Raja Rama X

Oleh Dahlan Iskan

Panas menyengat. Lembab. Keringatan. Suhu udara 37 derajat. Matahari seperti turun lebih dekat ke bumi. Saya tidak kuat. Saya memilih meninggalkan kompleks istana Dinasti Chakri ini. Nasehat dokter selalu mengiang di telinga saya. Jangan lama-lama di terik matahari.

Sejak 12 tahun lalu, saya mengonsumsi obat penurun imunitas setiap hari.  Untuk ke istana di Bangkok ini pemeriksaan sangat ketat. Hari Minggu kemarin adalah hari terakhir proses penobatan raja baru, Maha Vijaralangkorn. Ia menjadi Raja Rama X.

Sejak keluar dari China Town jalan-jalan sudah ditutup. Radius setengah kilometer disterilkan. Lalu-lintas dilarang. Pejalan kaki harus melewati penjagaan barat atau timur. Ada tenda panjang didirikan di tengah jalan. Petugas imigrasi melakukan pemeriksaan. Awalnya hanya pemeriksaan fisik dan barang mirip=-mirip di bandara. Lalu pemeriksaan paspor. Dicatat. Difoto ulang pula.

Setelah itu masing-masing harus antre sambil memegang paspo dan dibuka di bagian yang ada foto. Dipasang di sebelah wajah kita biar difoto petugas.  Antre keempat adalah untuk mendapatkan stiker. Kali ini, paspor dicatat lagi. Diperiksa lagi baru diberi stiker untuk ditempelkan di dada.

Antrean berjalan lambat. Tenda hanya menahan terik tapi  tidak bisa menahan panas. Panas di bawah tenda justru seperti mendidih. Beberapa orang barat basah kuyub bermandikan keringat sendiri. Antrean saya lebih lambat. Lelaki di depan saya tidak bawa paspor. Ia hanya bawa KTP warna merah. Saya pikir ia penduduk asli Thailand. Huruf di KTP itu melingkar-lingkar. Petugas kesulitan mencatat yang mana nama dan mana pula alamat. Setelah konsultasi sana-sini barulah diketahui. Itu KTP Kamboja. Giliran saya tidak ada masalah.

Antrean kelima juga berjalan lambat tapi menyenangkan,  memilih topi. Gratis dan banyak modelnya. Banyak pula pilihan warnanya. Saya ambil yang warna kuning meski modelnya tidak menarik. Tapi warna kuning itu penting untuk untuk mengamuflase kaus saya yang warna abu-abu gelap.

Saya bisa membayangkan alangkah panasnya Raja Rama X  saat ditandu ke luar dari istana menuju tiga pagoda. Baginda melewati jalan-jalan raya di pusat kota. Salah satunya pagoda dengan patung Budha zamrud. Total perjalanan itu mencapai 7 km. Perjalanan itu berhenti hanya tiga kali di setiap pagoda untuk  sembahyang.  Raja mengenakan pakaian lengkap. Jenis kainnya tebal. Bajunya berlapis. Ia mengenakan mirip topi koboi. Warnanya  gelap agak hitam. Bagian atasnya agak berkerucut.

Masyarakat yang memenuhi pinggir sepanjang jalan sangat puas. Mereka bisa melihat barisan Raja Rama X cukup lama. Langkah barisan ini lambat. Langkah kecil-kecil diiringi musik drumband dengan irama yang juga lambat.

Masyarakat yang menunggu di  satu jalan simpang empat, misalnya. Mereka bisa melihat barisan ini lebih dari lima menit.  Apalagi kalau simpang empat itu berupa bundaran. Durasinya bisa 10 menit. Saya bisa membayangkan betapa bosannya Raja Rama X di atas tandu. Diam. Panas. Ia nyaris tidak bergerak. Tidak ada pendamping yang ditandu. Tidak ada permaisuri. Tidak ada pendamping yang mengipas.

Ia berjalan dari satu pagoda ke pagoda lain bisa lebih satu jam di atas tandu. Posisi kaki tidak bergerak. Tubuh tidak bergerak. Wajah tidak bergerak. Ia menatap lurus ke depan. Ia tidak melambaikan tangan. Ia tidak menyapa siapa saja di sepanjang jalan. Juga tentu tidak bisa membuka WA.

Masyarakat menyemut di sepanjang jalan yang dilewati. Lapisan terdepan duduk bersila. Banyak juga yang bersimpuh dengan sikap hormat pada raja. Dua tangan ditangkup di wajah. Demikian juga beberapa baris di belakangnya. Hanya di simpang-simpang empat barisan masyarakat sampai jauh ke belakang.

Yang berada di bagian belakang itu sikapnya agak rileks. Mereka melambai-lambaikan bendera kecil kuning atau bendera Thailand. Ada juga yang bersorak dan berteriak. Di jalan raya yang dua jalur, pemandangan lebih rapi. Satu jalur untuk barisan Raja. Satu jalur lagi untuk masyarakat.  Semuanya penuh baju kuning. Mereka duduk rapi memanjang.

Barisan raja itu sendiri panjangnya hampir setengah kilometer. Paling depan dua ekor kuda berwarna putih. Kudanya tampak dilatih khusus. Langkahnya sangat pelan. Di samping kuda itu dua orang berbaris. Ini yang membedakan dengan kerajaan di Eropa yang menempatkan kuda lebih penting dan atraktif.

Di belakang kuda inilah berderet peleton khusus kerajaan berbaju merah dengan topi hitam tinggi. Sekilas mirip tentara penjaga kerajaan di Inggris. Di belakangnya lagi peleton-peleton berbagai pasukan dengan pakaian khas kerajaan masing-masing peleton. Peleton music, misalnya, ada dua. Pertama, peleton musik dengan drum band dan terompet. Kedua, peleton musik tradisional dengan gendang.

Peleton pemandu raja sendiri berada di tengah. 12 orang memanggul tandu itu. Pembawa tandu dikelilingi pasukan dengan pakaian dan topi kerajaan.

Begitu langka perjalanan raja dari istana ke pagoda pertama, lalu ke pagoda kedua dan ketiga, lalu kembali ke istana. Mereka memutar pusat kota.

Yang seperti ini pernah terjadi 70 tahun lalu. Tidak ada dokumentasinya pula. Belum ada TV di Thailand saat itu. Sampai batas saya menulis naskah ini kirab belum selesai.  Tidak terasa, waktunya sudah lima jam. Betapa lelah dan panasnya raja. Kalau raja dikirab di dalam tandu model kerajaan Tiongkok kuno, tentu bisa saja ada yang mengipasi karena tidak kelihatan dari luar.

Raja Thailand ini dikirab dengan tandu terbuka. Ia sulit istirahat atau sekadar mengantuk sekalipun. Bayangkan sejak pukul 14:30 sampai pukul 20:30 raja masih di atas tandu. Di tengah udara yang amat menyengat. Barangkali inilah bagian yang paling tidak enak menjadi raja.

Komentar telah ditutup.