Marhaban Presiden Baru

indopos.co.idMomen Ramadan 2019/1440 H memberi makna dan pesan “spesial”. Hadir ketika rakyat Indonesia baru saja menunaikan pesta demokrasi pada 17 April lalu. Memilih presiden dan wakil presiden. Juga anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Ramadan hadir ketika tensi politik masih tinggi. Efek kampanye pilpres berbulan-bulan. Yang hanya diikuti dua pasang calon. Mulai 23 September 2018 hingga 13 April 2019. Sekitar tujuh bulan. Itu resminya.

Usai pencoblosan tak otomatis menurunkan suhu politik. Sebagian masyarakat masih belum move on. Bahkan memanas. Masing-masing kubu mengklaim menang. Kubu sini berpegang pada hitung cepat dari sejumlah lembaga survei. Kubu sana merujuk penghitungan manual internal. Kedua kubu pun sama-sama menggelar acara syukuran. Deklarasi kemenangan. Indonesia pun punya dua presiden. Presiden sini dan presiden sana.

Dugaan kecurangan terjadi di mana-mana. Semakin runyam. Kasus lama masih gelap. Muncul kasus baru. Mulai kasus tercoblosnya surat suara hingga penggelembungan suara.

Suara-suara bernada ketidakpercayaan terhadap penyelenggara pemilu menyeruak. Demo di sana-sini. Terjadi delegitimasi. Sampai Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu merekomendasikan pemungutan suara ulang di banyak tempat. Pansus dan Tim Pencari Fakta kecurangan pun digagas.

Pemilu kali ini memang benar-benar melelahkan. Tidak hanya psikis. Tapi juga fisik. Ratusan petugas pemilu wafat. Diduga kelelahan. Akibat sistem pemilu serentak. Pemilihan presiden dan legislatif jadi satu. Bahkan tidak hanya melelahkan. Tapi juga tidak rasional. Orang gila punya hak suara. Bagaimana mungkin orang dengan gangguan jiwa masih bisa mencoblos? Di mana akal sehatnya?

Mulai Senin. Pada 6 Mei 2019. Umat Islam menjalankan ibadah puasa. Syarat sah puasa salah satunya tidak gila. Karena orang gila tidak dibebani hukum. Malaikat tidak akan mencatat segala amal perbuatannya.

Bulan suci ini diharapkan bisa menjadi obat penurun tensi politik. Ada tradisi bagus di masyarakat. Saling bermaafan jelang puasa. Ini momen rekonsiliasi sosial. Mengembalikan kohesi sosial. Memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula. Mengakhiri perbedaan di masyarakat yang ’’terbelah’’. Memaafkan ucapan dan perbuatan selama masa kampanye.  

Dengan beribadah puasa kita bisa belajar mengendalikan diri. Tidak boleh makan dan minum. Dilarang berhubungan suami istri. Mulai terbit fajar hingga tenggelam matahari. Ini mengajarkan kita. Yang halal saja harus bisa mengendalikan. Apalagi yang dilarang. Seperti mencaci. Menghujat. Fitnah. Dan menyebarkan berita hoaks.

Di bulan suci ini pula kita dilatih menahan diri. Tidak boleh emosi. Marah. Dengki. Sombong. Dan sifat tercela lainnya. Ketika diajak jahat atau curang kita diajarkan untuk mengatakan: “Inni shoimun”. Saya berpuasa.

Intinya pengendalian diri. Sesuai makna puasa. Al imsak. Menahan diri. Itu sebabnya kita harus berhenti makan dan minum ketika sudah masuk waktu imsak. Dan tidak boleh makan dan minum sebelum azan maghrib. Kurang satu menit sekalipun masih tidak boleh. Puasa bisa batal. Itulah aturannya.

Soal pilpres ini pun harus bisa mengendalikan diri. Sabar. Jangan saling klaim kemenangan. Tunggu hasil rekapitulasi suara. Tunggu keputusan resmi Komisi Pemilihan Umum atau KPU. Pada 22 Mei 2019. Itulah aturannya. Harus kita hormati.

Seandainya terjadi kecurangan. Ada aturannya. Ada mekanismenya. Penyelenggara pemilu melanggar etika? Bawa ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu atau DKPP. Ada kecurangan sistematis? Terstruktur? Massif? Adukan ke Mahkamah Konstitusi atau MK. Tidak mau jalur yuridis? Bisa jalur politis. Intinya harus konstitusional. Jangan inkonstitusional. Tindakan di luar konstitusional hanya melahirkan tindakan inkonstitusional. Runyam.

Ramadan mengajak hamba-Nya mendekat ke Tuhan (taqorrub ilallah). Juga menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Merasa selalu diawasi Tuhan. Kapan pun. Di mana pun (muroqobatullah). Selalu bersama Tuhan (ma’iyatullah).

Kita bisa menghindar dari pengawasan manusia. Cari makan dan minum di tempat sepi saat berpuasa. Tapi kita tidak bisa berpaling dari penglihatan Tuhan. Pun dalam pemilu. Kita bisa saja mengurangi timbangan. Menambah dan mengurangi jumlah suara. Atau membuat daftar pemilih tetap atau DPT fiktif. Berkolaborasi jahat. Bermain curang. Tapi itu semua tidak akan pernah luput dari pemantauan Tuhan.

Setelah saling bermaafan di awal puasa. Mari isi Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan zikir. Biar hati tenang. Biar tensi politik turun. Sambil tetap mengawal suara rakyat. Mengamankan form C1.

Jika semua proses sudah dilalui. Presiden dan wakil presiden sudah ditetapkan. Saat itulah benar-benar harus move on. Waktunya rekonsiliasi politik. Elite politik rujuk. Islah. Saling bermaafan. Membuka lembaran baru. Berkolaborasi dan bersinergi membangun bangsa. Menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah. Mengeluarkan rakyat dari berbagai kesulitan ekonomi.

Yang kalah harus legawa. Tapi yang menang tak boleh jumawa. Tuhan sudah mengatur semuanya. Tuhan memberikan dan mencabut kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Dan kita pun hanya mengikuti takdir-Nya. Lalu mengucapkan selamat kepada pemenang pilpres: Marhaban Presiden Baru! Presiden kita semua! Presiden untuk semua! (*)

Komentar telah ditutup.