Megapolitan

Banjir yang Terdalam, Nyaris Menyamai Kejadian pada 2007

Redaktur:
Banjir yang Terdalam, Nyaris Menyamai Kejadian pada 2007 - Megapolitan

CARI IKAN - Warga memancing di pemakaman yang terendam air akibat curah hujan yang tinggi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Foto: Muhammad Iqbal/Antara

indopos.co.id - Lebih dari satu dekade terakhir, Jakarta terus mengalami banjir. Padahal banyak duit yang sudah diguyur demi menangani persoalan air yang menggenangi ibu kota.

Nah, banjir yang melanda sebagian wilayah Jakarta beberapa hari lalu, mendapat banyak perhatian dari sejumlah kalangan. Salah satunya Pemerhati Lingkungan Perkotaan Jakarta Ubaidllah.

Menurut mahasiswa Magister Manajemen Lingkungan Universitas Negeri Jakarta itu, bencana banjir yang terjadi di DKI Jakarta 2019 merupakan yang terdalam sejak bencana banjir ibu kota pada 2007 silam.

Jika bencana banjir besar pada 2 Februari 2007 di DKI Jakarta mencapai ketinggian atau kedalaman hingga 5 meter, di Jumat tanggal 26 April 2019 kedalaman banjir mencapai 4 meter.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir yang terjadi pada Jumat 26 April 2019 disebabkan oleh luapan air dari Kali Ciliwung yang bersumber dari air terusan dari hulu di Bogor Jawa Barat.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kota/Kabupaten Bogor, Jawa Barat, membuat debit air Kali Ciliwung meningkat dengan status Bendungan Katulampa Siaga I (satu) pada Kamis 25 April 2019.

Sementara di wilayah DKI Jakarta, hujan lokal hanya terjadi di beberapa titik dengan intensitas ringan dan waktu yang relatif sebentar. “Artinya, bencana banjir Jakarta yang terjadi pada Jumat 26 April 2019 lebih dikarenakan luapan volume air Sungai Ciliwung yang besar atau sering disebut dengan istilah kata banjir kiriman,” ujar Ubaidillah, Kamis (2/5/2019).

Ubaidillah mengatakan, dari pemberitaan media, akibat dari luapan air sungai Ciliwung atau banjir kiriman telah berdampak bencana banjir di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Di Jakarta Selatan misalnya, bencana banjir terjadi di Pejaten Timur, Kalibata, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Serengseng Sawah dan Pengadegan, Rawajati, Kebon Baru dan lain-lain.

Sedangkan di Jakarta Timur, bencana banjir terjadi di Kampung Melayu, Cililitan, Cawang, Balekambang dan lain-lain. Titik-titik lokasi yang terdampak bencana banjir umumnya yang berdekatan dengan sungai Ciliwung atau yang berada di sisi barat dan sisi timur sungai Ciliwung dengan kedalaman bervariasi yang terendah genangan dijalan-jalan 20 cm dan banjir terdalam mencapai 4 meter seperti yang terjadi Condet Jakarta Timur serta di Rawajati dan Pejaten Timur Jakarta Selatan.

Debit air Kali Ciliwung di Jakarta juga terpantau hingga Sabtu 27 April 2019, tidak cepat surut. Bencana banjir telah memakan korban jiwa, dua orang meninggal. Satu korban jiwa akibat terseret arus di Kebon Baru Jakarta Selatan dan satu korban jiwa akibat serangan jantung di Bidara Cina, Jakarta Timur.

Kondisi bencana banjir di Jakarta yang masih sulit teratasi, khususnya yang disebabkan oleh luapan air Kali Ciliwung atau banjir kiriman. Ubaidillah berpandangan, sistem polder (pompa air) masih satu-satunya cara yang menjadi andalan Pemprov DKI Jakarta dalam mengendalikan banjir.

Cara kerjanya yakni, memompa atau menyedot debit air yang besar untuk dipindahan ke badan-badan air lainnya, seperti kanal banjir barat (BKB) dan kanal banjir timur (BKT) hingga bermuara ke laut atau langsung dibuang ke laut.

Ia mengatakan, mengendalikan banjir dengan sistem polder harus dikelola dengan baik dan berkelanjutan terutama dalam perawatan atau pemeliharaan. Selain berbiaya mahal dan membutuhkan anggaran yang besar, sistem polder rentan mengalami kerusakan.

Manajemen polder mesti dikendalikan oleh orang-orang yang terlatih dan memiliki insting tanggap bencana yang tajam sejak dari pemantauan di hulu, sistem peringatan dini (early warning system), hingga tanggap darurat bencana.

Sulitnya menanggulangi bencana banjir di Jakarta akibat luapan air Kali Ciliwung, sambung Ubaidillah, juga lantaran belum berfungsinya Banjir Kanal Timur (BKT) dalam menampung air Kali Ciliwung melalui sodetan. Proyek sodetan Kali Ciliwung menuju BKT telah dikerjakan sejak 2015, hingga kini belum rampung.

Proyek itu terkendala pembebasan lahan. Dari target pekerjaan sodetan Ciliwung menuju BKT sepanjang 1.270 meter, baru dikerjakan sejauh 600 meter. Sodetan itu diharapkan sudah menembus BKT. Selain dapat mengurangi volume luapan air (banjir) di sekitar bantaran Kali Ciliwung, beban Banjir Kanal Barat (BKB) juga akan berkurang. Sehingga dapat meminimalisasi bencana banjir di bagian barat Jakarta.

Kemudian di sektor hulu Kali Ciliwung, kata Ubaidillah, salah satu agenda penting sebagai upaya penanggulangan bencana banjir di DKI Jakarta adalah rencana pembangunan waduk di Kabupaten Bogor Jawa Barat.

Pembangunan waduk di Bogor Jawa Barat mesti dipercepat. Mengingat agenda tersebut merupakan komitmen lintas daerah dan pemerintah pusat dalam kerja sama antardaerah yang disepakati pada saat pertemuan di Bendungan Katulampa atau Pertemuan Katulampa, Januari 2014. Pertemuan Katulampa dihadiri oleh menteri Lingkungan Hidup, pejabat Kementerian Pekerjaan Umum, Gubernur Jawa Barat, Gubernur DKI Jakarta, dan Gubernur Banten.

Waduk-waduk buatan di Bogor Jawa Barat, jika sudah selesai dibangun nantinya, diproyeksikan bisa mengurangi atau mengendalikan volume debit air yang mengalir ke hilir di DKI Jakarta.

Ia juga mengatakan, revitalisasi atau normalisasi badan-badan air, selain memulihkan drainase dan situ-situ, Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat sebaiknya lebih fokus merestorasi dua dari 13 aliran kali yang ada di DKI Jakarta. Yakni Kali Ciliwung dan Kali Krukut.

Kedua aliran kali itu merupakan badan-badan air yang membawa air dari hulu di Bogor Jawa Barat mengalirkan air langsung ke pusat kota. Banyak titik-titik lokasi rawan banjir di DKI Jakarta yang berdekatan atau berada di sekitar kedua aliran tersebut.

Secara umum, upaya manajemen penanggulangan bencana banjir di DKI Jakarta diperlukan kemauan yang kuat (political will). Baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat, serta adanya kesadaran semua pihak. Para pengambil kebijakan, seperti presiden, gubernur dan legislatif, harus memiliki perspektif lingkungan.

Sehingga dalam setiap kebijakannya mengedepankan kesehatan dan keselamatan lingkungan. Misalnya dengan mewujudkan pemenuhan target 30 persen lahan terbuka hijau (RTH) dari luas wilayah provinsi. Hal itu sebagai amanat Undang Undang No 26/2007 tentang Tata Ruang, dan Peraturan Daerah No 1/2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2030.

Masalah banjir Jakarta terus menjadi polemik. Bahkan, Gubernur Anies Baswedan enggan menanggapi saran Komisi A DPRD DKI Jakarta agar bertemu mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok terkait solusi banjir Jakarta. "Enggak ada tanggapan," ucap Anies singkat saat ditanya wartawan mengenai hal itu di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5/2019).

Anies malah mengatakan, Pemprov DKI sudah menjalankan konsep naturalisasi sungai yang menjadi program unggulannya menanggulangi banjir. Anies meyakini hasil naturalisasi dapat dilihat pada akhir tahun ini. "Naturalisasi kita jalankan, bahkan 2019. Nanti kita sudah lihat jadi hasilnya (naturalisasi) akhir tahun ini, Insyaallah sudah selesai," kata Anies di Monas, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Naturalisasi yang dimaksud, kata Anies, dilakukan dengan menghidupkan ekosistem di aliran kali. Selain itu, airnya akan dijernihkan, sehingga bisa menjadi habitat hewan. "Kalau makhluk-makhluk bisa hidup di sana, artinya polusi juga rendah. Dan itu yang akan kita lakukan," ungkap dia.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta Syarif menyarankan Anies bertemu Ahok untuk mendiskusikan persoalan ibu kota, termasuk soal penanggulangan banjir Jakarta. "Saran saya bertemu supaya bisa diskusi," kata dia, Jumat (3/5/2019).

Menurut politisi Partai Gerindra itu, langkah Anies menangani banjir lebih bijak dari Ahok. Di sisi lain, Anies juga harus meneruskan kinerja Ahok yang sudah baik. Oleh karena itu, ia menyarankan agar keduanya bertemu mencari solusi masalah banjir Jakarta. (wok)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Sungai Meluap, Kampung Kalong Dagul di Kabupaten Bogor Banjir

Nasional / Lebaran Berakhir, Banjir Datangi Tiga Kecamatan

Nusantara / Banjir Bandang Kembali Sapu Sigi


Baca Juga !.