Megapolitan

Gara-Gara Banjir, Anies dan Ahok Berbalas Pantun

Redaktur:
Gara-Gara Banjir, Anies dan Ahok Berbalas Pantun - Megapolitan

SILAT LIDAH - Anies Baswedan dan Ahok beradu argumentasi ihwal banjir yang melanda ibu kota, pekan lalu. Foto ini dijepret saat keduanya bertemu di Balai Kota, pada 20 April 2017. Foto: Dok/INDOPOS

indopos.co.id – Banjir yang menggenangi sejumlah wilayah pada Jumat (26/4/2019), memantik perhatian banyak pihak. Salah satunya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Saat pertemuan dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Rabu (1/5/2019), Ahok berkomentar soal banjir di ibu kota. Berdasarkan pengalamannya menjadi gubernur, pompa di Jakarta untuk menanggulangi banjir sudah cukup. Pun tanggul penahan banjir.

Menurut Ahok, saat hujan biasanya air memang terhambat masuk saluran karena ada sampah kayu dan ranting. Namun, hal ini bisa diantisipasi dengan pengerukan menggunakan alat berat maupun menyiagakan pasukan oranye.

Dia berpendapat, saat genangan muncul, yang paling penting dilakukan yakni mengoperasikan pompa. Jika terlambat, genangan sulit surut.

Nah, ketika ditanya soal naturalisasi yang digagas oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ahok enggan berkomentar. Apalagi menurutnya Anies jauh lebih pintar dalam urusan mengolah kata. ”Aduh, soal kata-kata begitu Pak Gubernur sekarang lebih pintar dari saya,” kata Ahok sambil tertawa.

Komentar Ahok membuat Anies Baswedan gerah. Kepada awak media dia menyebut kalau banjir pekan lalu, tidak separah ketika Ahok menjabat sebagai gubernur. ”Banjir yang kemarin itu bukan apa-apanya dibanding banjir yang pernah dialami Pak Basuki,” ujar Anies Baswedan di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).

Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu menggunakan logika pengungsi yang terdampak banjir, sebagia acuan terhadap komentarnya tersebut. ”Kalau sekarang hanya 1.600 orang yang harus mengungsi. Kalau dulu bisa sampe 200 ribu orang,” sambungnya.

Ia pun mengatakan banjir yang mengepung ibu kota pekan lalu hanya terjadi di daerah bantaran sungai, karena air kiriman dari Bogor, Jawa Barat. ”Nah, kalau yang pekan lalu itu terjadinya di wilayah sebelum masuk ke pusat kota. Jadi memang banjirnya itu di bantaran sungai, karena ada air dari hulu,” tutur Anies Baswedan.

Meski begitu, Anies Baswedan mengakui masa kepimpinan Ahok di Jakarta memang jauh lebih sulit. Ketimbang dirinya menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta saat ini. ”Jadi beliau memang pernah mengalami situasi yang sangat sulit dibandingkan dengan apa yang saya alami kemarin,” papar Anies Baswedan.

Terkait konsep naturalisasi yang digagasnya, Anies mengaku program itu sudah mulai diterapkan. Dia menilai, program naturalisasi cukup efektif untuk mengatasi banjir di Jakarta. ”Kita sudah terapkan (naturalisasi). Nanti hasilnya bisa dilihat pada akhir 2019,” katanya.

Dia menjelaskan, program naturalisasi adalah program untuk menghidupkan ekosistem sungai. Dengan mengembalikan bantaran kali seperti semula. Sehingga habitat hewan hidup di dalamnya. ”Air sungai pun menjadi bersih. Dengan hewan hidup di sana, berarti polusi terjadi rendah di sana,” tuturnya.

Terhadap tiga strategi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani banjir di ibu kota. Pasalnya, banjir yang merendam beberapa titik di Jakarta belum lama ini merupakan kiriman dari hulu. ”Kita harus selesaikan masalah di sumber banjir. Yakni, menyelesaikan masalah di hulunya,” ujar Anies Baswedan.

Solusi mengatasi masalah di hulu, menurut Anies dengan membangun lebih banyak kolam-kolam retensi, waduk dan dam. Sehingga air yang bergerak dari hulu ke Jakarta akan lebih mudah dikendalikan.

Anies menuturkan, langkah berikutnya dengan mengatasi air pada hilir. Pasalnya air di laut kerap menyebabkan banjir rob. Langkah ini, menurutnya dengan membangun tanggul pantai di pesisir Jakarta. ”Permukaan air laut sering naik, hal ini harus kita atasi. Agar banjir rob tidak berulang,” katanya.

Penanganan banjir berikutnya, dikatakan Anies dengan membangun sumur resapan atau drainase vertikal. Tujuannya, supaya air hujan bisa diserap dan dialirkan ke sungai.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono juga telah menyerahkan persoalan banjir ini kepada Anies. ”Sudah, Pak Gubernur (Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan) lagi bekerja. Banjir ngono-ngono thok bae,” ujar Basuki di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Selasa (30/4/2019).

Sebelumnya, Basuki sempat menanyakan soal program naturalisasi untuk mengatasi banjir di ibu kota. Dia meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendiskusikan program itu untuk direalisasikan bersama. ”Jadi kalau untuk normalisasi karena beliau dilihat punya ide naturalisasi, lah opo iki, saya ajak ngoceh aja diskusi. Apa programnya naturalisasi mari kita bareng-bareng. Nah ini belum ketemu,” ucap Basuki beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan pihaknya telah mengundang Anies untuk membicarakan seputar naturalisasi. Anies pun memberikan disposisi kepada staf DKI hadir dalam rapat. Akan tetapi, menurut Basuki, staf itu tak memahami konsep naturalisasi yang dimaksud Anies. Karena itu, Basuki kembali mengundang Anies untuk memaparkan secara langsung konsep naturalisasi. ”Kita undang misalnya apa yang dimaksud naturalisasi,” kata dia.

Pemerintah pusat dan DKI berbagi tugas untuk meminimalisasi banjir di Jakarta. Hingga kini, Kementerian PUPR sedang melanjutkan pembangunan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi. (nas)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / DPRD Janji Juli Sudah Ada Wagub DKI yang Baru

Megapolitan / Kejar Aset Milik Pemprov, Pekan Depan DPRD Gelar Rapat Lagi

Megapolitan / Jika Perusahaan Sehat, PT MRT Jakarta Bisa Mandiri


Baca Juga !.