Pasien Diabetes Tetap Bisa Menjalankan Ibadah Puasa

indopos.co.id – Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) tetap dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Bahkan banyak diantara mereka yang antusias untuk berpuasa.

“Saya tetap puasa saat Ramadan. Tapi juga tapi memilih makanan, harus dijaga. Juga ketemu dokter dulu,” ujar Machrosin, salah satu penyandang diabetes, pada sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (26/4/2019).

Namun begitu, menurut Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD, pasien DMT2 perlu untuk mengontrol kadar gula darah. Hal itu supaya ibadah puasa dapat berjalan baik.

“Bagi penderita diabetes yang akan menjalani puasa, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter pribadinya,” ujarnya di lokasi yang sama.

Menurut Ketut, pola makan dan aktivitas juga perlu diatur. Hal itu supaya mereka tidak terkena hipoglikemia. Atau gangguan kesehatan yang terjadi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah normal. Yaitu kurang dari 70 mg/dL.

“Gejala hipoglikemia adalah jantung berdebar, gemetar, kelaparan, keringat dingin, cemas, lemas, kesulitan mengontrol emosi dan kosentrasi, serta kebingungan,” ujar Ketut.

Pada tahap berat (kadar glukosa <50mg/dL) pasien dapat kehilangan kesadaran, kejang, koma, gangguan fungsi pembuluh darah hingga kontraksi detak jantung yang berujung pada kematian.

“Pengobatan hipoglikemia bagi yang masih sadar dan bisa makan atau minum, berikan karbohidrat, seperti nasi, jus dan sebagainya,” beber Ketut.

Sementara itu, hasil studi Epidiar pada tahun 2001 di 13 negara dengan populasi muslim yang besar, dengan sample sebanyak 12.914 orang menunjukkan setidaknya 79 persen dari sample tersebut menjalani ibadah puasa saat Ramadan.

“Upaya yang dapat dilakukan pasien DMT2 dalam menghindari hipoglikemia adalah menjalankan pola diet seimbang. Aktif beraktivitas fisik; rutin memantau kadar gula darah secara berkala. Serta melakukan perubahan pengobatan yang memicu pelepasan insulin secara berlebihan,” pungkasnya.

Sementara itu, Medical Affairs Director Merck Sharp and Dohme (MSD), Indonesia, dr. Suria Nataatmadja mengatakan, tidak sedikit pasien DMT2 yang antusias menyambut Ramadan dan bertekad untuk menunaikan ibadah puasa.

“Berdasarkan survei yang diadakan oleh MSD, 73 persen dokter setuju bahwa faktor budaya seperti puasa memengaruhi kendali kadar gula darah pasien DMT2,” ujarnya.

Lebih lanjut Suria mengatakan, MSD berkomitmen mendukung kelancaran ibadah puasa para pasien DMT2. Seperti dengan melakukan serangkaian kegiatan edukasi melalui media dan blogger.

“Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko hipoglikemia dan upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya,” ujarnya.

Dalam mengendalikan kadar gula darah dan mencegah hipoglikemia, pasien DMT2 dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang melepaskan energi secara lambat. Seperti biji-bijian, beras merah, produk susu rendah lemak dan kacang-kacangan saat sahur dan buka puasa. Kemudian menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi. Meningkatkan asupan cairan selama jam tidak berpuasa.

“Serta yang terpenting mengunjungi dokter Anda untuk mendapatkan rekomendasi manajemen diabetes selama bulan puasa,” pungkasnya. (mdo)

Komentar telah ditutup.