistrikan di Era Industri 4.0, Saatnya Kaum Milenial Memimpin - Kesra

TAMBAH ILMU-Mahasiswa dan alumni UGM sebagai peserta seminar PLN Membangun Negeri.FOTO:IST

indopos.co.id - Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM Dr. Paripurna mengatakan, melihat kondisi yang terjadi saat ini, banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan oleh bangsa ini. Salah satunya adalah perlunya meningkatkan kualitas SDM yang harus terus dipacu, pengembangan di bidang industrialisasi, termasuk berbagai kemajuan teknologi dan inovasi yang perlu terus didorong.

”Masih segudang pekerjaan besar lain menanti kesediaan dan partisipasi bersama,” ujar Paripurna pada kegiatan seminar dan employer branding di  Grha Sabha Pramana-UGM, Jogjakarta, Kamis (25/4/2019). Terkait hal tersebut, dirinya menekankan secara khusus, terkait 70 persen karyawan yang saat ini bekerja di PLN, diisi oleh kaum milenial. Maka dengan seloroh ia mengemukakan, untuk membedakan kaum milenial dengan yang bukan milenial, adalah melihatnya dari aplikasi What’s Application (WA).

Dalam kesempatan tersebut, Bob Saril selaku General Manager (GM) PLN Disjatim yang membawakan presentasi bertajuk “PLN Bangun Negeri” dalam gaya bahasa kekinian, menjadi bagian dari serangkaian tampilan para milenial PLN dalam kolaborasi konsep audio visual pada LED screen, dengan dukungan info grafis, menggambarkan konsep inovasi yang mencerminkan kondisi dan semangat kerja di PLN yang semangatnya kekinian.

Pada paparannya, Bob menggambarkan kondisi aktual saat ini yang memperlihatkan kontribusi PLN untuk negeri. “Salah satunya adalah melalui penetapan tarif listrik yang kompetitif, ternyata menjadi sweetener bagi menggeiatnya sektor industri. PLN juga senantiasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada para pelanggan, ditambah dengan dukungan di bidang infrastruktur kelistrikan.

Hal tersebut akan mendorong masuknya investasi, sehingga pada akhirnya sektor industri mampu bertumbuh, maka baik secara langsung maupun tidak langsung lapangan pekerjaan akan tersedia, sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat pada umumnya akan meningkat.  Itu sebabnya mengapa listrik menjadi faktor pendorong bertumbuh (bergulirnya) roda perekonomian,” tambah Bob yang hobinya membaca dan bersepeda ini.

Pria yang sudah sempat menjadi GM Wilayah Sulselrabar dan juga GM PLN Wilayah Aceh ini menjelaskan, pada dasarnya setiap insan yang bekerja di PLN adalah pahlawan  tanpa sorot lampu panggung. Keberadaan mereka tidak tampak, namun manfaat yang diberikan sangat dirasakan  oleh banyak orang.

Dalam kesempatan tersebut, diumumkan juga para pemenang kompetisi nasional yang ditujukan bagi para mahasiswa tingkat nasional “Unjuk Energimu” di mana memperebutkan total hadiah Rp180 juta. Lomba yang terbagi dalam tiga kategori masing-masing adalah kompetisi vlog PLN bertema “Unboxing SPLU,”  kompetisi pembuatan Paper - PLN  bertema “Development Business New Edge,” dan kompetisi pembuatan aplikasi – PLN Idea Competition bertema “Unlocking Facelift PLN Mobile,” hari ini sekaligus juga diumumkan siapa saja pemenang juara I, II, dan III. Selain memperoleh uang tunai, mereka juga berhak mengikuti workshop internasional sharing session dari milenial leader PLN.

Selain itu PLN juga mengajak masyarakat khususnya kaum milenial dan dan mereka yang berjiwa muda, untuk meng-install PLN Mobile, guna mendapatkan sejumlah doorprize menarik. Bagi para penggemar foto selfie, nantinya juga akan diumumkan, siapa saja pemenang lomba foto selfie berhadiah tiga unit Oppo F9. 

Tantangan bagi Kaum Milenial

Dalam kesempatan sama, Karyawan Aji selaku Executive Talent Development PLN dengan penyampaian paparan bertajuk ”Tantangan Milenial di Era Industri 4.0 pada Industri Kelistrikan,” menyampaikan kondisi aktual, bagaimana saat ini sudah terjadi shifting (peralihan) dari melakukan segala sesuatunya sebagai business as usual seperti perilaku membaca (mengetahui) segala hal dari koran dan majalah secara fisik, menjadi berubah membaca (mencari) berita dan informasi melalui media daring (online); pergi berbelanja ke pasar modern seperti mal dan plasa menjadi berubah berbelanja melalui penyedia market place (toko online) layaknya Bukalapak.com, Blibli.com, Tokopedia, dan Shoppe.

Era disruptif yang terjadi ini akhirnya dilirik juga oleh sejumlah toko fisik seperti Gramedia dan Matahari dept.store untuk mengantisipasi perubahan yang mengglobal dan menggerus hampir sebagian besar sisi kehidupan manusia di muka bumi ini. Tak ayal lagi, sejumlah peritel seperti Gramedia dan Matahari kini juga mulai melayani pemberlian buku dan belanja secara online.       

“Perubahan seperti ini harus dilakukan, karena jika tidak demikian, maka mereka akan ‘tergilas’ oleh berkembangnya mekanisme perdagangan bebas yang belum pernah terbayangkan. Sekarang orang tidak lagi perlu lagi mengantri untuk membeli tiket baik untuk keperluan menonton bioskop ataupun untuk bepergian ke satu tempat, karena semuanya dapat dilakukan, hanya melalui sentuhan jari di perangkat gadget ataupun tool bar pada perangkat laptop dan desktop komputer.

Bersumber dari World Economic Forum (WEF), diperkirakan lima juta pekerjaan (netto) diperkirakan akan menghilang, seiring dengan terjadinya era otomasi dan disrupsi teknologi. Berbagai pekerjaan yang hilang tersebut berada pada sejumlah bidang seperti perkantoran dan administrasi; manufaktur dan produksi; konstruksi dan tambang; seni desain, entertainmen, olahraga dan media; bidang hukum; serta instalasi dan pemeliharaan.

Sebaliknya menurut Aji, berbagai pekerjaan baru yang akan muncul, adalah berada pada berbagai bidang usaha seperti bisnis dan finansial; manajemen; komputer dan matematika; arsitektur dan teknik; sales (penjualan) secara daring (online); serta bidang pendidikan dan pelatihan.”

Sejalan dengan aplikasi Industri 4.0 di sejumlah sektor industri yang sudah siap, maka PT PLN (Persero) juga mulai menyesuaikan melalui penggunaan teknologi sensor secara masif, pengelolaan sumber daya secara cerdas, termasuk juga pengolahan big data secara intensif, sehingga dapat mengambil keputusan secara tepat dan cepat, untuk dapat meningkatkan kinerja.

“Salah satu aplikasi 4.0 di PLN adalah penggunaan layanan aplikasi ‘Listriqu’ – quick and quality solution – layanan total permasalahan listrik di rumah anda, yang dapat diunduh pada telepon seluler. PLN juga mengadopsi smart metering system, sistem meter boks yang terhubung secara online (daring) dengan PLN dengan memanfaatkan sistem jejaring teknologi.

Itu sebabnya di era transformasi digital menuju industry 4.0, diperlukan juga berbagai perubahan pola pikir dan pola tindak di era digitalisasi yang mampu berpikir dalam alam bit (digital), bukan lagi secara atom (fisik); perlunya mempelajari “pain points” atau apa yang diinginkan klien; guna mengembangkan secepat mungkin produk atau layanan yang diharapkan; dengan memastikan tata kelola penanganan aset secara modular, BUMN ini memerlukan sentuhan para milenial yang mampu menampilkan kualitas mereka secara total.

Itu sebabnya dalam kesempatan menjaring para lulusan terbaik dari UGM ini, PLN menggelar kesempatan employer branding, untuk mencari bibit unggul yang dapat berkompetisi mengembangkan perusahaan sehingga tidak hanya mampu bersaing di era digital, namun mampu mewujudkan harapannya menjadi perusahaan pengelola energi listrik kelas dunia. (mdo)

Baca Juga


Berita Terkait

Ekonomi / PLN Dinilai Siap Memenuhi Kebutuhan Listrik Industri

Ekonomi / Triwulan I 2019 PLN Cetak Laba Rp 4,2 Triliun

Ekonomi / S&P Kembali Naikkan Credit Rating PT PLN

Ekonomi / Keren, Tahun 2018 PLN Bukukan Laba Bersih Rp 11,6 Triliun

Ekonomi / ICA dan TRC PLN Kolaborasi Suplai Makanan ke Daerah Bencana


Baca Juga !.