Megapolitan

Menguji Kemampuan Rompi Anti Peluru dari Serat Sisal

Redaktur:
Menguji Kemampuan Rompi Anti Peluru dari Serat Sisal - Megapolitan

INOVASI - Rompi tahan peluru dari serat sisal hasil penelitian mahasiswa UHAMKA jadi perhatian pengunjung ISD di TMII, Kamis (25/4/2019). Foto: Nasuha/INDOPOS

indopos.co.id - Alat pelindung diri ini banyak digunakan oleh petugas dari Kepolisian dan TNI. Rompi tahan peluru. Selama ini rompi tahan peluru ini diproduksi oleh PT Pindad. Tapi bagaimana kalau rompi tahan peluru ini dibuat dari serat sisal. Apa kelebihan dari serat sisal?

NASUHA, Jakarta

TUMBUHAN dengan nama latin Agave Sisalana ini banyak tumbuh di selatan Meksiko. Tumbuhan ini banyak dijumpai juga di Indonesia. Bentuknya menyerupai lidah buaya. Hanya saja tumbuhan sisal batangnya lebih tipis.

Agave Sisalana dikenal banyak menghasilkan serat kaku yang dinamakan sisal. Serat ini kemudian banyak digunakan untuk membuat produk seperti tali sepatu. Namun, di tangan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA), serat sisal disulap menjadi rompi tahan peluru.

Di pameran Indonesia Science Day (ISD) yang digelar di PP IPTEK, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, stan milik UHAMKA cukup ramai pengunjung. Nampak, dari beberapa pengunjung berasal dari anggota TNI. Mereka tertarik dengan rompi tahan peluru dari serat sisal.

”Rompi ini sudah diuji coba?” tanya salah satu pengunjung kepada para mahasiswa dari UHAMKA yang tengah berjaga di pameran ISD.

Sembari menghampiri pengunjung, seorang mahasiswa UHAMKA Hudian Nur Syahri mengatakan, rompi tahan peluru sudah melalui proses ujicoba. “Rompi sudah kita uji coba,” jawab mahasiswi yang juga terlibat langsung melakukan riset rompi tahan peluru dari serat sisal.

Beberapa pengunjung yang penasaran pun mencoba mencari tahu material serat sisal pada rompi tersebut. ”Serat sisalnya di mana ya? Kalau melihat fisiknya rompi ini biasa saja. Seperti rompi pada umumnya,” sanggah seorang pengunjung menjawab pernyataan Hudian.

Dengan memperlihatkan rompi, Hudian kemudian berusaha memberitahu letak serat sisal. ”Serat sisal ini ada pada bagian dalam. Kalian bisa pegang ini,” terang Hudian sembari memberi contoh memegang rompi tahan peluru di bagian depan.

Seorang personel TNI kemudian kembali bertanya. Terkait uji coba rompi tahan peluru tersebut. ”Uji coba rompi jangan hanya dari satu jarak saja. Semestinya uji coba dilakukan dengan beberapa jarak tertentu. Ini untuk meyakinkan rompi benar-benar tahan peluru,” ucap personel TNI tersebut.

Sembari mencatat, Hudian pun menerima saran tersebut. ”Kita akan lakukan uji coba lagi dengan jarak yang berbeda. Terima kasih pak, atas saran dan masukannya,” ucap Hudian.

Kepada INDOPOS, Kamis (25/4/2019) Hudian menerangkan, rompi tahan peluru dari serat sisal mampu menahan peluru level 2A dengan kaliber 9 milimeter dengan berat 8 gram. Pada uji coba, rompi mampu menahan peluru dengan kecepatan 341 meter per detik.

Mahasiswa dari Prodi Teknik Mesin ini menuturkan, untuk mengambil serat sisal, batangnya harus dihaluskan dengan diparut. Dari batang sisal yang sudah dihaluskan, kemudian dikeringkan. Agar menjadi kuat, serat sisal dikombinasikan dengan serbuk kayu, resin epoxy atau semacam polimer epoxide thermosetting. ”Proses pengeringan bisa sampai 1 hari,” beber Hudian.

Dia menyebutkan, komposisi yang baik dari ketiga bahan dasar untuk menahan peluru adalah unsur serat sisal 20 gram, serbuk kayu 15 gram dan resin epoxy 250 gram. Hasil komposisi yang baik ini ditemukan, setelah dilakukan tiga kali uji coba.

Komposisi pertama, serat sisal 15 gram, serbuk kayu 20 gram dan resin epoxy 250 gram. Lalu pada komposisi kedua, serat sisal 10 gram, serbuk kayu 20 gram dan resin epoxy 250 gram.

Terakhir, pada uji coba ketiga, ditemukan komposisi serat sisal 20 gram, serbuk kayu 15 gram dan resin epoxy 250 gram. ”Dari uji coba ketiga komposisi tersebut, hasil terbaik untuk menahan peluru komposisinya adalah yang terakhir, bebernya.

Pemuda berumur 20 tahun ini menyebutkan, komposisi serat sisal, serbuk kayu dan resin exopy memiliki ketebalan 35 milimeter dengan berat 500 gram. ”Jadi lebih ringan dari rompi tahan peluru yang biasa diproduksi oleh PT Pindad,” ucapnya.

Penelitian serat sisal untuk rompi tahan peluru baru dilakukan pada 2018 lalu. Sehingga, belum diproduksi secara masal. Proses pembuatan rompi tahan peluru ini, menurut Hudian sejak Mei hingga November 2018 lalu. ”Proses pencampuran dimulai dengan menuang resin epoxy sebagai perekat antara serat sisal dan serbuk kayu. Kemudian ditutup lagi dengan resin epoxy,” bebernya.

Setelah ketiga komponen tersebut bercampur, dikatakan pemuda kelahiran Indramayu, 25 Agustus 1998 ini ada proses penekanan. Proses ini menggunakan mesin press dengan tekanan seribu joule.

Lebih jauh putera tunggal pasangan (alm) Mahdori dan Emi Sofiati, 57, ini menjelaskan, untuk menguji rompi tahan peluru tidak ditembak secara langsung menggunakan peluru. Tetapi menggunakan uji dampak atau impact. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan dari kekuatan material.

Tekanan impact yang digunakan, menurutnya hingga 456,456 joule dengan jarak ketinggian lima meter. ”Uji impact ini seperti uji kejut dengan tekanan. Sama dengan kecepatan uji tembak langsung,” tuturnya.

Mahasiswa semester enam ini menjelaskan, uji coba impact tersebut memiliki hasil berbeda-beda. Dikarenakan, komposisi bahan yang digunakan berbeda-beda. ”Pada rompi tahan peluru hanya retak saja,” ungkapnya.

Ke depan, dikatakan Hudian, rompi tahan peluru ini akan terus dikembangkan. Dengan beberapa uji coba kaliber peluru yang berbeda dan jenis senjata lainnya. ”Kami rencananya akan mengembangkan penelitian untuk rompi tahan peluru dari serat buah kelapa dan tisu dan arang,” pungkasnya. (*)

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.