Opini

Mantra Man Jadda Wajada

Redaktur: Ali Rahman
Mantra Man Jadda Wajada - Opini

oleh Ariyanto, Pemimpin Redaksi INDOPOS dan indopos.co.id

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,’’ Ustaz Salman mengucapkan salam saat memasuki kelas dengan membawa sebilah pedang berkarat dan sebatang pohon berdiameter 6 cm. Dia kemudian meletakkan pedang dan batang pohon itu di meja kayu. ’’Apa kabar?’’ sapa Ustaz Salman yang mengenakan peci, hem biru, dan dasi abu-abu dengan tatapan hangat diiringi untaian senyum. ’’Alhamdulillah baik,’’ murid-murid menjawab serempak.

’’Kalian bisa memanggil saya Ustaz Salman,’’ pinta Ustaz Salman Ali setelah menuliskan namanya dengan huruf Arab di papan tulis menggunakan kapur tulis.

Ustaz Salman mendekat ke meja. ’’Ssrriiingg….’’ Bunyi pedang itu ketika dikeluarkan dari sarungnya.

Dengan sekuat tenaga, Ustaz di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur, itu berusaha memotongnya di depan para muridnya. Sekali tebas, dua kali tebas, tiga kali tebas, batang itu belum patah juga. Napasnya ngos-ngosan. Keringat mengucur deras.

Namun, Ustaz itu terus menebas-nebaskan pedangnya tiada henti. Makin lama makin cepat dan kuat tebasannya. Dan, setelah tebasan kedelapan belas, batang itu baru terbelah dua. ’’Hah, hah, hahhh…’’ napasnya ngos-ngosan usai menebas batang pohon.

Ustaz Salman kemudian berdiri, masih dengan napas tersengal, seperti saat mendaki di Arcopodo, Semeru, pada malam hari dengan kadar oksigen tipis. ’’Ingat! Bukan yang paling tajam. Tapi yang paling bersungguh-sungguh. Man jadda wajada. Man jadda wajada. Man jadda wajada. Man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil,’’ pesan Ustaz Salman sembari melangkahkan kaki ke tengah-tengah muridnya.

Seorang muridnya menirukan, ’’Man jadda wajada.’’

’’Man jadda wajada,’’ Ustaz Salman mengulanginya lagi.

Kali ini dengan suara lebih lantang dan tegas. Murid-murid lainnya kemudian mengikuti. ’’Man jadda wajada,’’ Ustaz Salman kembali mengulangi kalimatnya dan diikuti murid-murid lainnya.

Kalimat itu terus diulang sembari tangannya memegang batang kayu dan sebilah pedang. Makin lama makin keras. Suara bergemuruh. Seisi kelas serasa berguncang.

Ini adalah salah satu adegan di film Negeri Lima Menara yang ditayangkan pada 1 Maret 2012. Film ini diadaptasi dari novel laris karya A Fuadi dengan judul sama. Mengisahkan enam santri yang mengejar mimpi. Para ’’Sahibul Menara’’ ini menatap awan dan bercita-cita untuk ke luar negeri.

Alif melihat benua Amerika di awan. Raja menata Eropa, Atang menggambar Afrika. Dulmajid dan Said melihat Indonesia. Sedang Baso, Asia. Man Jadda Wajada. Kesungguhan itu akhirnya mengantarkan mereka kepada impian.

Man jadda wajada ini filsafat hidup. Berlaku bagi siapa saja. Agama apa saja. Dari latar belakang mana saja. Siapa pun yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. ’’Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka.’’ (QS Ar Ra’du: 11).

Menurut aliran Qodariyah, Tuhan itu apa kata kita. Tuhan tidak pernah mengintervensi tindakan manusia. Tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Dia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri.

Manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya. Orang menjadi miskin, kaya, bodoh, pandai, gagal, sukses, dan sebagainya itu akibat perbuatannya sendiri. Manusia tidak tunduk pada qadar Tuhan.

Di dalam hadis Qudsi disebutkan bahwa, ’’Aku ini apa kata hamba-Ku.’’ (Ana dzonnu abdi bi). If you think can you can. Kalau dia yakin bisa, maka dia akan bisa.

Perubahan itu harus diawali dari diri kita sendiri. Nabi Muhammad bersabda: ’’Awalilah dari dirimu sendiri.’’ (Ibda’ binnafsik).

Kalau Mahatma Gandhi mengatakan, ’’You must be the change you want to see in the world.’’ Kau sendiri mesti menjadi perubahan seperti yang kau inginkan terjadi dalam dunia. Perubahan mesti diawali dari diri sendiri. Bukan dari dunia luar.

Tapi bagi aliran Jabariyah (Fatalism), segala perbuatan kita merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan qadha’ dan qadar Tuhan. Orang menjadi miskin, kaya, bodoh, pandai, gagal, sukses, dan sebagainya itu bukan akibat perbuatannya sendiri, melainkan kehendak Tuhan.

’’Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS Ash-Shafaat: 96).

’’Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah’’. (QS Al-Insan: 30).

Selain dalil naqli (dari Alquran dan Hadis), Jabbariyah juga mendasarkan pada dalil aqli (akal) bahwa makhluk (yang diciptakan) tidak boleh mempunyai sifat sama dengan sifat Kholiq (Pencipta). Kalau itu terjadi, berarti menyamakan Tuhan dengan makhluknya. Mana paling benar?

Baik Qodariyah maupun Jabbariyah sama-sama benar. Keduanya sama-sama mendasarkan kepada dalil naqli maupun aqli.

Kalau ingin sukses, maka ikhtiar (strategi usaha)-nya harus tepat dan sungguh-sungguh. Al ijtihaadu asaasun najaah. Kesungguhan adalah pangkal keberhasilan. Untuk merawat spirit ’’man jadda wajada’’ itu, kita harus senantiasa berdoa kepada Tuhan, karena pada akhirnya Tuhan yang menentukan, meski Tuhan juga melihat kesungguh-sungguhan manusia.

Doa ini juga menghindarkan diri kita dari sifat takabur. Sombong. Seolah-olah semua apa yang kita peroleh dari tangan kita sendiri, padahal itu adalah atas kehendak Tuhan. Tuhan yang punya kehendak supaya hati dan pikiran kita mau berubah. Tuhan pula yang punya kehendak supaya kita konsisten merawat mimpi.

Jadi, kuncinya memang doa, ikhtiar, dan tawakkal. Setelah kita berdoa, berikhtiar secara maksimal, usaha 24 karat dengan strategi yang tepat, maka hasil akhirnya kita serahkan kepada Tuhan (tawakkal). Fa idza azamta fatawakkal alallah. (*)

TAGS

Berita Terkait

Opini / Manusia Zaman Now

Opini / Menemukan Tuhan yang Hilang

Opini / Marhaban Presiden Baru

Opini / Banjir pun Menuntut Keadilan

Opini / Kartini, Islam dan Spirit Perubahan 


Baca Juga !.